Semua Manusia adalah Khalifah

1
279
KH. Abu Hapsin, Ph.D

KH. Abu Hapsin, Ph.D
KH. Abu Hapsin, Ph.D
[Semarang –elsaonline.com] Semua umat manusia, sebagai anak cucu adam, baik yang beragama Islam, Kristen, Katolik dan ateis itu adalah khalifah atau vicegerent. Ungkapan tersebut disampaikan oleh Abu Hapsin, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, baru-baru ini. Abu menegaskan bahwa fungsi khalifah itu berarti bahwa manusia menjadi wakil Tuhan di muka bumi.

Khalifah ini, sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an, memiliki tiga fungsi dalam memelihara bumi; Isti’marul ardh (meramaikan bumi), fasaadun fil ardh (mencegah kerusakan di bumi) dan Isfakud dima’ (mencegah pertumpahan darah). “Kerusakan bumi itu termasuk diantaranya korupsi dan sebagainya,” tambah Abu yang juga menjadi staf pengajar di Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang.

Fungsi sebagai khalifah dibebankan kepada seluruh manusia, siapapun dia tanpa memandang latar belakang agama, etnis, suku, bangsa dan lainnya. “Tidak hanya umat Islam saja. Semuanya harus melaksanakan tugas ini. Ini pesan universal (universal message), amanat Tuhan,” Abu memaparkan. Tiga amanat ini adalah pesan universal kepada manusia tanpa membedakan latarnya.

Cuma, Abu menegaskan, dalam melaksanakan amanat ini, sebenarnya dalam al-Qur’an ini jelas sekali. Bagi masing-masing umat, dijadikan tata cara yang berbeda untuk menjalankan pesan universal. “Lewat Musa, ada jalan sendiri, lewat Abraham, caranya sendiri. Meski caranya berbeda, tetapi fungsi khalifahnya sama saja,” kata pria kelahiran Kuningan, Jawa Barat tersebut.

Lalu terhadap perbedaan cara untuk menerjemahkan hal ini, al-Qur’an kemudian menyebut Fastabiqul khoirat, silahkan berlomba-lombalah dalam kebaikan. “Jadi manusia itu sebenarnya sama, sebagai khilafah. Dan sehingga, ketika menyebut yang berbeda agama itu, mestinya bukan “mereka,” tetapi “kita.” Kita ada dalam penderitaan yang sama, atau common suffering,” ujar Abu. [elsa-ol/TKh-@tedikholiludin]

1 COMMENT

  1. Itu benar juga tapi ada hadits yang berbicara tentang Khalifatur Rasul, misalnya Khulafaur Rashidin, mereka adalah penerus Rasulullah SAW. Mereka beriman dan dibesarkan dalam zaman Rasulullah SAW dan mendapat didikan langsung dari beliau SAW, tentu mereka lebih paham daripada kita yang lahir dihilir sungai. Tentu saja air yang dihulu sungai lebih jernih daripada yang dihilir. Pemikiran mereka dan pemahaman mereka jauh lebih jernih daripada kita. Lebih dari itu, Allah juga menjanjikan sebentuk Khilafah dimuka bumi yang bekerja untuk menyebarkan amanah Islam (Lihat surah An Nur ayat 55). Nampaknya hilir sungai kita bukan saja sudah tidak jernih melainkan juga telah semakin dangkal. Masalahnya sekarang, manusia mereka memiliki hak untuk mengangkat dirinya Khalifah atau menunjuk/memilih seseorang untuk menjadi Khalifah senentara Allah jelas-jelas di dalam Surah An Nur itu menjanjikan Kekhalifahan hanya untuk mereka yang beriman dan beramal shaleh. Bila umat Islam di era sekarang ini kekosongan KHilafah, obatnya bukanlah mendangkalkan makna Khilafah melainkan introspeksi diri. Bisa jadi kekosongan itu akibat iman dan amal shaleh kita tidak mencapai taraf yang dapat menghasilkan Khilafah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here