Kematian Yesus dalam Pandangan Ahmadiyyah (Menimbang buku Qaul al sharih fi Dzuhur al Mahdi wal Masih)

0
78

Oleh: Yayan M. Royani

Tidak banyak dari umat Islam pada umumnya yang menafsirkan secara tematik dan logis dalam pembahasan wafatnya Isa Almasih serta datangnya Imam Mahdi pada akhir zaman.Sungguh merupakan sebuah khazanah keilmuan yang sangat berharga karya karangan Nadzir Ahmad Mubassyar ini. Dalam buku tersebut  telah memuat sebuah “penafsiran” ayat-ayat al Quran yang berkaitan dengan wafatnya Isa al Masih.

Dalam buku ini, pendekatan teks dan logika sangat kental dalam penggunaan metode penafsiran ayat. Ambil sebagai contoh penafsiran ayat mutawaffika pada surah Ali Imran ayat 55, dengan mencari akar kata dan perbandingan makna dalam ayat yang terkait maupun kamus, membuat kata tersebut menjadi sangat jelas nan kental maknanya. Meskipun kental dengan penafsiran teks, ternyata tidak serta merta sang pengarang itu menafikan penafsiran dengan menggunakan pendekatan nash maupun hadits (bil ma’stur).

Berbicara ayat yang (sekilas) ditafsirkan tentang wafatnya Isa dalam buku ini sebanyak tujuh buah dengan diawali penafsiran surah al Maidah ayat 117 yang berbunyi: Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”, dan adalah Aku menjadi saksi terhadap mereka, selama Aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang Mengawasi mereka. dan Engkau adalah Maha menyaksikan atas segala sesuatu”.

Pada ayat di atas, dialog antara Nabi Isa dan Allah Swt telah memberikan pemahaman bahwa Isa itu menyerahkan segala sesuatu kepada Allah setelah beliau wafat. Misalnya, kata tawwafaitani. Dalam hal ini tidak ada pengertian lain kecuali diangkatnya ”ruh” dari jasad sebagaimana terdapat pada surah Ali Imran ayat 55. Jika kita mau menafsirkan kata tersebut selain kematian yaitu kematian ”semu” atau ”tidur” terasa sangat dipaksakan. Apa pasal? Kebanyakan para ulama tafsir pun bersepakat bahwa Isa memang diwafatkan oleh Allah Swt.

Kendati begitu, tendensi kematian Isa ini menjadi sangat substansial bagi Ahmadiyyin (Qodiniyyin). Kepastian Isa sebagaimana manusia biasa dengan predikat Rasul (baca: berdasar surat al Maidah ayat 75) dapat memberikan gambaran akan kematiannya yang wajar dan kebangkitannya yang wajar, pula. Hal itu di tekankan pada surat al A’raf ayat 25 yang berbunyi: ”Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan”. Dengan alasan tersebut tak dapat menafikan turunnya kembali Isa Almasih secara rasional (diri Isa sesungguhnya) pada akhir Zaman.

Senada dengan hal di atas, Prof Hamka menyatakan bahwa Isa wafat berdasarkan ayat mutawaffika. Kemudian, beliau diangkat sebagaimana ruh mulia yang lain. Adapun terkait dengan turunnya Isa pada akhir zaman tidak diketahui secara pasti. Sebab, hadis yang terkait adalah hadis ahad. Lalu beliau memberi penjelasan tambahan bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah Swt, sebagaimana Allah menghidupkan kembali burung yang telah dicincang dan di sebar pada zaman Nabi Ibrahim. Makanya, kebangkitan Isa sebagaimana hal tesebut tidak menjadi hal yang istimewa bagi Allah Swt.

Berbicara (berita) kenaikan Isa, sambung al Qurtubi, telah memberikan rumusan bahwa yang benar adalah, Allah Swt telah mengangkat Nabi Isa ke langit tanpa diwafatkan terlebih dahulu, dan bukan dalam keadaan tidur. Kelak, beliau akan benar-benar diturunkan ke bumi untuk membasmi kemungkaran. Argumen ini dikuatkan Qatadah pada penafsiran ayat mutawaffika wa rofi’uka yang merupakan susunan muqoddam dan mu’akhar yang berarti di angkat terlebih dahulu, kemudian di wafatkan.

Pendapat tersebut sesuai dengan kandungan surat Annisa ayat 157 yang berbunyi: ”Dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan ‘Isa bagi mereka.  Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa”.

Begitulah gambarannya. Dalam tafsir al Miqbas disebutkan pula bahwa Isa diangkat ke langit dan orang yang sepertikan atau diserupai (dan dimiripkan) Isa bernama Tatyanus. Kisah diangkatnya Nabi Isa ke langit jasadan wa ruhan sangat dimungkinkan dengan keesaan Allah. Hal ini serupa sebagaimana Isra Mi’rajnya kanjeng Rasul Muhammad Saw.

Meskipun demikian, tafsir itu berbeda dengan pola penafsiran Nadzir Ahmad Mubassyar. Terminologi dari diangkatnya Isa tidak berarti ”jasad dan ruh”, tetapi, diangkat derajatnya, sebagaimana gambaran Nabi shaleh lainya. Begitu pula menurutnya, Almasih tidak diangkat ke langit hidup-hidup dengan jasadnya yang utuh, dan tidak pula diserupakan nan dimiripkan dengan seseorang. Sekiranya benarlah adanya bahwa Almasih itu di salib akan tetapi keadaannya disamarkan sehingga dianggap telah mati. Setelah itu Isa hidup secara sembunyi-sembunyi dan hijrah ke India. Tepatnya, di Kasmir dan meninggal di sana.

Nah, adanya awal penafsiran yang berbeda, bisa membuat sebuah konsekuensi kesimpulan yang selanjutnya berbeda. Dalam hal ini dapat terkait dengan turunnya al Masih pada akhir zaman. Ahmadiyyin yakin bahwa al Masih yang turun pada akhir zaman bukanlah Isa bin Maryam dari Nazaret, karena Isa adalah Nabi sebagaimana Nabi yang lain, wafat dan dibangkitkan sesuai sunnahnya. Lebih dari itu, dalam buku Dakwatul Amir karangan Mirza Bashirudin Mahmud Ahmad berpendapat, bahwa keistimewaan yang diberikan kepada Nabi Isa dengan menjadi penentu nasib ummat pada akhir zaman tidak seimbang dengan dengan keistimewaan Nabi Muhammad sebagai stemple para Nabi yang seharusnya memiliki peran dan keistimewaan yang lebih. Dengan terlalu meninggikan Isa secara tidak langsung justru akan membantu Nashrani dalam membanggakan diri mereka. Jelas bahwa tujuan dari pendapat ini adalah meninggikan derajat Rasulullah.

Berbeda dengan pendapat para Ulama NU yang termaktub dalam Mukatamr ke III di Surabaya tanggal 28 September 1928 berbunyi ”Kita wajib meyakini Isa bin Maryam as. akan datang di akhir zaman nanti sebagai Nabi dan Rasul yang melaksanakan Syariat Nabi Muhammad saw. Hal itu tidak berarti menghalangi nabi Muhammad Saw sebagai Nabi terakhir (pembawa Syariat) sebab Nabi Isa bin Maryam hanya akan melaksanakan Syariat Nabi Muhammad Saw.

Pendapat tersebut memberikan sebuah gambaran akan pembelaan terhadap Nabi Muhammad dengan memposisikan turunnya Nabi Isa sebagai pembawa syari’at Nabi Muhammad, sekaligus sebagai bukti akan kerasulan Nabi Muhammad kepada kaum nasrani bahwa apa yang diwahyukan selama ini adalah kebenaran. Sebuah teguran yang langsung terasa bagi kaum Nashrani apabila yang membenarkannya dari Nabi mereka sendiri.

Mirza Bashirudin Mahmud Ahmad berpendapat bahwa turunnya al Masih bukanlah pada hakikat sesungguhnya Isa bin Maryam, akan tetapi lebih kepada turunnya Isa secara maknawi, sebagaimana pendapat Syeikh Shahabuddin Suhrawardi bahwa selain kelahiran jasmani ada pula kelahiran lain yang disebut kelahiran maknawi (kiasan). Lebih dari itu, spesifikasi penisbatan Isa bin Maryam sebagai al Masih lebih kepada kiasan bagi persamaan keadaan ataupun sifat. Maka, bagi Ahmadiyyin al Masih yang turun haruslah dari ummat Nabi Muhammad.

Pendapat tersebut hampir sama dengan para ulama kontemporer dengan menggunakan pendekatan heurmenetika. Turunnya Isa ke bumi diartikan sebagai semangat atau ruh semangat bukan pengertian secara hakikat dalam raga dan bentuknya. Era Isa adalah era kebangkitan Islam yang selama ini tercabik-cabik, sedangkan Dajjal bukanlah Mahluk Raksasa bermata satu musuh bebuyutan Nabi Isa, akan tetapi sebagai simbol kemungkaran yang nantinya akan dikalahkan oleh ruh Isa.

Dengan melihat pendapat di atas, tentunya sebuah keniscayaan lahirnya bermacamnya penafsiran. Hal tersebut merupakan hal yang lumrah dari setiap orang yang mempunyai pendapat dan gagasan. Apalagi terkait dengan keyakinan yang tidak dapat dipaksakan.  Semoga menjadi kesadaran bersama bahwa penafsiran itu relatif.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here