Sel. Sep 29th, 2020

elsaonline.com

Voice of the voiceless

Masjid Harus Netral Ideologi

3 min read

Ulil Abshar-Abdall (kedua dari kiri)

Ulil Abshar-Abdall (kedua dari kiri)
Ulil Abshar-Abdalla (kedua dari kiri)

[Semarang –elsaonline.com] Seiring perkembangan dakwah Islam, membahas peran masjid menjadi menarik. Pada masa perjuangan, masjid di Indonesia menjadi arena perlawan terhadap penjajah. Masjid menjadi tempat yang aman untuk menyusun strategi perang dan menyelematkan rakyat.

Dalam perkembangannya masjid sebagai tempat ibadah umat Islam, belakangan juga digunakan untuk berebut ideologi.

Tak jarang antar kelompok Muslim terjadi pertikaian karena masing-masing ingin menguasai masjid. Kondisi demikian menyita perhatian pemikir Muslim, Ulil Abshar-Abdalla.

“Untuk menyikapi itu, saya punya gagasan yang sangat fundamental. Saya melihat, tempat ibadah antara Kristen dan Islam ada perbedaan yang mendasar,” katanya, saat membedah Jurnal LPM Justisia berjudul “Desakralisasi Masjid”, Rabu (16/4).

Pada kesempatan itu, hadir pula Muhammad Guntur Romli dari komunitas Salihara, Jakarta. Narasumber lainnya yakni Tedi Kholiludin, Direktur Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Semarang dan Sekretaris Redaksi Jurnal Justisia, Khoirul Anwar.

Ulil berpendapat, gereja (Kristen-red) selalu identik dengan sekte. Gereja juga menjadi tempat pertarungan ideologi yang berbeda. “Biasanya ketika dalam satu gereja ada perbedaan terjadilah pertikaian pendapat. Maka yang kalah biasanya akan membuat gereja baru dengan paham yang baru pula,” jelas Ulil.

Mantan Ketua Pengurus Pusat Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) ini jika masjid menjadi perebutan ideologi, maka hal itu akan mengalami hal serupa dengan gereja. “Saya khawatir jika keadaan seperti terus Islam akan mengalami hal serupa dengan Kristen. Dimana masing-masing kelompok ideologi mempunyai masjid sendiri-sendiri dengan tak menerima kelompok atau aliran lain untuk beribadah di masjid yang berbeda” tukasnya.

Iman
Dia membayangkan, masjid yang ideal adalah hanya ada satu di satu desa. Masjid tersebut tidak boleh dimonopoli oleh satu ideologi. Artinya, masjid netral tanpa dikapling-kaping oleh ideologi.

Baca Juga  Menolong Tanpa Pamrih, Ajaran Sapto Dharmo

“Ini berangkat dari pengalaman saya hidup di Jakarta karena ketika hendak Jumatan kesulitan mencari masjid yang netral. Saya selalu mencari masjid yang khutbahnya tidak memaki-maki kelompok lain dan ideologi lain. Mau NU, Muhammdiyah, MTA, silahkan masuk karena netral dan masjid itu ruang publik,” ujarnya.

Ulil bercerita, Masjidil Harom di Makkah pada masa pemerintahan Turki Usmani masjid menjadi tempat perayaan festival keragaman umat Islam. Menurutnya, dalam arena masjid terdapat sudut yang dinamakan Madzhab Hanafi, Maliki dan Syafi’i.

“Selain itu ada pula sudut sufi. Pada waktu itu masjid justru menjadi unsur yang menampung keragaman, bukan arena untuk menampung eksklusi dan mengkafir-kafirkan ideoligi sesama Islam,” tegas mantan Koordinator Jaringan Islam Liberal (JIL) ini.

Diskriminasi
Karena tema yang seksi, diskusi menjadi hangat. Masing-masing peserta mengajukan pertanyaan dengan berbagai fenomena yang terjadi di lapangan. Mayoritas peserta membenarkan jika belakangan ini banyak masjid-masjid yang sudah dikuasai oleh kelompok tertentu sehingga kelompok lain tak boleh ibadahnya di masjidnya.

“Masjid masih menjadi arena perlakuan diskriminasi. Di suatu tempat di Semarang pernah ada orang yang menikah dan ijab qabulnya dilakukan dalam masjid. Nah tapi perempuannya tak boleh ikut ke masjid dan juga boleh foto bareng di lingkungan masjid,” kata cerita pengasuh PP Taqwalilah Tembalang, Iman Fadhilah.

Kasus lain pernah terjadi yakni seorang anak tak boleh ke masuk masjid. Anak itu dianggap haram masuk masjid hanya karena orang tuanya belum sunat. “Ada pula anak kecil ke masjid yang kebetulan orangtuanya “belum disunat” dan anaknya ke masjid tidak dibolehkan,” tutur Iman. [elsa-ol/Cep-@Ceprudin]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *