eLSA 9 Tahun, Lahirkan Banyak “Anak”

10296571_10201309894704376_9004541377554340333_nOleh: Abdus Salam

Tahun 2012 merupakan tahun pertama saya bisa ikut bergabung dan menyumbangkan ide kreatif di Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA). Meskipun ‘diperbantukan’ di desk yang tidak terlalu penting (desain grafis, red), namun sangat berguna dan bermanfaat untuk bisa menetaskan ‘telur-telur’ kreatif yang lama ‘tercengkram’.

eLSA yang memang konsen dalam isu-isu sosial dan keagamaan dan itu menjadi jiwa atau roh yang bisa menghidupkan eLSA. Walaupun status hukum eLSA memang lembaga swadaya masyarakat (LSM), namun ke depan eLSA akan mampu melahirkan perusahaan-perusahaan sesuai kegiatan eLSA yang selama ini berjalan. Seperti perusahaan media, penerbitan, event organizer bahkan lainnya.

Perusahaan-perusahaan itu meskipun sekarang sudah seperti “bayi yang sedang berlari”, pasti lama-kelamaan akan bisa menjadi “pelari maraton” sungguhan. Semua sumber daya sudah ada, hanya menunggu keseriusan dan waktu untuk menjadikan eLSA menjadi top dalam perusahaan, tanpa menghilangkan ‘jiwa atau roh’ eLSA. Ibaratnya eLSA adalah seorang ibu yang mempunyai anak banyak dengan konsen yang bermacam-macam. Bahkan tidak dipungkiri, eLSA bakalan melahirkan Pondok Pesantren (Ponpes).

‘Sekali merangkuh dayung, 2 3 pulau terlampaui.’ Peribahasa tersebut sangat pas untuk para eLSAwan dan eLSAwati yang berkecimpung dalam kegiatan eLSA. Selain ilmu dan material yang didapat, bahkan amal baik buat bekal di akhiratpun bisa didapat. Kenapa amal baik ini bisa didapat? Karena banyak kegiatan ‘sosial’ yang dikerjakan dan bermanfaat, dengan tanpa ‘amunisi’ alias jihad.

Kata ‘jihad’ ini muncul dari senior eLSA yang kini sudah purnabakti dari jabatan layouternya. Siapa lagi kalau bukan Rouf Al Ghazali yang mengaku sebagai ‘idola’ para perempuan. Kata ‘idola’ yang keluar dari mulutnya itu tentu hanya imajinasi liar tanpa ada kebuktian yang nyata.

Baca Juga  Nahdlatul Arabiyyah Semarang: Jejak Keturunan Arab yang Terlupakan

Bagi saya, eLSA itu luar biasa hebatnya, bukan karena orang-orangnya yang kaya, tampan atau cantik, melainkan pemikiran, ide dan perjuangan punggawa-punggawa eLSA yang tidak pernah berhenti memberikan ‘suntikan’ apa saja sampai eLSA bisa seperti ini.

Bisa menjadi bagian dari eLSA bukan membuat saya bangga. Kebanggaan yang saya dapat adalah bisa ikut merumati eLSA meskipun hanya secuil ‘suntikan’ yang diberikan. Malah banyak ‘suntikan’ yang diberikan eLSA kepada saya. Bangga itu bukan duduk di kursi dengan jabatan bos, menteri bahkan Raja sekalipun, tapi bangga adalah perjuangan, perjalanan yang dilalui untuk menjadi/menuju yang diinginkan dan bermanfaat bagi semua kalangan tanpa memandang suku, ras dan agama meskipun itu kecil sekalipun.

Diumurnya yang ke 9, eLSA ibaratkan angka adalah top, tertinggi dan sempurna. Semoga di ulang tahunya yang ke 9 eLSA bisa menjadi apa yang eLSA perjuangkan selama ini, mampu menelurkan karya-karya yang kreatif dan bermanfaat.

Bukan Sekedar Ngisi Perut
“Wes mangan, duwe duit opo ora” (sudah makan, punya uang tidak”). Ya, kata-kata itulah yang sering dilontarkan Direktur eLSA seumur hidup, Tedi Kholiludin, yang setia ‘ngrumati’ eLSA dan penghuni-penghuni kantor eLSA.

Kata-kata itu sengaja dikeluarkan sebagai candaan atau keluar dari lubuk hati yang paling luar, saya kurang begitu tahu. Namun kata-kata itu sangat menyentuh, meskipun pertanyaan itu terlontar disaat kondisi saya “wes mangan karo duwe duit” (sudah makan dan punya uang), tapi kadang kata-kata itu sesuai dengan keadaan yang mengharuskan saya untuk menjawab “urung, ora duwe” (belum, tidak punya).

Itulah salah satu bukti Tedi yang berjiwa ‘ngrumati’. Hidup di eLSA itu bukan sekedar mendapatkan atau mencari makan nasi, untuk mengisi perut yang sedang berontak karena kelaparan, tapi wajib ‘makan’ ide, ilmu dan uang. ‘Makan’ ide, ilmu untuk mengisi otak untuk lebih kreatif dan ‘makan’ uang mengisi dompet yang juga ikut berontak.

Baca Juga  Islam di Indonesia dan Pesona Kebudayaannya

eLSA itu gudang dari segala gudang yang akan terus berkembang dan tumbuh tanpa henti. Dengan umur yang bertambah, eLSA akan menjadi “sahabat” buat semua kalangan di kota Semarang bahkan Jawa Tengah, meskipun sekarang masih banyak orang yang bertanya eLSA itu apa? Kedepan, akan terbalik ‘siapa yang bertanya apa itu eLSA?’

spot_imgspot_img

Subscribe

Artikel Terkait

Tidak Ada Ruang Publik Gratis dan Demokratis

Oleh: Alfian Ihsan Dosen Sosiologi Universitas Jenderal Soedirman   Apakah Anda selalu...

Hukum Lingkungan Internasional

Angin tidak punya KTP, sehingga kalau pencemaran udara terjadi...

Onderdistrict Tjilimoes

Buku ini berangkat dari pertanyaan sederhana, bagaimana perubahan yang...

Yaumul Quds: Politik Simbol dan Emosi Kolektif dalam Solidaritas Palestina

Oleh: Tedi Kholiludin Jarum jam belum genap menunjuk pukul 14.00...

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini