elsaonline.com

Voice of the voiceless

Mengapa Belanda Mengasingkan Samin Surosentiko?

2 min read

Pemuda Sedulur Sikep Kudus sedang melakukan pendalaman ajaran Agama Adam. [Foto Ubed]

Pemuda Sedulur Sikep Kudus sedang melakukan pendalaman ajaran Agama Adam. [Foto Ubed]
Pemuda Sedulur Sikep Kudus sedang melakukan pendalaman ajaran Agama Adam. [Foto Ubed]
[Kudus –elsaonline.com] Karena dianggap mengancam, mulai tahun 1907 banyak pengikut ajaran Samin yang ditangkap Belanda. Termasuk Samin Surosentiko sendiri ditangkap, diasingkan ke Sawahlunto Sumatera Barat hingga meninggal di sana.

Kurang lebih ada 5000an penganut ajaran Samin yang jika mereka melakukan pembangkangan kepada pemerintah, tentu akan sangat merugikan. Pertanyaannya, kemudian apakah yang menyebabkan mereka ditangkap oleh pemerintah Belanda?

Salah satu warga Sedulur Sikep Kudus, Budi Santoso, menegaskan kalau perlawanan pasif yang diprakarsai oleh Samin Surosentiko menjadi penyebabnya. “Jadi yang membuat Belanda menangkap dan menawan Samin Surosentiko dan rekan-rekannya itu karena politik, bukan ajaran moralnya,” tegas Budi kepada elsaonline, beberapa waktu lalu.

Ditambahkan Budi, ajaran moral atau agama yang dianut warga Sedulur Sikep itu sendiri sudah ada jauh sebelum era Samin Surosentiko. Misalnya ajaran pokok yang melarang seseorang untuk tidak drengki (berbuat jahat), srei (jahil), panasten (marah/tersinggung), dahwen (menuduh seseorang walaupun melihat sendiri,aib seseorang tidak boleh dipergunjingkan), kemeren (ingin memiliki barang seperti yang miliki orang lain karena iri), gedhok (mencuri), pethil (mengambil milik orang walaupun jumlahnya sedikit dengan anggapan tersebut tidak berarti bagi yang memiliki), colong (mencuri), jumput (mengambil tanpa ijin), Nemu ora keno (menemukan barang, kemudian diambil dengan tujuan untuk dimiliki, itu tidak boleh), ojo nyio marang sepodo (membedakan-bedakan), jujur, sabar, lan nerimo iku kudu dilakoni (harus berkata jujur dalam setiap keadaan, sabar dalam segala hal, dan selalu bersyukur).

“Ajaran-ajaran itu sudah ada sejak dahulu. Setiap warga Samin dikenalkan dengan prinsip-prinsip dasar itu. Jadi Samin Surosentiko bukan yang pertama mengajarkan hal tersebut tentunya,” terang Budi. Karenanya, alasan yang lebih masuk akal adalah memahami praktik politik Samin Surosentiko sebagai alasan ia ditangkap dan dibuang oleh Belanda. “Tidak mau membayar pajak itu alasan kuat kenapa kemudian Samin dibuang,” Budi menjelaskan.

Baca Juga  Mengurai Konflik Bernuansa Agama di Jawa Tengah

Gumani, salah satu pemuda Sikep Kudus menambahkan bahwa bagi warga Samin, manusia harus menjaga dan merawat pertikel, artikel, pengucap dan kelakuan. Pertikel bisa juga dimaknai sebagai pikiran atau gagasan. Sementara artikel adalah tempat menimbang gagasan yang muncul dalam pikiran, tentang baik buruk dan sebab serta akibat yang akan ditimbulkan oleh gagasan pikiran tersebut. Pengucap merupakan pengejawantahan gagasan atau pikiran dengan cara diucapkan. Yang terakhir, kelakuan adalah tindak-tanduk atau bentuk nyata pelaksaan dari gagasan dan ucapan yang berupa sebuah tindakan.

“Keempat hal tersebut berkesinambungan dan tidak bisa dipisahkan. Harus selalu dijaga dan dirawat untuk mendapatkan hal yang terbaik. Kalau biasanya baik dan buruknya itu hanya dilihat dari ucapan dan perilaku, tetapi dalam ajaran Sikep penilaian itu tergantung pada keempat hal itu,” terang Gumani. [elsa-ol/TKh-@tedikholiludin/001]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *