
Koordinasi aksi, Cahyo mengatakan aksi damai ini untuk menunjukkan bahwa Jawa Tengah merupakan provinsi yang menerima keberagaman.
“long march dimulai Hotel Pandanaran menuju Taman Pandanaran, sekaligus mengajak masyarakat Jawa Tengah dalam mewujudkan Jateng Inklusi,” tuturnya.
Aksi simpatik ini, tambah Cahyo, merupakan bentuk partisipasi masyarakat sebagai upaya dalam merawat perdamaian dan hidup keberagaman di Jawa Tengah. Selain dilakukan aksi simpatik, sebelumnya telah menggelar dialog lintas iman bertemakan “Menuju Jawa Tengah Inklusi” yang digelar Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Semarang di Hotel Pandanaran, Jl. Pandanaran No. 58, Jawa Tengah.
“Aksi damai ini upaya kami sebagai masyarakat Jawa Tengah untuk berpartisipasi dalam merawat perdamaian dalam hidup keberagaman di Jawa Tengah,” ucapnya sembari menunjukan atribut bertuliskan #JatengInklusi.
Sementara itu, Aulia Fahma, Mahasiswi UIN Walisongo Semarang yang tergabung dalam aksi simpatik ini menyampaikan bahwa aksi ini disamping sebagai bentuk simpati untuk mewujudkan Jateng Inklusi juga merupakan harapan agar segenap masyarakat Jawa Tengah tetap menjaga dan merawat hidup damai dalam keberagaman.
“Aksi ini sebagai upaya untuk mewujudkan Jateng Inklusi. Selain itu juga kami berharap agar masyarakat Jawa Tengah tetap menjaga dan merawat hidup damai dalam keberagaman,” jelasnya. [elsa-ol/cahyono-@cahyonoanantatoer/003]

