Tiga Pendekatan Perdamaian

Oleh: Tedi Kholiludin

Dalam artikel “Three Approaches to Peace: Peacekeeping, Peacemaking, and Peacebuilding,” Johan Galtung (1976) mengenalkan tiga pendekatan perdamain. Ketiganya adalah pemeliharaan perdamaian (peacekeeping), penciptaan perdamaian (peacemaking) dan pembangunan perdamaian (peacebuilding). Tiga pendekatan tersebut memiliki karakter serta fokus yang berbeda.

Peacekeeping merupakan pendekatan perdamaian yang bersifat disosiatif (dissociative). Tujuan dari pendekatan ini adalah memisahkan kelompok-kelompok yang berkonflik untuk mencegah terjadinya konflik lebih lanjut. Dalam upaya tersebut, pemeliharaan perdamaian biasanya dilakukan dengan melibatkan pihak ketiga untuk menjaga perdamaian sekaligus mencegah konflik mengalami eskalasi. Ia bertugas seperti pemadam kebakaran, menghentikan konflik langsung, tetapi belum sampai menyentuh pada akar persoalan.

Pendekatan peacemaking berkaitan dengan resolusi konflik. Langkah yang dilakukan adalah menyatukan pihak yang berkonflik melalui berbagai cara; negosiasi, mediasi atau dialog. Yang menjadi tujuan adalah kesepakatan diantara para pihak yang bertikai. Namun, kata Galtung, pendekatan peacemaking ini sering kali berangkat dari konsep resolusi konflik yang tidak realistis. Dalam pendekatan ini, konflik dianggap selesai bila telah dicapai sebuah kesepakatan yang diratifikasi kedua belah pihak. Padahal, pihak-pihak yang terlibat dalam kesepakatan, kata Galtung, bisa saja bubar, menghilang, atau digantikan aktor baru yang belum tentu merasa terikat oleh kesepakatan yang dibuat sebelumnya.

Pendekatan terakhir adalah peacebuilding. Pembangunan perdamaian merupakan pendekatan asosiatif sekaligus integratif, yakni langkah membangun struktur sosial, politik dan ekonomi yang adil untuk mencegah terjadinya konflik di kemudian hari. Tujuan utamanya menciptakan keadilan sosial, keseteraan dan penghapusan kekerasan baik yang struktural maupun kultural. Dalam konteks ini, Galtung mengatakan bahwa peacebuilding mesti menjadi bagian integral dari sistem sosial agar perdamaian diwujudkan secara berkelanjutan.

Baca Juga  Menjaga yang Tersisa: Visi Keberlanjutan John B. Cobb

Galtung mengatakan bahwa pendekatan dalam perdamaian ini harus dilakukan untuk saling melengkapi untuk menciptakan perdamaian yang berkelanjutan. Jika hanya peacekeeping yang dilakukan tanpa peacemaking dan peacebuilding, maka konflik potensial kembali muncul di kemudian hari. Peacekeeping dan peacemaking berfokus pada penghentian kekerasan langsung (perdamaian negatif), peacebuilding bertujuan untuk mengatasi akar penyebab konflik dan menciptakan kondisi sosial yang adil (perdamaian positif).

Galtung membagi relasi sosial menjadi tiga; vertikal, zero dan horizontal. Hubungan vertical mengandaikan adanya dominasi, sementara relasi zero berarti tak ada interaksi signifikan. Galtung mengandaikan ada relasi yang bersifat horizontal dimana terjadi hubungan yang bersifat setara dalam menciptakan perdamaian.

Untuk itu, diperlukan enam infrastruktur perdamaian; equity, entropy, simbiosis, cakupan luas, domain luas dan superstruktur. Keadilan atau equity, entropi dan simbiosis hakikatnya adalah penolakan atas kondisi-kondisi anti manusia laiknya eksploitasi, elitis, dan isolasi.

Keadilan (equity), entropi, dan simbiosis pada dasarnya adalah penolakan terhadap kondisi-kondisi anti-manusia seperti eksploitasi, elitis, dan isolasi. Keadilan berarti penolakan terhadap eksploitasi antara negara. Entropi dimaksudkan untuk membuka berbagai jenis saluran interaksi dimana setiap kelompok di negara A dapat menemukan padanan mereka di negara B misalnya, pekerja dengan pekerja, gerakan perempuan dengan gerakan perempuan, arsitek dengan arsitek, peneliti perdamaian dengan peneliti perdamaian, dan seterusnya.

Perdamaian, kata Galtung, memiliki struktur, dan ia lebih merupakan infrastruktur daripada suprastruktur (meskipun keduanya saling terkait secara dialektis). Perdamaian juga merupakan struktur yang bertingkat (multilevel). Agar bermanfaat dalam perjuangan melawan kekerasan, struktur ini harus dibangun baik di dalam negara maupun antarnegara.

Galtung mengkritik pendekatan kelompok liberal yang fokus pada struktur internasional, sementara kelompok Marxis hanya melihat struktur dalam negara. Kritik Galtung terhadap pendekatan ideologis adalah karena cara tersebut berfokus pada satu level saja; internasional atau nasional saja. Sementara, kata Galtung, perdamaian sejati memerlukan pembangunan struktur di semua level, baik lokal, nasional maupun global.

Baca Juga  FKUB Jawa Tengah Raih Harmony Award 2020
spot_imgspot_img

Subscribe

Artikel Terkait

Hukum Lingkungan Internasional

Angin tidak punya KTP, sehingga kalau pencemaran udara terjadi...

Onderdistrict Tjilimoes

Buku ini berangkat dari pertanyaan sederhana, bagaimana perubahan yang...

Yaumul Quds: Politik Simbol dan Emosi Kolektif dalam Solidaritas Palestina

Oleh: Tedi Kholiludin Jarum jam belum genap menunjuk pukul 14.00...

EN (?): Konsep Ikatan Tak Terlihat dalam Budaya Jepang

Oleh : Iwan Madari (Pemerhati Kebudayaan Jepang) elsaonline.com Dalam hidup,...

Malam di Darut Taqrib: Duka, Solidaritas dan Harapan Dialog

Kami duduk bersama di bagian depan luar sebuah...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini