elsaonline.com

Voice of the voiceless

Moh. Rosyid: Tali Akrap Wadah Pemersatu Umat

2 min read

20160130_181905[Kudus, elsaonline.com]- Ada banyak problem kerukunan antar umat beragama di Kabupaten Kudus. Salah satunya ketidakharmonisan antara umat Buddhis dengan umat Islam di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus.

Hal itu disampaikan Ketua Komunitas Lintas Agama dan Kepercayaan Pantura (Tali Akrap) Moh. Rosyid dalam sambutan acara pembukaan kemah lintas agama untuk pemuda dan pemudi se-kabupaten Kudus di Desa Karangrowo, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Sabtu (30/1/15) malam.

Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus itu menuturkan, relasi sosial yang kurang baik harus menjadi pekerjaan rumah (PR) bersama untuk merukunkannya kembali.

“Setiap ada hajatan umat Buddhis dilarang mengundang tetangganya yang muslim. Begitu juga yang muslim tidak boleh mengundang umat Buddhis. Setiap orang muslim ada hajatan, orang Buddhis tidak diundang,” katanya.

Selain itu, sambung Rosyid, disharmoni antar umat beragama juga terjadi di Desa Kutuk Kecamataan Undaan. “Hari ini ada masalah, yaitu pemakaman di Desa Kutuk. Yang awalnya sudah aman, nyaman, hanya beberapa oknum ingin memisahkan antara makam muslim dan Buddhis yang selama ini sudah menyatu dengan dalih penuh, ingin membuat makam sendiri,” tambahnya.

Karenanya, sebagai upaya merukunkan antar pemeluk agama, organisasi lintas agama Tali Akrap yang dibentuk Rosyid dan pegiat lintas iman lainnya diharapkan menjadi wadah yang dapat menyatukan umat.

“Hari ini dan sepuluh tahun ke depan tidak sama. Saya khawatir, jika tidak diantisipasi hari ini, yang minoritas selalu tersia-sia. Mari kita mengakrabkan di Tali Akrap. Tali Akrap tidak punya dana, Tali Akrap tidak punya senjata, tapi kita punya semangat ingin menyatukan perbedaan. Kami sadar bahwa kita dilahirkan ke dunia ini tidak pernah pesan kepada Tuhan, saya sebagai Islam, Romo Suparno sebagai Buddha. Biarlah itu berbeda. Perbedaan adalah karya Tuhan, karya ilahi,” pungkasnya. [elsa-ol/KA-@khoirulanwar_88]

Baca Juga  Pasal Penistaan Agama Perlu Ditinjau Ulang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *