Ming. Okt 25th, 2020

elsaonline.com

Voice of the voiceless

Indahnya Tarian Jiwa Lintas Iman

3 min read

Foto: Dokumentasi Aloys Purnomo

Foto: Dokumentasi  Aloys Purnomo
Foto: Dokumentasi Aloys Purnomo

[Semarang-elsaonline.com] Cuaca cerah, langit biru dan awan seputih kapas membuat Minggu (18/10) siang nampak indah. Di bawah patung jumbo Santa Maria Assumpta Gua Maria Kerep Ambarawa, pertunjukan tari sufi itu begitu mesra dengan alunan suara saxophone yang ditiup Romo Aloys Budi Purnomo. Sang penari, Ilham, pun terus berputar menarikan tarian yang dipopulerkan sufi asal Turki, Jalaluddin Rumi. Sontak, tamu undangan dan tokoh berbagai agama serta Muspika Ambarawa beserta jajarannya, termasuk pula unsur FKUB Kabupaten Semarang pun dibuat takjub.

Pelataran Patung setinggi 42 meter itu pun semarak penuh kebersamaan. Ratusan peserta Temu Kebatinan (Tebat) ke-28, para peziarah dan sejumlah warga masyarakat amat antusias berbaur menikmati sajian selebrasi lintas iman. Sekian menit kemudian, tepuk tangan membahana, ditujukan kepada santri Pondok Pesantren Al Islah Meteseh, Tembalang, Kota Semarang, yang diasuh oleh Amin Budi Harjono itu dan Romo Budi.

Ketika di atas panggung, iringan musik gambus terus mengiringi setiap gerak langkah. Ilham dan Romo Budi pun terlihat begitu memasrahkan diri, melebur dengan karakter yang sedang ia bawakan. Atraksi seni dan budaya yang ditampilkan lintas generasi itu seperti sedang ‘berdoa’. Ya, tariannya adalah ekspresi jiwa santri dan romo yang berkomunikasi lewat gerakan dan pesan yang ingin disampaikan.

Tarian sufi atau dikenal juga tarian Rumi ini memang sangat khas. Para penari seolah sedang menghadap pada Sang Pencipta. Setelah menempati posisi masing-masing, mereka berputar-putar searah jarum jam. Gerakan ini dinilai symbol alam semesta yang selalu berputar mengelilingi garis edar masing-masing. Dengan kostum bagian bawah yang mengembang lebar, maka seiring putaran itu kostum pun turut serta mengembang dan berputar.

Baca Juga  60 Persen dari 112 Siswa Haramkan Selamat Natal

Adapun tangan kanan menghadap ke atas diakui sebagai symbol menerima karunia Allah dan tangan kiri menghadap ke bawah yang bermakna hendaknya manusia memberikan cinta kasih kepada sesama. “Maka yang istimewa dari kegiatan ini, kita bisa meningkatkan persatuan dan kesatuan bangsa. Kami di sini bisa berkumpul meski dari berbagai macam latar belakang agama maupun sosial,” tutur Romo Budi.

Oleh sebab itu, lulusan Seminari Menengah St. Petrus Kanisius, Mertoyudan, Magelang, berharap, Temu Kebatinan XXVIII dan Gelar Budaya Lintas Iman dalam bingkai syukur atas Lima Puluh Tahun Nostra Aetate ini menjadi salah satu tahap untuk kian terbuka mewartakan harmoni kehidupan. “Semoga gerakan ini menjadi kabar gembira bagi semua orang di mana saja dalam mewujudkan kerukunan, persatuan dan damai-sejahtera di antara kita,” lanjut dia.

Menurut Romo Budi, pentas budaya yang menampilkan sejumlah komunitas dari seluruh agama ini diselenggarakan untuk mengampanyekan perdamaian dan toleransi antarumat beragama. Diceritakan, gelar budaya lintas iman juga disemarakkan Barongsai dan Liong Genta Suci Ambarawa, Brascong Ajenrem 073 Salatiga. Selain itu, katanya, Himpunan Mahasiswa Budhis Indonesia dalam Paduan Suara dan Puisi ‘Kita Bersama Meski Berbeda’ dan ‘Menghadirkan Cinta Agar Semua Makhluk Berbahagia’. “Mereka menyanyi sambil memberikan bunga mawar kepada sejumlah hadirin,” bebernya.

Tak ketinggalan, drama Kain dan Gabel dari Sanggar Anak ‘Pasbolo’ Paseduluran Bocah Losari Paroki Bedono, Perhimpunan Pemuda Hindu dengan Tarian Sisia dan Penampilan Gamelan Bali turut meramaikan. Bahkan ada sanggar anak Pelangi Bedono dan atraksi whusu. “Meski panas matahari menyengat tak memadamkan semangat yang terlibat,” pungkas Ketua Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang. [elsa-ol/Munif-@MunifBams/003]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *