Sel. Sep 29th, 2020

elsaonline.com

Voice of the voiceless

Komodifikasi Ramadhan

4 min read

Ramadhan_Pasar_4Oleh: Tedi Kholiludin

Aura keislaman terlihat semakin menajam saat masuk bulan Ramadhan. Nyaris tidak ada ruang kosong dari Ramadhan. Kalau kita jalan-jalan ke mall, ada pelbagai tawaran potongan harga yang jor-joran. Ramadhan Sale, begitu biasanya judul yang tertera di berbagai gerai. Lalu coba bergeser ke hidangan cepat saji laiknya KFC atau McD. Terdapat menu spesial Ramadhan, paket buka puasa dan sahur serta bonus-bonus lainnya. Tengok juga kegiatan di kampus-kampus (selain kampus agama). Aroma Ramadhan juga sangat menyengat. Ramadhan goes to campus, dan acara-acara sejenis didesain sedemikian rupa untuk menyambutnya. Jelang buka puasa, sempatkanlah berjalan-jalan di pusat keramaian kota. Pemandangan akan sangat terlihat menyegarkan karena ada banyak perempuan cantik menjajakan makanan kecil untuk berbuka puasa gratis.

Kemudian, buka dan baca sajian di media cetak. Nyaris tak ada media tanpa pesan atau atmosfer Ramadhan. Dari iklan produk, kegiatan keagamaan Ramadhan seperti tarawih atau buka besama para pejabat publik, hingga kampanye calon presiden yang dikaitkannya dengan Ramadhan bisa kita nikmati disana. Banyak juga kita temukan kaum muslim yang ramai bercerita tentang pengalaman saleh yang bergengsi seperti puasa sambil melaksanakan umroh di tanah suci, atau paket buka bersama yang ditawarkan oleh hotel-hotel berbintang. Cermati pula bagaimana toko-toko busana muslim menyediakan model baru. Pendek kata, hampir semua ruang publik terisi oleh Ramadhan.

Saya melihat ada proses komodifikasi Ramadhan disini. Meminjam penjelasan Fealy (2012), ramadhan yang dikomodifikasi adalah sebentuk komersialisasi Ramadhan atau berbaliknya keimanan dan simbol-simbolnya menjadi sesuatu yang bisa diperjualbelikan untuk mendapatkan keuntungan. Istilah ini, seperti diakui Fealy sendiri memang potensial memunculkan perdebatan. Misalnya, apakah analisis ini dimungkinkan untuk menelusuri aspek komersial dari sesuatu yang bersifat spiritual. Mereka yang selama ini bergelut dalam bidang ekonomi Islam mungkin agak berkeberatan dengan istilah tersebut ini karena seperti mengabaikan motivasi keagamaan dalam setiap kegiatan keagamaan.

Aktivitas Ekonomi Yang Meningkat

Bulan Ramadhan ternyata tidak menurunkan aktivitas ekonomi masyarakat. Di beberapa media disebutkan, penjulan makanan, kebutuhan pokok, busana hingga kebutuhan Bahan Bakar Minyak justru meningkat selama Ramadhan. Berikut saya kutipkan beberapa berita yang menunjukkan hal tersebut.

Baca Juga  Menyuarakan Suara-Suara yang Bersuara

Muhammad Amsori (35) di Jakarta mengaku dagangannya laris manis saat Ramadan. Pria yang sudah berjualan sejak 2008 itu bahkan bisa menjual barangnya 100 persen lebih banyak dari hari biasa. “Sekarang bisa sampai Rp 800 ribu sehari,” kata Amsori dengan wajah berseri. (viva.co.id).

Lalu, Muhamad Husein salah seorang pedagang buah Kurma di Panjunan Kota Cirebon, , mengatakan, awal Ramadhan permintaan buah kurma meningkat, sehingga omzetnya naik dibandingkan hari biasa. “Kini bisa terjual sekitar 300 kilogram buah kurma berbagai jenis, sebelumnya paling hanya 50 kilogram, diperkirakan akan bertahan hingga jelang lebaran,” katanya. (Republika)

Di Kota Padang, Utari (31), pedagang pakaian muslim di Pasar Raya Blok B Kota Padang mengungkapkan, sejak seminggu terakhir memasuki bulan puasa, penjualan mukena naik. “Kalau hari normal biasanya terjual tiga atau empat potong mukena. Tapi kalau Ramadhan ini, penjualan meningkat sampai terjual berkisar satu lusin sampai dua kodi perhari,” kata Utari di Padang, Kamis (3/7). (skalanews.com)

Tak hanya itu, barang-barang elektronik juga meningkat penjualannya selama Ramadhan. Terutama untuk televisi dan AC (Air Conditioner). Peningkatan penjualan mencapai 20% bila dibandingkan hari- hari biasa. Televisi yang banyak dicari konsumen ukuran 32 inci, harganya mulai Rp 2 jutaan. Sedang untuk AC harga mulai Rp 3 jutaan. “Kenaikan penjualan televisi memang biaa terjadi saat Ramadan. Rata-rata masyarakat ingin memperbarui produk elektronik. Lgaipula ini bersamaan dengan Piala Dunia. Momennya pas,” tutur Manager Branch Manager Electronic Solution Java Supermall. (Suara Merdeka)

Penggunaan BBM bersubsidi khususnya Premium, pada 12 Juli hingga 12 Agustus 2014 mendatang akan mengalami peningkatan sekitar 14% dari rata-rata harian normal 80.926 KL menjadi 91.830 KL. Solar diprediksi turun 4,9% dari 40.626 KL menjadi 38.628 KL. Sementara, LPG diperkirakan naik 8,6% dari rata-rata harian normal 18.069 MT menjadi 19.614 MT. Terkait stok BBM pada periode tersebut, Premium diperkirakan sekitar 1.458.506 KL (17,4 hari), Solar 1.682.542 KL (21,3 hari), Pertamax 74.747 KL (40,9 hari), Pertamax Plus 11.662 KL (37,6 hari), dan LPG 286.865 MT (16,8 hari). (www.the-marketeers.com)

Kolom Khusus Ramadhan di Media

Di media, geliat ramadhan juga tak luput dari radar para pengusaha media. Di media cetak misalnya, rubrik khusus Ramadhan selalu ada dan tersedia. Seputar Indonesia punya rubrik Cahaya Ramadhan, Suara Merdeka dan Wawasan ada Hikmah Ramadhan, Media Indonesia memiliki Ramadhan 1435 H dan Koran Tempo juga punya rubrik tersebut. Isinya kurang lebih sama. Liputan mengenai aktivitas Ramadhan mulai sahur keliling, tarawih pejabat, buka puasa bersama dan lainnya.

Baca Juga  Gereja Mormon di Indonesia dan Pergulatan Membangun Identitas (bagian 1)

Hal yang sama juga dilakukan oleh media online seperti detik yang menyiapkan kanal detik Ramadhan, vivianews serta Republika.

Yang paling meriah tentu acara di televisi. Kontes para dai, sinetron religi serta acara-acara lainnya punya space di bulan Ramadhan ini. Tepat menjelang makan sahur (Waktu Indonesia Barat), masing-masing televisi bersaing menampilkan sesuatu yang “Islami.”

Tidak bisa dinafikan bahwa ada komodifikasi di sana. Ramadhan berbanding kegiatan-kegiatan yang bersifat transaksional dari sisi ekonomi. Bahwa ada motivasi keagamaan di dalam kegiatan itu, mungkin saja.

Hanya, satu pertanyaan penting mungkin perlu kita cermati. Apakah ini fenomena kelompok yang ingin menjadi Islam atau kelihatan Islam? Wallaahu A’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *