Human-Centered Islam: eLSA dan Strategi Membangun Perdamaian

0
142

Oleh: Park Hee Cheol
Alumnus Kangwon National University, Korea Selatan

Tesis yang saya tulis fokus pada tema liberalisme Islam dengan tujuan mencari penafsiran kontekstual, pro pluralisme dan toleransi dalam komunitas umat Islam Indonesia. Selanjutnya, model ini digunakan untuk membangun perdamaian dan hubungan yang harmonis antar umat beragama di Indonesia. Islam yang ditampilkan oleh media umum berwajah sangat negatif yang diwarnai kekerasan, menindas Hak Asasi Manusia, anti-demokrasi. Wajah Islam di Indonesia juga kerap diwarnai oleh dengan sikap radikal, terror dan konflik atas nama agama. Tetapi dalam pengalaman saya, Islam di Indonesia tidak begitu keras dan eksklusif, bahkan fleksibel, inklusif dan punya pandangan positif tentang perdamaian lintas agama.

Memang radikalisme adalah faktor yang penting untuk diperhatikan dan merupakan salah satu karakter kelompok Islam. Tetapi berfokus isu-isu yang panas sperti kasus teror, konflik, kekerasan bisa menggiring kita pada asumsi bahwa sikap radikal dan eksklusif mewakili karakter Islam satu-satunya, Kita mungkin bahkan melewatkan karakter-karakter lain dalam Islam. seperti fleksibel, plural dan toleran yang juga faktor yang penting dalam Islam. Studi yang berfokus pada karakter Islam yang fleksibel, plural dan toleran, bisa mengatasi perspektif yang sempit tentang Islam, dan bisa melihat hubungan antara Islam dan agama lain dari sudut pandang yang lebih seimbang. Oleh karena itu studi ini fokus pada topic “liberalisme Islam” di Indonesia yang berkarakter fleksibel, plural dan toleran, sebagai modal untuk membangun perdamaian dan rekonsiliasi lintas agama. Dan untuk memahami liberalisme Islam di Indonesia, saya meneliti orientasi keagamaan dan praktik di Lembaga Studi Sosial dan Agama atau eLSA.

Anggota-anggota eLSA pertama kali mengenal liberalisme Islam di universitas. Kegiatan dan pengalaman di kampus, khususnya Justisia, menjadi kesempatan yang penting untuk melakukan perubahan orientasi agamanya. Terjadinya perubahan orientasi agama adalah pengalaman dan pendidikan yang jauh berbeda dengan sebelumnya. Sebelum memasuki universitas, mereka belajar di berbagai sekolah agama atau pesantren. Disana, mereka memahami bahwa kebenaran hanya ada dalam Islam dan memiliki pandangan negatif tentang agama yang lain. Cara berpikir mereka hitam-putih dan berada di lingkungan yang tidak bisa mengenal kelompok agama yang lain. Tetapi studi di Justisia membuat mereka belajar apapun tanpa dibatasi, dilakukan dengan aktif, dan diberikan kesempatan mengenal dan memahami agama lain melalui silaturahmi lintas agama. Pengalaman-pengalaman ini merubah mereka dari perspektif teosentris, skripturalis dan eksklusif, menjadi menerima perspektif antroposentris, berorientasi kemanusiaan, pluralisme dan inklusif. Mereka memahami umat agama lain sebagai objek untuk dihormati dan diajak kerjasama bukan objek untuk dihakimi.

Anggota-anggota eLSA yang menerima gagasan liberalisme Islam di Justisia mengikuti kegiatan sosial sambil mempraktekkan orientasi keagamaannya melalui eLSA. Liberalisme Islam baik dalam orientasi agama dan maupun praktek dari komunitas eLSA bisa didefinisikan melalui 4 karakter berikut. Pertama, mereka menghormati tradisi agama di Indonesia sambil mengikuti orientasi agama Nahdlatul Ulama. Kedua, mereka menerima penafsiran kontekstual yang disesuaikan dengan situasi, masa, lokal dan sosial, serta menerima pemahaman fleksibel bahkan kewajiban agama pun dalam keadaan tertentu bisa disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Ketiga, mereka mempercayai bahwa semua agama mempunyai inti yang sama dan agama adalah alat untuk mendekati Tuhan. Mendukung pluralisme, dan meyakini bahwa ada kebenaran dalam tradisi agama lain. Keempat, mereka mendukung dan mengadvokasi minoritas agama dan kelompok yang lemah secara sosial didasarkan atas keberagaman, toleransi dan kemanusiaan.

Liberalisme Islam, baik dalam orientasi agama maupun prakteknya dalam komunitas eLSA memberikan petunjuk dalam memahami Islam di Indonesia sekarang. Pertama, orientasi agama mereka menunjukkan bahwa skripturalisme dan radikalisme bukan karakter satu-satunya dalam Islam di Indonesia. Hal ini sekaligus menjelaskan bahwa ada kelompok di Indonesia yang kritis terhadap ajaran agama, menyetujui penafsiran kontekstual, dan selalu membangun hubungan harmoni dengan agama lain serta toleran terhadap agama lain. Hal tersebut bisa menurunkan agenda kelompok Islamis yang berkarakter radikal dan selalu bersitegang dengan kelompok agama lain. Kedua, orientasi agama mereka menunjukkan bahwa dalam sehari-hari hubungan harmoni dan toleransi lintas agama bisa terjadi. Agama bisa menjadi faktor untuk membangun integrasi dan rekonsiliasi. Ketiga, pemahaman mereka tentang agama yang lain dan kegiatan praktisnya menunjukkan bahwa kegiatan praktis bisa digabungkan di dalam strategi untuk membangun resolusi konflik lintas agama. Sikap tersebut bisa menjelaskan bahwa resolusi konflik dan membangun perdamaian tidak hanya dengan mengembangkan wacana dan dialog lintas agama, tetapi membutuhkan kegiatan praktis. Keempat, dengan melihat gagasan dan praktek di eLSA, muslim di Indonesia tidak hanya terdiri dari kelompok Islam eksklusif tetapi juga ada yang sangat menyetujui nilai yang bermanfaat bagi komunitas, sosial dan negara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here