Pondok Damai sebagai Horison Kemungkinan

Oleh: Tedi Kholiludin

Apakah persepsi seseorang terhadap orang lain akan berubah dalam perjumpaan selama tiga hari dua malam? Apakah dialog secara langsung dalam waktu yang terbatas itu akan serta merta mengubah pikiran seseorang dari yang awalnya eksklusif misalnya menjadi terbuka?

Pertanyaan-pertanyaan itu kerap dilontarkan oleh beberapa peneliti ketika hendak melihat dampak yang ditimbulkan dari sebuah aktivitas tahunan pemuda lintas agama di Semarang bernama Pondok Damai. Kegiatan ini digagas oleh Pendeta Rony Chandra Kristanto pada awal 2007. Ia ketika itu menjadi pengurus di Komisi Sosio-Religi-Kultural (SRK) Gereja Isa Almasih Pringgading Semarang. Tahun berikutnya ia melibatkan saya dan Lukas Awi Kristanto seorang Pemuda Katolik, untuk meluaskan jejaring peserta agar lebih variatif dari sisi latar belakang agama. Secara rutin kegiatan Pondok Damai dilaksanakan tiap tahunnya. Meski lebih sering dilaksanakan di Kota Semarang, tapi untuk beberapa kesempatan, kegiatan pernah dihelat di Kabupaten Semarang, Salatiga dan lainnya. Sejak 2018, Persaudaraan Lintas Agama (Pelita) yang dipandegani oleh Setyawan Budy, melanjutkan kegiatan ini dengan persiapan serta pelaksanaan yang lebih sistematis.

Secara singkat, Pondok Damai adalah kegiatan pemuda dari berbagai latar belakang agama (pernah ada peserta dari negara lain), menginap di satu tempat (biasanya mengambil salah satu ruangan yang berdekatan dengan rumah ibadah), berbagi cerita personal, mengunjungi tempat-tempat ibadah, dan menjalani keseharian bersama dalam waktu yang singkat namun padat. Karena bukan pelatihan, panitia tidak menyediakan kurikulum. Juga tidak secara eksplist disematkan target perubahan sikap yang dirumuskan secara kuantitatif. Pondok Damai justru bekerja pada level yang lebih senyap dengan mempertemukan manusia dengan manusia lain.

Basis utama kegiatan ini adalah cerita pengalaman personal semua peserta. Narasi personal itu bertumpu pada tiga tema utama. Pertama, cerita tentang bagaimana seseorang menjadi bagian dari agama yang kini ia anut. Di titik ini, identitas keagamaan tidak diperlakukan sebagai sesuatu yang final dan mapan, melainkan sebagai sebuah perjalanan. Ada yang menjadi Penghayat, Muslim, Kristen, Katolik, Hindu, Konghucu atau Buddha karena turun temurun; ada pula yang melalui proses konversi; ada yang karena menikah; ada pula yang sampai pada agama tertentu melalui pencarian yang panjang dan berliku.

Baca Juga  Merias Wajah Keberagamaan Kita

Pengalaman konversi sendiri hadir dalam ragam yang sangat variatif. Tidak selalu melalui perenungan teologis yang berat atau pergulatan eksistensial yang dramatis. Kadang justru berangkat dari hal-hal yang tampak sepele dan sangat manusiawi: membaca satu buku yang “nyangkut”, tertarik pada kisah tertentu, merasa diterima dalam sebuah komunitas, atau bahkan pengalaman visual yang sederhana. Dalam Pondok Damai, cerita tentang menjadi Katolik karena terkesan melihat romo bule saat misa, atau tertarik pada Hindu karena sejak kecil larut dalam kisah Ramayana dan Mahabharata, tidak ditertawakan atau dihakimi. Ia diterima sebagai bagian dari kejujuran pengalaman iman seseorang.

Tema kedua adalah cerita tentang pengalaman yang tidak mengenakkan saat berjumpa dengan mereka yang berbeda agama. Di ruang ini, peserta berbagi luka: pernah dicurigai, diolok-olok, distereotipkan, ditolak dalam pergaulan, bahkan mengalami kekerasan simbolik maupun verbal atas nama identitas agama. Kisah-kisah ini sering kali disampaikan dengan nada tertahan, kadang emosional, dan nyaris selalu disertai kesadaran bahwa pengalaman pahit itu membentuk cara pandang mereka hari ini. Pondok Damai tidak memaksa peserta untuk “memaafkan” atau “melupakan”, tetapi menyediakan ruang agar pengalaman itu diucapkan dan didengar. Di sini, tidak ada ruang klarifikasi, dan membiarkan cerita itu menjadi arsip hidupnya. Sesekali, peserta yang berlatar Kristen misalnya kerap memulai cerita dengan permohonan “maaf” karena apa yang disampaikannya itu berkaitan dengan pengalaman yang ia terima dari seorang Muslim. Fasilitator meyakinkan, bahwa tidak perlu sungkan untuk bercerita apa yang sejatinya terjadi.

Tema ketiga adalah cerita tentang pengalaman yang justru menyenangkan dan menghangatkan dalam perjumpaan lintas agama. Kisah tentang tetangga berbeda iman yang menolong di saat sulit, sahabat lintas agama yang menjaga saat ibadah, atau pertemanan yang membuat seseorang merasa aman menjadi dirinya sendiri. Seorang Hindu bercerita tentang kesannya yang luar biasa pada penganut Katolik setelah ia ditolong seorang suster ketika ia sempat tidak sadarkan diri karena sakit. Cerita-cerita semacam ini kerap menjadi penyeimbang, sekaligus pengingat bahwa relasi antaragama tidak selalu ditandai oleh konflik, meski konflik sering lebih keras terdengar.

Baca Juga  Isu-isu dalam Konflik Bernuansa Agama

Ketiga tema ini; tentang menjadi, terluka, dan mengalami kehangatan, membuat Pondok Damai bukan sekadar ruang dialog pada awalnya, melainkan ruang pengakuan. Identitas keagamaan hadir bukan sebagai doktrin yang dipertahankan, tetapi sebagai pengalaman hidup yang diceritakan. Di sinilah perjumpaan selama tiga hari dua malam itu bekerja: bukan mengubah keyakinan, tetapi menggeser cara seseorang memandang keyakinan orang lain, dari sesuatu yang abstrak menjadi pengalaman yang personal dan manusiawi. Karena pengalaman personal itu tidak bisa diinterupsi, maka ia hadir sebagai otoritas atas dirinya sendiri; tidak untuk dibantah, tapi didengarkan.

Dalam tiga hari tersebut, secara formal tidak ada waktu yang disedikana oleh panitia untuk berdebat, klarifikasi doktrin, atau upaya saling meyakinkan. Panitia menyediakan ruang aman untuk menceritakan pengalaman hidup; tentang keluarga, iman, kegamangan, ketakutan, dan harapan, yang muungkin selama ini jarang mendapatkan tempat dalam perjumpaan antaragama yang formal.

Kembali ke pertanyaan awal, apakah tiga hari dua malam itu mengubah persepsi seseorang terhadap orang lain? Pertanyaan ini memang tidak pernah dijawab secara definitif dalam Pondok Damai. Saya dan mungkin juga teman-teman panitia tidak pernah melakukan survei yang komprehensif sebelum dan sesudah kegiatan, tidak menyusun indikator perubahan sikap, apalagi mengukur sejauh mana seseorang menjadi “lebih terbuka” atau “kurang eksklusif”. Dengan kata lain, Pondok Damai tidak dirancang untuk menghasilkan jawaban yang tertutup dan final atas pertanyaan tersebut.

Namun, barangkali justru di situlah letak maknanya. Mendapatkan kesan menjadi tujuan utamanya, betapapun perubahan perspektif juga menjadi sasaran. Tiga hari itu tidak serta-merta menggeser keyakinan, tetapi memberi nutrisi baru bagi cara berpikir dan cara merasakan. Bagi sebagian peserta, nutrisi itu mungkin hadir sebagai cerita yang terus teringat; bagi yang lain, sebagai wajah, suara, atau pengalaman kecil yang mengendap pelan-pelan. Endapan inilah yang sering kali berupa pertanyaan-pertanyaan baru atau pertanyaan lama yang kembali muncul dengan nada yang berbeda.

Baca Juga  Belajar Sejarah Melalui Ziarah: Tentang Tradisi Oral sebagai Sejarah

Pondok Damai, dengan demikian, tidak bekerja pada level hasil yang bisa segera disimpulkan, melainkan pada horison kemungkinan. Ia membuka ruang agar perjumpaan lintas agama tidak berhenti pada slogan, tetapi berjejak dalam pengalaman hidup yang dibagikan dan didengarkan. Apakah itu akan mengubah persepsi seseorang hari ini, besok, atau bertahun-tahun kemudian, biarlah waktu dan kehidupan sehari-hari yang menjawabnya. Pondok Damai hanya menyediakan satu hal yang mendasar: pengalaman berjumpa, pengalaman berbagi, pengalaman mendengar, serta kesan-kesan yang mungkin akan membekas.

spot_imgspot_img

Subscribe

Artikel Terkait

Keluarga Besar ELSA Gelar Ziarah ke Dua Tokoh Besar Semarang

Yayasan Pemberdayaan Komunitas ELSA menggelar kegiatan ziarah ke...

Pengurus ELSA Gelar Rapat Perdana 2026, Fokus Lanjutkan Tradisi Akademik

Pengurus Yayasan Pemberdayaan Komunitas (YPK) ELSA menggelar rapat...

Bukan Penumpukan, Tapi Kecukupan: Refleksi Natal 2025

Oleh: Tedi Kholiludin Pada setiap kebahagiaan yang kita nikmati, selain...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini