Berbincang Dengan Mualaf “Berani Mati” (II)

0
181
[Foto: http://www.sinarharapan.co/]

[Foto: http://www.sinarharapan.co/]
[Foto: http://www.sinarharapan.co/]
Oleh: Khoirul Anwar

“Akhi, akhi tinggal di mana?” tanyaku.

“Ana di pesantren ini akhi (menyebut nama salah satu pesantren di Kota Semarang, red),” jawab mualaf yang mengagumi tindakan ISIS itu.

“Apakah orangtua antum sudah tahu kalau antum pindah agama?,” tanyaku.

“Sudah tahu. Awalnya saudara-saudaraku menolak akhi, tapi lama kelamaan dengan orangtua juga biasa,” jawabnya.

“Orangtua dan saudara antum kan Kristen, bagaimana antum memandangnya?,” tanyaku.

“Aku tidak mencintai orangtua akhi, karena yang ana cintai hanya Allah dan rasul-Nya. Memang sih dalam sunnah, Rasulullah Saw. menjelaskan ketika ditanya sahabatnya, siapa yang harus dihormati, terus rasul menjawab: ibumu, ibumu, ibumu, sampai tiga kali, terus baru ayah. Jadi kalau ana mencintai Allah dan utusannya, maka ana sudah pasti mencintai orangtua, tapi kecintaan ana tetap hanya kepada Allah dan rasul-Nya,” jelasnya.

“Ini kan hari Natal, apa akhi tidak berkumpul dengan keluarga yang sedang merayakan Natal?” tanyaku.

“Tidak akhi. Islam melarang seorang muslim mengucapkan selamat natal, apalagi berkumpul dengan mereka. Kalau ana mengucapkan selamat Natal kepada orangtua berarti ana membenarkan kekafiran orangtua ana. Ana sudah tidak betah di rumah, ana mau menikah biar tidak berkumpul dengan orangtua lagi, nanti ana bisa memperdalam Islam dan bisa berdakwah terus,” jelasnya.

“Orangtua antum tinggal di mana?” tanyaku, memotong pembicaraan.

“Di Semarang, di perumahan ini (menyebut salahsatu alamat perumahan di Kota Semarang, red). Ayah ana menikah 4 kali, ana lahir dari istrinya yang kedua. Ibu ana tinggal di luar Jawa. Jadi di rumah ada ayah dan ibu tiri. Nanti ana mau menikah, mau mencari perempuan yang bisa diajak berjuang,” katanya.

“Berjuang seperti apa yang antum maksud?” tanyaku.

“Memperjuangkan Islam supaya syariat Allah tegak di atas bumi akhi. Sistem negara kita yang demokrasi kan kafir. Akhi tahu kan gubernur yang melecehkan al-Quran? (Saya menggelengkan kepala, memberi isyarat ‘tidak tahu’). Akhi tidak tahu? Yang benar saja, akhi masuk Islam kapan?” katanya.

Saya mengangguk, meralat isyarat sebelumnya supaya anak muda yang merindukan jihad ini melanjutkan pembicaraannya.

“Begini akhi, kalau hukum Allah ditegakkan, itu gubernur sudah dipenggal lehernya. Makanya ana sih mengikuti perintah dari kakak angkat ana, kemaren tidak ikut ke Jakarta, karena aksi ‘Bela Islam’ yang dilakukan sebenarnya bukan jihad. Kalau jihad ya harusnya seperti diperintahkan al-Quran, kita berperang melawan orang-orang kafir. Yang menista al-Quran harus dihukum mati. Jokowi itu sudah murtad itu, melindungi orang kafir, dan banyak melakukan konspirasi,” paparnya.

“Akhi, berarti jihad, berjuang yang ingin antum lakukan seperti teroris-teroris itu?” tanyaku, menegaskan.

“Orang-orang banyak yang mencaci maki teroris, padahal teroris itu berjuang di jalan Allah. Amal mereka tidak terputus meski mati. Ini berbeda dengan muslim yang mati bukan dalam jihad, amalnya terputus. Rasulullah pernah bersabda: Islam itu datang asing, dan nanti akan kembali juga asing. Maksudnya, jihad sekarang menjadi cercaan, padahal itu baik di sisi Allah. Ini yang dikatakan Rasulullah ‘asing’. Seperti akhwat yang bercadar. Sekarang perempuan-perempuan banyak yang tidak bercadar, padahal itu syariat Allah. Jadi perempuan yang bercadar itu di sisi Allah sangat mulia, dan ini asing. Kita harus berjuang akhi, karena kita ini sudah dikepung Yahudi. Jadi harus berjuang sungguh-sungguh untuk menegakkan syariat Allah,” jelasnya.

“Antum punya rencana jihad kapan?” tanyaku.

“Nanti pada waktunya ana akan melakukannya, ana ingin mati di jalan Allah,” jawabnya.

***
Di atas bagian dari penggalan perbincangan saya dengan anak muda kelahiran 1992 yang masuk Islam setengah tahun lalu pada 25 Desember 2016. Ada banyak hal yang saya pahami:

Pertama; dia tidak banyak menerima informasi tentang ajaran-ajaran Islam. Pun dengan agama lamanya, dia tidak banyak mengerti tentang ilmu agama. Sikap orangtuanya yang tidak memperhatikan anak dalam beragama salah satunya menjadi faktor dia bebas menerima informasi tanpa ada arahan dan bimbingan yang jelas.

Kedua; fanatismenya dalam memahami “potongan-potongan” (tafsir) ajaran agama dan pendapat gurunya (meski dia tidak mengakui adanya murobbi, karena menurutnya “yang menuntun hidupannya” adalah Allah, bukan manusia) menjadikan dia tertutup dan tidak mau tahu terhadap pendapat lain dan keberagaman tafsir.

Ketiga; klaim mendapatkan kebenaran yang terlalu dini. Baginya apa yang sekarang ia jalani dan pahami adalah kebenaran tunggal yang harus disampaikan kepada orang lain yang berbeda. Karenanya, “dakwah” (ajakan kepada orang lain) baginya harus dilakukan tanpa melihat siapa orang yang didakwahi. Selama orang di matanya dianggap “lain” dari pandangan keislamannya, maka dia harus didakwahi karena dianggap melenceng.

Tentu ada banyak hal lain yang bisa dipahami dari orang-orang yang siap mati demi tegaknya “syariat Allah (dalam pemahamannya)” semacam seorang mualaf ini. Selain membuktikan bahwa seorang (calon) teroris tidak mesti memiliki jaringan, juga penyebaran paham radikal baik di internet maupun di buku-buku telah nyata pengaruhnya dalam membentuk paham keagamaan anak bangsa ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here