Alfian Ihsan
Dosen Sosiologi FISIP Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto
Masih hangat dalam ingatan kita tentang sekelompok pekerja migran Indonesia yang mengokupasi ruang publik di Jepang dengan aktivitas latihan seni bela diri. Mereka dengan sangat percaya diri melakukan latihan bersama di ruang publik, dengan mengenakan seragam perguruan. Kelompok pendekar ini juga tidak segan mempraktekkan gerakan silat saat sedang berada di transportasi umum untuk diunggah di media sosial.
Aktivitas tersebut mengundang kritik dari warganet Indonesia dan mendapat kecaman dari warga asli Jepang. Tidak sekali itu ekspresi lokalitas warga Indonesia memancing kontroversi di negara lain. Misal, pernah viral tentang sekelompok jamaah umrah yang menyanyikan lagu Ya Lal Wathan saat melakukan ibadah Sa’i. Kemudian tentang kebiasaan mayoritas BAB warga Indonesia yang jongkok, meski di toilet duduk. Adapula lokalitas yang pernah ditemui penulis saat menjadi pekerja migran di Jeddah, yaitu dua orang pemuda asal madura melakukan carok untuk memperebutkan seorang gadis.
Itu adalah sebuah ekspresi lokalitas yang melintasi tapal batas negara, sebuah konsekuensi dari mobilitas global. Hal ini mengingatkan pada konsep “Global Village” atau Kampung Global yang dicetuskan oleh Marshal McLuhan (1962) untuk dunia yang semakin terhubung akibat arus komunikasi dan media. Namun, berbagai peristiwa di atas lebih berkaitan dengan lintas batas geografis. Perilaku yang dianggap lazim di sebuah tempat bisa menjadi tidak lazim apabila dilakukan di tempat lain, apalagi negara yang berbeda.
Arjun Appadurai, seorang sosiolog berdarah India yang menempuh karir akademik di New York mempunyai penjelasan lebih memadai untuk beragam fenomena tersebut. Appadurai (1996) memperkenalkan konsep “scapes” sebagai sebuah aliran arus globalisasi. Salah satu aliran dalam globalisasi adalah arus perpindahan manusia dari satu tempat ke tempat lain. Perpindahan ini tidak hanya membawa tubuh jasmani individu tapi juga membawa serta karakter etnisitas seperti nilai, norma, dan praktek budaya. Oleh karena itu, konsep ini disebut dengan “Ethnoscapes”.
Ethnoscapes menjelaskan bahwa lokalitas tidak terbatas pada sebuah ikatan dengan area teritorial. Lebih dari itu, lokalitas bisa mengikuti perpindahan manusia selama dia masih menjaga keterikatan dengan kampung halaman. Sejumlah orang yang berpindah ke sebuah teritorial yang baru berpotensi untuk mengubah suasana teritori tersebut. Dalam jangka panjang bahkan bisa mengubah struktur sosial lokal.
Hal ini pernah dialami penulis saat tinggal di Distrik Sharafiyyah, Jeddah Arab Saudi. Distrik ini banyak dihuni oleh pekerja migran Indonesia yang berasal dari berbagai daerah dengan pekerjaan yang berbeda. Kesamaan selera makan memunculkan ide bagi beberapa orang untuk membuka toko yang menjual aneka makanan khas Indonesia. Paling utama tentu menjual jenis beras yang biasa dimakan orang Indonesia, adapula sambal, aneka bumbu yang diimpor dari Indonesia, dan tidak lupa rokok pabrikan Indonesia yang didapat dari jalur distribusi gelap.
Jika Anda mengunjungi distrik Sharafiyyah, lazim terdengar percakapan dalam bahasa Indonesia. Bahkan dalam skala yang lebih lokal, ada percakapan dalam bahasa etnis Sunda, Jawa, atau Madura di Sharafiyyah. Karena kebetulan pekerja migran Indonesia di Arab Saudi didominasi oleh tiga etnis ini. Selain toko, dijumpai pula Masjid Indonesia Jeddah (MIJ) yang setiap sore berperan sebagai Taman Pendidikan Al-Qur’an alias TPQ. MIJ merupakan bangunan lama berlantai empat tanpa eskalator, hanya ada anak tangga, yang disewa sebagai tempat untuk merawat ingatan akan kampung halaman.
Mengajari anak-anak mengaji dengan metode yang lazim digunakan di Indonesia dan melaksanakan sholat Jum’at dengan khotbah bahasa Indonesia adalah salah satu cara untuk tetap terhubung dengan kampung halaman. Tentu akan lebih mudah menjumpai pria mengenakan sarung, baju lengan panjang, dan peci hitam di masjid ini. Bukan pria berjenggot mengenakan surban dan jubah menjuntai hingga mata kaki atau akrab disebut dengan Thoub. Tidak jarang, selepas sholat Jum’at atau pada momen hari besar Islam diadakan makan bersama dengan menu makanan Indonesia. Purna sudah praktek Ethnoscapes pada komunitas pekerja migran Indonesia di Distrik Sharafiyyah.
Praktek Ethnoscapes di Distrik Sharafiyyah juga memunculkan struktur sosial baru yang sangat lokal. Sebagaimana struktur organisasi islam di Indonesia, MIJ memiliki beberapa orang yang dianggap paling otoritatif dalam bidang agama Islam. Kemudian ada beberapa lelaki paruh baya sebagai pendukung roda kegiatan masjid, dan sekelompok perempuan yang bertugas khusus menyelenggarakan TPQ. Terakhir, pada lapisan paling bawah adalah pekerja migran lain yang rutin menjadi jamaah masjid sekaligus sukarelawan dalam aneka kegiatan.
Appadurai juga memberikan kemungkinan proses rekonstruksi dalam membangun lokalitas. Proses ini melibatkan negosiasi dengan nilai dan aturan setempat sehingga menghindari benturan budaya. Misal, sangat lazim di Indonesia mengadakan pengajian umum di halaman masjid bahkan hingga menggunakan sebagian jalan. Namun aturan Arab Saudi tidak memperbolehkan aktivitas semacam itu. Maka sebagai solusi, pengajian umum diadakan di aula lantai empat MIJ. Bentuk MIJ juga tidak sebagaimana masjid pada umumnya, karena yang digunakan untuk ibadah sholat adalah ruangan di lantai dua yang lebih seperti ruang keluarga dan ruang tamu dengan sekat terbuka.
Proses rekonstruksi semacam ini juga perlu dilakukan oleh setiap komunitas yang mendiami tempat baru. Alih-alih melakukan okupasi ruang publik seperti para pendekar Indonesia yang ada di Jepang, tapi mereka harus menyesuaikan dengan aturan dan nilai lokal setempat. Kecuali jika mereka memang mau beradu jurus dengan pasukan shinobi ninja yang dipimpin oleh Naruto atau para Yakuza bengis dengan badan penuh tato.

