Jelajah Sejarah dan Upaya Menghidupi Kota Semarang

0
86
Peserta Jelajah Sejarah Semarang sedang mendengarkan kisah dan riwayat beberapa candi. [Foto: Cahyono]

Oleh: Cahyono

Jelajah sejarah Semarang, menghantarkan saya menuju suatu perjalanan hidup di Kota (Metropolitan) yang menambah gairah pengetahuan dan spiritual. Menghidupi kota tempat di mana kita bermukim, adalah salah satu alternatif upaya meneladaninya. Minggu, 6 Oktober 2019, hari yang menghantarkan saya ke beberapa situs-situs (kuno) suci peninggalan Hindu Buddha di beberapa titik Kota serta Kabupaten Semarang. Saya perlu berterimakasih kepada Mas Yas, dan juga Gus Rukardi yang telah menjembatani pengalaman luar biasa ini melalui fasilitas kegiatan jelajah sejarah yang dikemas dengan apik, sederhana dan asyik. Situs-situs kuno kami kunjungi; ada Makam Ki Ageng Pandanaran I di jalan Mugas No. 6, Mugassari, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang, Makam Sukolilo di Pedurungan, Candi Subuh di Kawasan Candisari, Candi Ngempon Bergas Ungaran, Candi Trisobo, Situs Watu Tugu.

Acara yang digagas kali pertama, bagi saya merupakan gagasan penting yang barangkali tidak banyak ditemukan pada daerah-daerah lain di Jawa Tengah. Meski Rukardi, salah seorang yang turut menggagas (di tengah minimnya peminat kajian sejarah periode kelasik) acara jelajah sejarah ini, sempat membayangkan minat peserta terbatas. Di hari H, asumsinya meleset. Peminat yang hadir melampaui kuota yang difasilitasi. Menurut keterangnya, panitia hanya menyediakan kuota untuk 50 orang pertama yang mendaftar.

Rukardi menambahkan, peserta yang hadir atas dorongan motif yang berbeda. Ada yang sekedar mengisi waktu luang, penasaran dengan tema yang ditawarkan, tujuan spiritual, hingga untuk melengkapi riset yang tengah mereka lakukan. “Ada dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta yang datang bersama rombongan perupa professional serta seorang peneliti dari Boyolali yang sedang menulis buku mengenai era peralihan Hindu-Buddha ke masa Islam di Jawa”, dikutip dari akun facebooknya, Rukardi Achmadi.

Saya yang dibersamai oleh puluhan peserta dari beragam kota dan usia, mulai dari seniman, fotografer, mahasiswa, peneliti dari beragam konsentrasi studi. Saya pun sempat menghela nafas dalam-dalam, menyadari bahwa untuk mencintai sejarah tak selalu didasari minat studi sejarah. Ada banyak hal yang menjadi alasan orang mencintai sejarah, dan kesadaran untuk menghidupi kota dimana ia tinggal adalah diantara alasan (untuk mencintai sejarah) itu. Mengenal dan mempelajari bangunan-bangunan kuno, mengingatkan memori kolektif masyarakat di zamannya. Setidaknya, saya dapat mengenal Semarang (meski tidak utuh), mula-mula melalui tata kota dan bangunan tua yang terdapat didalamnya.

Pandanaran, Aku Kini Makin Tahu
Meski tidak sesering mengunjungi rumah ibadah, setidaknya sudah banyak kesempatan buat saya untuk berkunjung (regular) ke Makam Ki Ageng Pandanaran (terkadang sendiri, sesekali mengajak jamaah), Jl. Mugas No. 6, Mugasari, Kota Semarang. Konon, nama wilayah Makam ini diambil dari nama salah satu kerabat Ki Ageng Pandanaran, Ki Ageng Mugas (seperti tertulis di nisan salah satu makam kerabat Ki Ageng Pandanaran). Ki Ageng Pandanaran ini merupakan legenda Kota Semarang, pendirinya, bupati pertama yang merupakan tokoh penebar Islam di Kota Semarang, asuhan Sunan Kalijaga. Sedari awal melakukan penelitian di Semarang (untuk kebutuhan akademik), saya mencoba membiasakan menghidupi kota Semarang melalui catatan-catatan sederhana di setiap situs di mana saya mengunjunginya.

Di samping bangunan dan perkampungannya, kini saya masih berusaha menaruh hati (niat yang semoga positif) untuk mengunjungi makam-makam Tua di Semarang, termasuk makam Ki Ageng Pandanaran didalamnya. Di Makam ini sekitar tahun 1975, seperti dipaparkan oleh Juru Kunci Makam, Agus Krisdiono, bahwa ditemukan pusaka dan tombak di dalam gentong air di sekitar makam, dilaporkan ke Walikota Semarang, kala itu pak Hadianto untuk membentuk tim perumus sejarah kota Semarang. Memasuki ruangan khusus, ,kita bisa lihat terdapat beberapa benda kuno di dinding-dinding disertai hiasan-hiasan unik yang merepresentasikan sejarah Semarang. Mengenali sejarah Semarang, dapat memulainya dari silsilah keluarga, lukisan-lukisan, beberapa pusaka hingga petilasan salat ki Ageng Pandanaran yang tertata rapih di dinding-dinding makam.

Kami (rombongan) diajak Agus Krisdiono, Juru Kunci Makam untuk memasuki ruangan belakang, mengamati sudut-sudut ruangan khusus di mana terlihat ada deretan kuburan yang konon, kata Agus Krisdiono itu merupakan kuburan kerabat dan sahabat Ki Ageng Pandanaran (dimakamkan di situ) sebagai sebuah penghormatan. Semakin manaruh cinta pada situs-situs sejarah, maka kesadaran untuk terus mencari dan merawat bukti sejarah akan terus tumbuh. Usai menjelajahi makam Ki Ageng Pandanaran, kami beranjak menuju Makam Kiai Sukolilo di Pedurungan-Semarang ,salah satu makam yang belum saya jumpai sebelumnya. Kiai Sukolilo ini, adalah salah satu murid Sunan Kalijaga yang ditugaskan (menemani) menyebarkan Islam di Pedurungan bersama Ki Ageng Pandanaran. Struktur bangunan makam, terdapat batu nisan dari batu – batuan kuno. Duganaan makam ini bagian dari situs peninggalan hindu budhha, di makam Kiai Sukolilo terdapat ada empat lingga di sana.

Menuju situs Candi Trisobo di Krajen, Trisobo, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, medan menuju lokasi membutuhkan kerja keras. Di samping jarak yang terlampau jauh kurang lebih dua kilometer, perjalanan menyusuri pinggiran perkampungan disuguhi pesawahan dengan padi yang hampir dipanen, jalanan satu tapak penuh semak-semak, hingga menyeberangi kali kecil perbatasan antara kampung dan sawah. Proses penemuan Candi identik dengan nama suatu desa atau wilayah, dan Desa Trisobo (mula-mulai yang memacu dilakukannya penelusuran peninggalan sejarah) istilah dari nama Candi Trisobo, peninggalan era Mataram Kuno, abad ke-8 masehi. Di mana Trisobo berasal daru dua istilah, Tri itu tiga, sementara sobo merupakan salah satu bagian candi.

Di situs ini, saya melihat ada salah satu peserta yang sudah cukup umur. Beliau perempuan (sayang saya lupa menanyakan namanya), berjalannya sangan hati-hati, menghitung langkah demi langkah sepanjang jalanan yang licin karena turunan tajam dan penuh dengan dedaunan kering. Saya menawarkan tangan saya untuk dijadikan pegangan, beliau menyambutnya dengan dingin. Ini alarm buat generasi muda, bahwa pengetahuan itu tak mengenal usia. Ia akan terus tumbuh dan hidup ditengah-tengah manusia yang memiliki hasrat berlebih akan pengetahuan-pengetahuan baru. Meski saya tak mengetahui betul tujuan utama ia turut serta dalam jelajah sejarah semarang, tentunya di usia senja beliau patut diapresiasi dan menjadi teladan bagi anak muda (seperti saya).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here