Kisah Pramuria di Sebuah Sudut Kehidupan (2)

[Semarang –elsaonline.com] Tiba di lokalisasi Sunan Kuning, kami mendatangan salah satu pramuria yang sedang menunggu di depan rumah. Pembicaraan pun dimulai. Kami mencoba bertanya berapa biasanya harga untuk satu kamar? Ternyata untuk satu kali ngamar biasanya antara 120 hingga 200 ribu. Lama perbincangan akhirnya kami berterus terang kalau hanya untuk wawancara.

Setelah kami berterus terang apa maksud kami, ternyata wanita asal timur pantura Jawa Tengah, tersebut memberi tarif perjam meskipun hanya untuk wawancara. Ia meminta 15 menit wawancara dengan bayaran 130 ribu. Kenapa demikian, Ia beralasan jika dibandingkan dengan orang yang ngamar juga harganya kurang lebih sebesar yang ditawarkan. Bahkan ada juga yang membayar 130 ribu namun hanya kuat 10 menit.

Disini para penghibur malam memang sangat profesional dalam hal waktu. Mereka enggan di wawancarai karena memakan waktu untuk tamu-tamunya yang lain. Kami yang hanya membawa uang 100 ribu hanya bisa diam. Karena memang kami sama sekali tidak mengetahui bagaimana sistem yanng ada di lokalisasi.

“Kalau mau wawancara silahakan tidak apa-apa, asalkan tarifnya sama dengan orang yang ngamar mas. Biasanya paling lama orang yang paling kuat itu 20 menit. Nah kalau kamu mau 20 menit bayar 130 untuk wawancara silahkan”tawar Siska (bukan nama sebenarnya).

Karena memang uang kami tidak mencukupi, akhirnya kami mencoba pindah tempat. Berkali-kali memutari gang yang ada di SK. Sampai kemudian kami temukan perempuan yang sedang merenung sendiri. Pelan, kami mulai mendekati perempuan itu. Untuk kali ini kami tanpa basa-basi berterus terang bahwa kami akan wawancara. Kami mau membayar tapi dengan uang 50 ribu dengan waktu 30 menit.

Baca Juga  Temu Kangen Komunitas Pondok Damai

Jawabana dari wanita tersebut mengejutkan. Ternyata perempuan yang mengaku sudah berumur 35 tahun itu tidak mau kami wawancarai. Karena ia disana bukan untuk dibayar tanpa bekerja. Ia menolak untuk diwawancarai karena alasan kasihan dengan kami. Menurut dia, jika dia tanpa bekerja memang tidak mau untuk mendapatkan uang. Bekerja menurut mereka ya melayani tamu-tamu yang datang untuk memuaskan hawa nafsu.

Kami mencoba merayu perempuan tersebut agar mau kami wawancarai, tapi hasilnya nihil. Bahkan perempuan itu mencoba mengusir kami. Ketika kami bertanya apakah ibu juga melaksankan sholat, karena ia kebetulan beragama Islam? Ia menjawab memang dia melaksanakan sholat 5 waktu. Di tempat mereka mangkal, ada ruangan untuk sholat dan alat sholat tersedia lengkap. Lebih kaget lagi, nampak berlinang air matanya ketika kami bertanya apakah ada rencana kembali kerumah dan keluar dari kehidupan malam? Bukan menjawab, Tasya (bukan nama sebenarnya) malah menangis.

“Saya tidak mau diwawancarai mas, kasihan kalian keluar uang tidak ngapa-ngaapain. Saya disini untuk bekerja mas. sholat 5 waktu juga saya jalankan dan saya sering berdoa agar saya bisa keluar dari kehidupan malam ini. Saya juga akan pulang kalau dirasa uang sudah cukup untuk membiayai anak sekolah nanti,” papar Tasya.

Kami pun merasa terharu dan akhirnya kami bergegas pergi dari tempat tersebut. Karena kami merasa belum lengkap data yang diambil akhirnya kami juga melanjutkan wawancara kami. [elsa-ol/Ceprudin-KA/@Ceprudin&@khoirulanwar_88]

spot_imgspot_img

Subscribe

Artikel Terkait

Perlindungan Pembela HAM di Era Digital: Catatan untuk Revisi UU HAM

Oleh: Tedi Kholiludin Kementerian Hak Asasi Manusia (Kemenham) telah meluncurkan...

Dekolonisasi HAM: Transformasi Kultural dan Mobilisasi Politik

Salah satu kritik terhadap penegakan hukum Hak Asasi Manusia...

Dinamika Dunia Sastra di Indonesia

Secara umum (terminologi), sastra dapat dimaknai sebagai bentuk karya...

Tidak Ada Ruang Publik Gratis dan Demokratis

Oleh: Alfian Ihsan Dosen Sosiologi Universitas Jenderal Soedirman   Apakah Anda selalu...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini