elsaonline.com

Voice of the voiceless

Babad Zending di Tegal: Dari Vrede, Laban hingga Vermeer

2 min read

Vermeer dan Stoove beserta para pembantu pekabaran dari Jawa. [Foto: Lion, 1896]

Oleh: Tedi Kholiludin

Kekristenan di Tegal perlu mencatat dengan baik dua nama penting ini; Johanes Vrede (sumber lain menulis Verde) dan Laban. Keduanya adalah siswa “Sekolah Alkitab” yang dikelola FWL Anthing di Batavia. Mengingat mereka berasal dari Jawa Tengah, maka keduanya diutus untuk melakukan pekabaran Injil di Tegal. Anthing yang sangat memperhatikan pekabaran bagi masyarakat pribumi, menganggap penting menempatkan murid-muridnya agar bisa mentransformasikan Injil kepada orang-orang Jawa oleh orang Jawa sendiri.

Vrede dan Laban dikirim ke Tegal sebagai hasil diskusi antara Anthing dan Adriaan Anton Maximiliaan Nicolaas (AAMN) Keuchenius (1825-1894) yang menjabat sebagai Residen Tegal. Kedua petinggi pemerintah tersebut tergabung di lembaga pekabaran Injil yang didirikan oleh awam, GIUZ (Genootschap voor In-en Uitwendige Zending) bersama E.W. King dan Izak Esser pada 1851 di Batavia. Lembaga ini fokus pada pelayanan bagi masyarakat pribumi dan meyakini bahwa dua penginjil tersebut mampu menata jalan untuk ladang yang lebih luas di kota pesisir utara Jawa Tengah tersebut.

Pada 6 Mei 1859 berdirilah Nederlandsche Gereformeerde Zendingsvereeniging (NGZV) di Amsterdam, Belanda. NGZV berbadan hukum pada 19 Oktober 1859. Sebagai zending tradisional atau konfesional yang berporos pada ajaran Calvinisme, lembaga ini juga turut berkarya di Hindia Belanda. Lalu, terjadilah percakapan antara GIUZ dan NGZV ihwal wilayah mana yang cocok sebagai tempat pekabaran. Anthing lalu mengusulkan kepada NGZV agar Tegal, kota Pelabuhan terbesar ketiga di Pantai Utara, sebagai tempat mereka berkarya untuk kali pertama.

GIUZ juga menginformasikan kepada NGZV bahwa di Tegal, sudah ada dua penginjil pribumi yang telah membuka lahan dan meminta NGZV agar menanggung seluruh kebutuhan keduanya. Tidak ada catatan yang menunjukkan bagaimana karya Vrede dan Laban; apakah ada orang yang sudah dibaptis ataukah belum ada baptisan. Wolterbeek hanya menceritakan bahwa sudah ada kelompok orang-orang Jawa yang bersedia menerima pengajaran.

Baca Juga  RUU PKS sebagai Peraturan Pidana Khusus

Cerita tentang Kekristenan di Tegal berlanjut Ketika NGZV mengutus seorang penginjil bernama Aart Vermeer (1828-1891). Setelah ditahbiskan pada 23 Desember 1861 di Harleem (Belanda), Vermeer tiba di Batavia pada 12 April 1862, lalu melanjutkan perjalanan hingga tiba di Tegal 14 Juni 1862. Vermeer yang ketika itu berusia 34 tahun kemudian berkarya secara legal di Kresidenan Tegal mulai 1 November 1862.

Ketika sampai di Batavia, Vermeer mendapatkan informasi kalau Johannes Vrede tak bisa menemaninya melakukan pekabaran di Tegal. Sebagai gantinya, Anthing mengutus Hebron Lelie, yang juga guru injil pribumi untuk menemani Vermeer dan juga Laban. Bersama Hebron Lelie, Vermeer melakukan perjalanan dari Batavia ke Tegal. Vermeer menyewa sebuah rumah berasitektur Jawa dan melakukan usahanya dengan penuh riang gembira. (Lion, 1896)

Bantuan dari Laban dan Lelie serta dukungan penuh dari Residen Keuchenius memudahkan upaya Vermeer. Laban yang fasih mewartakan Injil dengan Bahasa Jawa, telah membuka ruang yang pada setiap pertemuannya, dihadiri kurang lebih 30-40 orang Jawa. Kenyataan ini yang menebalkan optimisme, bahwa di tempat ini akan segera lahir jemaat Kristen Jawa. Jalan yang disediakan oleh Keuchenius juga cukup lapang. Sebagai pemerintah, ia sama sekali tidak menghambat laju pekabaran Vermeer. Bahkan, menurut Keuchenius, Tegal adalah “heerlijk veld” atau ladang yang subur bagi pekerjaan misionaris. Tak perlu diragukan, bahwa akan ada hasil yang sangat menguntungkan di kota itu. [Bersambung]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *