Penghayat Kepercayaan Lebih Emansipatoris

Dalam beberapa agama, terutama agama “yang diakui” pemerintah, perempuan kerap kali mendapat perlakuan berbeda dibanding laki-laki. Perempuan terkekang dan menjadi subordinasi dalam kehidupan.

Perlakuan yang berbeda terhadap perempuan ini tidak terjadi dalam agama lokal atau biasa disebut dengan penghayat kepercayaan. Menurut Hendira Ayudia Sorentia (35), aktivis perempuan penghayat Semarang, perempuan dalam ajaran penghayat kepercayaan memiliki hak yang sama sebagaimana laki-laki. Dalam beribadah perempuan tidak diperlakukan secara berbeda, baik berkaitan dengan tata cara berpakaian dalam beribadah maupun bentuk ritualnya. “Menurut saya, penghayat kepercayaan lebih besar dalam memberikan penghormatan kepada perempuan,” tuturnya.

Pernyataan wanita yang akrab disapa Ayu itu berdasarkan pada pengalaman pribadinya yang sudah pernah memeluk dua agama, yaitu Islam dan penghayat kepercayaan. Sejak lahir hingga usia 21 tahun Ayu memeluk Islam, setelah itu hingga sekarang Ayu memilih menjadi penghayat kepercayaan. Dengan mempelajari ajaran-ajaran agama, Ayu menyimpulkan bahwa emansipasi laki-laki dan perempuan yang benar-benar nyata hanya ada di penghayat kepercayaan.

Ayu melakukan konversi ke penghayat kepercayaan, karena menurut dirinya kebijaksanaan-kebijaksanaan dalam penghayat kepercayaan lebih besar. Sejak kecil hingga usia 21 tahun Ayu sering membaca al-Quran, tapi ia tidak bisa memahaminya karena menggunakan bahasa Arab. Sehingga baginya al-Quran hanya sebatas dibaca, tidak dapat dipahami maknanya untuk kemudian dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. “Sebelum saya masuk penghayat saya membaca al-Quran, tapi membaca hanya sebatas membaca, bukan dalam arti menghayati, bahkan saya khatam al-Quran kelas lima SD,” paparnya.

Bagi Ayu, anggapan masyarakat terhadap penghayat kepercayaan sebagai komunitas yang primitif dan anti modernitas itu keliru, karena penghayat kepercayaan memiliki aturan hidup yang fleksibel, dapat berdialog dengan semua keadaan. Ayu menampik anggapan sebagian orang yang berpandangan bahwa pakaian perempuan penghayat kerap kali porno. Menurut Ayu, yang porno adalah pikiran orang yang melihatnya. Ayu mencontohkan, pakaian yang menjadi khas perempuan penghayat yang sudah menikah, yaitu kebaya kutu baru yang di bagian dadanya terbuka dan terdapat kancing di atas potongan kain yang menutupi payudara. Pakaian model seperti ini bukan porno, tapi memiliki fungsi baik, yaitu memudahkan perempuan ketika hendak menyusui anaknya. Makanya rata-rata yang mengenakan kebaya kutu baru perempuan yang sudah menikah, sedangkan kebaya perempuan yang belum menikah memiliki model bagian dada tertutup.

Baca Juga  Petisi Masyarakat Sipil, Jaringan Antar-Iman seIndonesia Untuk Perwujudan Papua Tanah Damai

“Kenapa kalau sudah menikah menggunakan kutu baru, atau kebaya yang kancingnya di atas payudara, tujuannya biar kalau menyusui mudah, tinggal membuka saja. Masalah laki-laki yang melihat dan itu menjadi berpikiran porno, itu kan pikirannya orang yang melihat. Kalau sebenarnya, ukuran bajunya itu sudah fungsional sekali, kalau anaknya nangis tinggal dikeluarkan saja payudaranya,” jelas Ayu.

Aturan hidup dalam penghayat kepercayaan bertujuan untuk menjadi manusia yang merdeka, yakni manusia yang hanya menggantungkan dirinya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, bukan kepada sesama manusia. Dengan dasar seperti ini penghayat kepercayaan tidak membeda-bedakan jenis kelamin. “Saya percaya bahwa orang yang sudah merdeka lahir batin, merdeka di sini bukan berarti bebas atau dalam Bahasa Inggris free, tapi independent, tidak bergantung kepada siapapun, hanya menggantungkan diri kepada gusti,” pungkasnya. [elsa-ol/KA)

spot_imgspot_img

Subscribe

Artikel Terkait

Tidak Ada Ruang Publik Gratis dan Demokratis

Oleh: Alfian Ihsan Dosen Sosiologi Universitas Jenderal Soedirman   Apakah Anda selalu...

Hukum Lingkungan Internasional

Angin tidak punya KTP, sehingga kalau pencemaran udara terjadi...

Onderdistrict Tjilimoes

Buku ini berangkat dari pertanyaan sederhana, bagaimana perubahan yang...

Yaumul Quds: Politik Simbol dan Emosi Kolektif dalam Solidaritas Palestina

Oleh: Tedi Kholiludin Jarum jam belum genap menunjuk pukul 14.00...

EN (?): Konsep Ikatan Tak Terlihat dalam Budaya Jepang

Oleh : Iwan Madari (Pemerhati Kebudayaan Jepang) elsaonline.com Dalam hidup,...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini