elsaonline.com

Voice of the voiceless

HIV&AIDS dan “Theology of Compassion”

4 min read

Farid Esack [en.qantara.de]

Oleh: Tedi Kholiludin

Salah satu karakter yang melekat pada para teolog muslim dari Afrika adalah kemampuannya untuk mentransformasikan ajaran agama sebagai praksis pembebasan. Nama Farid Esack tentu tak bisa ditanggalkan dalam percakapan ini. Ia tidak abai terhadap realitas di sekelilingya. Salah satu persoalan kemanusiaan yang dihadapi oleh Afrika Selatan adalah penyebaran HIV&AIDS yang sangat cepat. Karena Esack ada dalam pandemi itu, tulisan yang ia hasilkan juga menunjukkan sensitivitas yang tinggi. Ia mendialogkan agama dengan realitas kemanusiaan.

***

Farid Esack merupakan ulama kelahiran Afrika Selatan. Ia belajar Islam dan menjadi hafidz di Karachi, Pakistan. Gelar Ph.D ia dapatnkan dari Universitas Birmingham Inggris. Ia banyak berbicara tentang Islam di Afrika Selatan dan hubungannya dengan isu-isu kontemporer.

Esack mengajar di Departemen Agama Universitas Johannesburg, Afrika Selatan. Gelar doktornya ia raih dari University of Birmingham, Inggris. Selain sarjana, Esack adalah aktivis anti apartheid. Dua karyanya yang sangat familiar adalah Qur’an, Liberation & Pluralism: An Islamic Perspective of Interreligious Solidarity Against Oppression, dan On Being a Muslim: Finding a Religious Path in the World Today. Satu lagi tentang Al-Qur’an: A Short Introduction. Ketiga-tiganya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Di luar dua karya itu, salah satu komisioner untuk kesetaraan gender di pemerintahan Nelson Mandela itu juga banyak menulis tentang isu HIV/AIDS. Ia mendirikan lembaga swadaya masyarakat, Positive Muslims, dan menerbitkan beberapa buku, salah satunya, HIV, AIDS & Islam; Reflections based on Compassion, Responsibility and Justice. Meski hanya berbentuk buku kecil, karya ini menggugah kesadaran manusia tentang pentingnya penghargaan atas kesetaraan.

Karya Esack dalam bentuk tulisan, sejatinya parallel dengan perjuangannya di lapangan. Sejak lama ia menentang rezim apartheid. Jika pada tahun 2000-an ia gigih memperjuangkan kehidupan yang lebih layak bagi mereka yang hidup dengan HIV, tentu itu bukanlah kejadian yang tiba-tiba. Semangat itu terpatri dalam.

Baca Juga  Sehat, Sakit dan Kinerja “Pengetahuan Lokal”

Melalui Positive Muslims, Esack hendak mengembangkan apa yang disebut sebagai Theology of Compassion atau Teologi Kasih Sayang. Teologi ini, menurut Esack adalah sebuah car abaca terhadap teks agama, dimana Tuhan sesungguhnya mencintai dan peduli pada makhlukNya. Kasih sayang Tuhan, dalam sebuah hadits digambarkan, melampaui kemarahanNya.

Dalam studi fenomenologi tentang agama, kita mengenal kategori agama yang nomos-oriented (berorientasi hukum) dan eros-oriented (berorientasi cinta). Islam bersama Yahudi biasanya ada dalam rumpun nomos, sementara, Kristen dan Khonghucu masuk sebagai agama cinta. Kategorisasi tersebut tidak sepenuhnya keliru. Tapi, melihat Islam sebatas agama hukum, juga tidak tepat. Kandungan cinta sejatinya juga sangat banyak dalam tradisi Islam. Hanya saja ia kerapkali ada di tumpukan bawah dan tertindih olh lapisan-lapisan hukum. Makanya jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seputar agama, selalu dibaca dari perspektif hukum, jarang dijawab dari sudut pandang etika kemanusiaan universal. Theology of Compassion bermaksud untuk mengapungkan perspektif tentang cinta ini dalam hubungan sesama makhluk termasuk relasi vertikalnya.

Esack menyadari bahwa agama tidak bisa berkelit dan mengabaikan begitu saja masalah kemanusiaan. Agama harus hadir. Kehadirannya tentu untuk memberikan solusi. Dalam manifesto Positive Muslims, lembaga ini hadir bukan dengan pendekatan penghakiman kepada mereka yang terinfeksi. Jauh dari itu, mereka yang positif harus bisa diterima sebagaimana adanya. Manusia yang tentu saja harus diterima sebagai manusia.

Esack mengajak umat Islam untuk berpikir lebih komprehensif tentang AIDS, dan menjauhkan penghakiman. Ketika ia menganalogikan AIDS dengan kecelakaan di jalan raya, Esack mengatakan bahwa orang denga HIV itu korbannya. Perlu telaah sistemik kenapa kecelakaan itu terjadi. Apakah penerangannya, jalannya rusak, atau kendaraannya yang tidak layak jalan. Masalah ketidakadilan gender, kemiskinan, ekonomi, perlu dijelaskan untuk menangkap gambar yang utuh.

Baca Juga  Terorisme dan Kegagalan (Tokoh) Agama?

HIV&AIDS itu, kata Esack sejatinya hanya tampilan luar. Persoalan yang ada di dalam jauh lebih kompleks. Jika masalahnya adalah soal seks, mengapa di negara-negara maju masalah itu tidak berujung pada angka kasus HIV yang tinggi? Sementara di Afrika Selatan yang terjadi adalah sebaliknya. Esack melihat bahwa HIV bukan semata soal daya tahan tubuh yang berkurang, tetapi ada persoalann ketidakadilan struktural disana.

Menurut Esack, dalam Al-Qur’an dinyatakan bahwa hanya Allah yang Maha Kuasa dan manusia diberikan anugerah olehNya. Makanya manusia dilarang untuk menguasai, memaksa dan menghardik sesamanya. Karena bukan tidak mungkin, orang atau kaum yang dicemooh itu justru lebih baik daripada yang mencemoohnya.

Konsep dalam Islam seperti ihsan (generosity) dan shodaqoh (charity), kata Esack diakui dalam al-Qur’an sebagai “the heart of moral society” yang melampaui hak kewajiban yang bersifat hukum. Disinilah Theology of Compassion atau Teologi Kasih Sayang menemukan signifikansinya.

Pada akhirnya, kata Esack umat Islam hanya akan dihadapkan pada dua pilihan dalam menanggapi isu HIV&AIDS; “…to shout profanities from the side of the road or to reflect that prophetic mercy in our commitment and action.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *