Melanjutkan Komitmen untuk Bekerjasama

[Banten -elsaonline.com] Yayasan Pemberdayaan Komunitas ELSA (selanjutnya ditulis Yayasan ELSA) melanjutkan kerjasamanya dengan 12 lembaga mitra pada program penanggulangan HIV/AIDS untuk periode Juli-Desember 2022. Kerjasama ini dilakukan sebagai langkah kolaboratif agar semakin banyak kasus diungkap dan mereka segera bisa melakukan pengobatan.

Komitmen untuk kerja bersama ini dilakukan berbarengan dengan evaluasi dan koordinasi antara Yayasan ELSA dan 12 mitranya dengan Yayasan Spiritia selaku pengelola program di tingkat nasional. Kegiatan ini sendiri dilaksanakan di Hotel Santika ICE Bumi Serpong Damai, Banten, Rabu-Sabtu (15-18 Juni 2022).

Sejak 2021, Yayasan ELSA turut terlibat dalam penanggulangan HIV/AIDS di 7 provinsi; Jawa Tengah, (Sebagian) Jawa Timur, Bali, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat. Adapun 12 lembaga mitra tersebut adalah; Yayasan Kalandara, Yayasan Mitra Alam, Fatayat Nahdlatul Ulama Jawa Tengah, Muslimat Nahdlatul Ulama Jawa Tengah, Yayasan SPEKHAM, Yayasan Pelangi Maluku, Yayasan Gaya Dewata, Forum Komunikasi Peduli Batang, Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia Kota Semarang, Yayasan Tekad, Wonosobo Youth Centre dan Redline Indonesia.

Berbeda halnya dengan 12 lembaga mitranya, ELSA sendiri terhitung sebagai organisasi masyarakat sipil yang baru ikut andil bagian dalam program ini. Karenanya, momen evaluasi dan koordinasi sekaligus dimanfaatkan oleh Yayasan ELSA untuk menimba ilmu serta pengalaman kepada para mitranya tersebut.

Sebut saja Yayasan Pelangi Maluku (YPM). Lembaga yang berkantor di Kawasan Amahusu, Nusaniwe Kota Ambon ini punya kekhasan. Di bawah naungan YPM ada klinik kesehatan yang menyediakan layanan untuk melakukan tes HIV. Tidak banyak organisasi pada level masyarakat yang memiliki asilitas ini. Klinik Candela, begitu nama yang disematkan pada layanan tersebut, memudahkan lembaga ini menjangkau populasi yang ingin terjaga konfidensialitasnya.

Baca Juga  21 Tahun Marsinah: Penguasa Masih Tunduk Pada Pemodal

Suka duka sebagai pegiat kemanusiaan juga dirasakan oleh lembaga yang dipimpin oleh Rossa Pentury ini. Pada 3 Mei 2021, kantor lama YPM di wilayah Kudamati, Ambon ludes dilahap si jago merah. Seluruh arsip dan benda-benda berharga milik lembaga nyaris tak bisa diselamatkan. Betapapun demikian, api tak mampu memadamkan semangat para relawan untuk terus menebar manfaat bagi sesama.

Tak hanya dalam isu kesehatan, lembaga ini pun bergiat dalam masalah sosial-kemanusiaan lainnya seperti mitigasi kebencanaan dan lain sebagainya. [TKh]

spot_imgspot_img

Subscribe

Artikel Terkait

Politik Penundaan dan Tata Kelola Kebebasan Beragama

Oleh: Tedi Kholiludin Kasus terkatung-katungnya pembangunan Gereja Beth-El Tabernakel (GBT)...

Kepenyintasan Kultural: Peran Komunitas Membentuk Kota

Kota tidak lahir dari rancangan semata, melainkan tumbuh dari...

Pola Lama Mekanisme Sama

Oleh: Tedi Kholiludin Dua peristiwa tak mengenakkan yang berkaitan dengan...

Perlindungan Pembela HAM di Era Digital: Catatan untuk Revisi UU HAM

Oleh: Tedi Kholiludin Kementerian Hak Asasi Manusia (Kemenham) telah meluncurkan...

Dekolonisasi HAM: Transformasi Kultural dan Mobilisasi Politik

Salah satu kritik terhadap penegakan hukum Hak Asasi Manusia...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini