elsaonline.com

Voice of the voiceless

Dua Dasawarsa Gerakan Lintas Agama: Catatan dari Kota Semarang

3 min read

Keterangan Gambar: Doa untuk pembangunan GBI Tlogosari oleh semua perwakilan agama dan para hadirin acara Selamatan Kebangsaan [Foto: Sidik]

Oleh: Tedi Kholiludin

Ada perubahan yang terjadi dalam misi, model maupun strategi gerakan masyarakat sipil khususnya pada isu multikulturalisme dan pluralisme di Kota Semarang. Kesimpulan ini saya ambil setelah melakukan pengamatan sekaligus pelibatan diri pada kurun waktu sekitar dua dasawarsa (2001-2021). Sependek yang dicermati dan diingat, perubahan tersebut terjadi karena banyak faktor; urbanisasi, industrialisasi, mobilitas penduduk, kebijakan publik, tren berbusana dan lainnya.

Catatan atas pergeseran-pergeseran tersebut saya ringkas, setidaknya, pada tiga ranah. Pertama, perubahan pada aspek fokus dan tujuan gerakan. Kedua, sebagai konsekuensi dari poin pertama, maka ada perbedaan pada sebaran aktor. Ketiga, transformasi pada bingkai gerakan.

Sebelum masuk pada elaborasi tentang tiga domain diatas, perlu dipahami bahwa konteks masyarakat yang dijadikan sebagai telaah, akan menentukan hasil dan kesimpulannya. Kota Semarang merupakan lanskap yang menarik ditilik dari relasinya dengan dinamika kekerasan dan perdamaian. Kota ini belum punya pengalaman konflik besar, tapi juga bukan kota yang tak memiliki riwayat gegeran sama sekali. Situasi “di tengah” ini tentu akan memengaruhi motivasi, langgam serta strategi bertahan elemen yang ada didalamnya.

Dari Pengetahuan ke Pengalaman
Di awal tahun tahun 2000-an, minat untuk melakukan perjumpaan diantara kelompok yang berbeda dilatari atas dasar pengetahuan. Keinginan untuk melakukan percakapan dengan kelompok yang berbeda agama menyeruak dan menjadi salah satu penanda aktivisme di masa itu.

Situasi nasional punya pengaruh. KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang kala itu menjadi presiden, memberi preseden tentang pentingnya menerima dan mengakui serta hidup dalam perbedaan. Organisasi atau individu yang terafiliasi secara ideologis maupun struktural dengan Gus Dur, langsung membangun aliansi-aliansi di level lokal ini.

Baca Juga  Penyiaran Agama dan Ketertiban Ruang Publik

Salah satu “materi kaderisasi” yang dikenalkan oleh senior-senior di pergerakan adalah mengajak anggota barunya untuk bersua dengan kelompok yang memiliki keyakinan keagamaan berbeda. Pada satu momen, seorang senior di pergerakan mengajak saya yang kala itu baru masuk perguruan tinggi dan beberapa orang teman mengikuti kegiatan diskusi yang dihelat di sebuah gereja.

Tujuannya adalah menambah wawasan dan pengetahuan. Pengenalan untuk motif kognitif menjadi alasan mengapa ada perjumpaan diantara kelompok yang berbeda tersebut. Ada keinginan untuk menambah amunisi pengetahuan tentang yang lain.

Seiring berjalannya waktu, ada perkembangan dan perluasan tujuan dari mereka yang terlibat dalam aktivisme ini. Dorongan akan sisi kognisi, tidak lantas menjadi latar belakang satu-satunya. Keterlibatan aktor dalam spektrum ini, tak lagi atas dasar pengetahuan, tapi semata-mata karena hendak memperkaya pengalaman. Bahwa kemudian ada pengetahuan yang didapat pada perjalanannya, itu mungkin semacam konsekuensi. Fondasi utamanya tetap pada sisi pengalaman.

Aktor yang Menyebar
Dari sisi sebaran aktor, karena dialog lintas agama tak lagi menjadi isu yang spesifik berkutat pada masalah agama atau teologi belaka, keterlibatan aktor didalamnya menjadi semakin luas. Tak hanya akademisi tetapi juga mereka yang biasa bekerja di sektor bisnis, jurnalis, profesional dan lainnya.

Percakapan menjadi lebih luas, sebagai kelanjutan dari aktor yang terlibat dalam pergumulan tersebut. Gerakan ini kemudian menjadi magnet bagi banyak kalangan, yang menjadi investasi untuk terciptanya rasa kepemilikan yang lebih besar.

Betapapun ada banyak aktor dari beragam latar belakang, namun visi besar untuk menjaga keragaman masih tetap terjaga. Tentu saja ada perbedaan-perbedaan kecil dalam strategi gerakan dari aktor-aktor ini, tetapi secara umum, tidak ada yang berubah dalam orientasi gerakan.

Baca Juga  Gus Solah: Terima Kasih eLSA

Bingkai Gerakan: Problem Kemanusiaan
Yang kentara berubah adalah bingkai dan ruh untuk membangun gerakan. Jika pada awalnya latar aktivisme adalah kepedulian pada masalah-masalah yang bersifat sektoral (etnis atau agama), tidak demikian halnya di satu dasawarsa terakhir (2011-2021).

Problem dalam konteks hubungan antar umat beragama memang masih menjadi tema pergumulan, tetapi tidak lantas menjadi satu-satunya fokus. Problem kemanusiaan yang lebih luas juga direspon serius.

Masalah-masalah seperti korupsi, kecelakaan dan kebencanaan, perampasaan hak atas tanah serta masalah-masalah lainnya, juga menjadi bagian dari isu gerakan yang digumuli. Bingkainya, kemudian mengalami perluasan, dari problem keagamaan menjadi masalah kemanusiaan universal.

***

Kehadiran Persaudaran Lintas Agama (Pelita) menjadi pembeda di lima tahun terakhir (2016-2021). Lahir dari situasi yang bersifat kuratif dan rehabilitatif (penolakan Buka Puasa Bersama Ibu Sinta Nuriyah di Gereja Katolik Ungaran), jejaring ini menjadi moderator untuk individu atau lembaga-lembaga yang ada di sekitaran Kota Semarang. Kelompok ini memiliki struktur yang berbeda dengan institusi yang dihubungkannya, karena bukan lembaga formal yang berbadan hukum. Ia murni sebagai konektor atau penghubung satu individu dengan individu atau lembaga lain.

Sejauh ini jejaring ini berperan optimal, meski tentu saja, tidak selalu tujuan akhirnya tidak selalu sesuai dengan ekspektasi. Dalam konteks Gerakan di Kota Semarang, cara ini, dirasakan efektif, yang dalam kurun yang sama, belum tentu berdampak sama di lokus yang berbeda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *