elsaonline.com

Voice of the voiceless

Mengingat Gugu di Sebuah Tugu

4 min read

Gugu Dlamini Memorial Park [Foto: https://sahris.sahra.org.za]

Oleh: Tedi Kholiludin

Mandisa baru berumur 13 tahun pada 1998. Ia tinggal di KwaZulu-Natal, Afrika Selatan. Mandisa, yang bernama lengkap Mandisa Dlamini tinggal bersama ibunya, Gugu Dlamini (bukan Gugu Diamini). Gugu sangat menyayangi Mandisa. Juga sebaliknya. Apalagi Gugu seorang diri membesarkan Mandisa. Ya, Gugu seorang single parent.

1 Desember 1998, Gugu, wanita berusia 38 tahun itu hendak mengisi acara di sebuah stasiun radio dan televisi di Zulu. Temanya tentang infeksi HIV. Gugu diminta bercerita tentang dirinya yang terinfeksi. Kepada Mandisa, Gugu bilang “‘Mandisa, I will go and tell everyone about AIDS.”

Sehari-hari, Gugu ikut menjadi sukarelawan bagi “National Association of People Living With HIV/AIDS.” Afrika Selatan merupakan negara dengan epidemi HIV cukup tinggi di dunia. Tahun 1998, mereka ada di urutan kedua. Di Kwazulu, propinsi yang dibentuk tahun 1994 itu angka HIVnya termasuk tinggi. 30 persen penduduk dewasa di Kwazulu terinfeksi.

Dunia biasa memeringati 1 Desember sebagai World AIDS Day atau Hari AIDS Sedunia. Peringatan itu mulai dicetuskan pada Agustus 1987 dan secara resmi dimulai sejak 1988. Yang memprakarsainya adalah dua petugas World Health Organization (WHO), James W. Bunn dan Thomas Netter. Gugu bermaksud untuk mengisi acara di berbagai media dalam rangka Hari AIDS Sedunia itu.

Keterbukaan Gugu kepada publik atas statusnya sebagai ODHA ternyata menjadi bumerang. Aneh sesungguhnya. Alih-alih mendapatkan simpati dan dukungan, Gugu justru dicaci tetangganya. Pasca mengisi acara di radio, Gugu dicari banyak orang. Menurut salah satu perawat yang cukup dekat dengannya, berulangkali Gugu diancam. Gugu dianggap merusak citra kotanya. Satu waktu, Gugu ditampar oleh seorang laki-laki. Laki-laki tersebut mengatakan kalau banyak pengidap HIV yang diam dan tidak mengumbar statusnya ke publik.

Baca Juga  Empat Tantangan Agama Sipil

Kepada ibundanya, Gugu mengadu. Pelecehan terhadapnya ia ceritakan. “Dia terus menelpon saya dan datang untuk menceritakan ancaman-ancaman itu. Bahkan banyak kawannya yang tidak mau sekadar menemaninya makan atau minum,” terang ibunda Gugu.

12 Desember 1998, stigma, diskriminasi dan kebencian terhadap Gugu makin menyala. Selesai mengikuti sebuah workshop, seorang laki-laki menghampiri Gugu. Ia meninjunya dan mengancam akan kembali menemuinya. Kejadian itu segera dilaporkan Gugu kepada polisi. Tapi tak ada tindakan apapun.

Malam berikutnya kejadian itu kembali terulang. Kali ini Gugu dipukul, dilempari batu dan ditusuk. Gugu hilang kesadaran. Penyerang Gugu kemudian mengirimi teman laki-laki Gugu sebuah pesan pendek. “you can come and fetch your dog; we are done with her.” Setelah dibawa ke rumah sakit, Gugu akhirnya meninggal pada 14 Desember 1998. “Gugu adalah wanita yang cantik, cerdas, dan sekarang anak perempuannya (Madisa, red) menjadi yatim karena AIDS. Tapi bukan karena AIDS Gugu meninggal. Karna ia berusaha mempertahankan hak konstitusionalnya untuk bebas berbicara,” kenang Mercy Makhalemele, rekan kerja Gugu.

Kematian Gugu ternyata mendapatkan simpati dunia. Penolakan terhadap stigma semakin menguat pasca kematian Gugu. Perlawanan terhadap ujar kebencian atau diskriminasi terus bergelora.

Pemerintah Afrika Selatan kemudian membangun taman untuk memeringati perjuangan Gugu, “Gugu Dlamini Memorial Park” di Kota Durban. Presiden Jacob Zuma meresmikan pita merah raksasa di taman itu pada 8 Juli 2000. Selain ada pita besar, di Tugu Gugu itu juga ada “dinding harapan,” the wall of hope. Dinding itu diresmikan pada 1 Desember 2000.

***

Tahun 2011, Mandisa, perempuan yang lahir pada 28 Juni 1985 itu berbicara pada Konferensi AIDS kelima di Afrika Selatan. Perempuan yang sudah beranjak dewasa itu brediri tegap di depan podium. Ia coba berbicara tegar tentang kejadian yang menimpa ibunya 13 tahun yang lalu. Cerita tentang Gugu yang meninggal karena dianggap menjadi sampah masyarakat.

Baca Juga  Sudah Kriting, Hitam Pula: Makna Kecantikan Menurut Masyarakat Papua

“Sebagian besar dari anda mungkin hanya tahu kalau Gugu Dlamini adalah seorang pahlawan yang terbuka akan status HIVnya. Tapi anda tidak tahu Gugu Dlamini sesungguhnya, anda tidak tahu kehidupannya sebagai perempuan muda, sebagai orang tua tunggal yang tak bekerja dan harus menghidupi anaknya, juga dirinya. Kesalahan yang membuatnya terinfeksi HIV,” kata Mandisa memulai pembicaraan.

Ia kemudian melanjutkan pengalaman pahitnya saat bersama Gugu datang kali pertama ke Kwazulu-Natal. Kelihatan sekali kalau penduduk disana tidak menghendaki. Apalagi mereka tinggal di rumah yang disediakan pemerintah. Mungkin sejenis perumnas. “Mereka bilang. Dia (Gugu, red) itu tidak bekerja, single parent, bagaimana mereka bisa dapat rumah ini? Pasti perempuan itu teman tidur para pejabat,” Mandisa menirukan ucapan penduduk saat itu. Orang-orang itu, kata Mandisa, tidak percaya bagaimana Gugu bertahan hidup dengan tanpa menjual tubuh.

The AIDS Foundation of South Africa (AFSA) bersama-sama dengan jejaring lain di Afrika Selatan terus mendukung Mandisa. Mandisa ingin mewujudkan cita-citanya; menolong anak-anak yatim seperti dirinya dari KwaMashu. Mandisa ingin menyebarkan pesan “being and orphan from HIV is not the end of the world. I also wanted to say to the killers that being an HIV positive and being a woman does not mean you’re an animal.’”

Tahun 2010, AFSA membantu Mandisa untuk membentuk The Gugu Dlamini Foundation (GDF). AFSA juga melakukan mentoring terhadap terhadap GDF, bagaimana menjalankan organisasi dan juga memberi donasi untuk berbagai kegiatan. GDF banyak berkutat pada penguatan perempuan, konseling HIV/AIDS dan mempromosikan hak asasi manusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *