elsaonline.com

Voice of the voiceless

Guru Agama Perekat Semangat Beragama dan Kebangsaan

3 min read

Sambutan: Menteri Agama RI Yaqut Cholil Qoumas memberikan sambutan pada acara AGPAII Summit “Beyond Imagination” yang diselenggarakan kerjasama Asosiasi Guru Pendidikan Islam Indonesia (AGPAII) dengan Wahid Foundation, Sabtu, 27 Maret 2021.

Semarang, elsaonline.com – Menteri Agama RI Yaqut Cholil Qoumas menegaskan peran guru agama sangat penting dalam mewujudkan moderasi beragama. Melalui moderasi beragama, kata Menteri, Guru agama berperan vital dalam merekatkan paham keagamaan dan kebangsaan.

Menteri yang akrab disapa Gus Yaqut menyampaikan itu pada launching program ‘guru pelopor moderasi di sekolah’. Launching dengan tema AGPAII Summit “Beyond Imagination” ini terselenggara kerjasama Asosiasi Guru Pendidikan Islam Indonesia (AGPAII) dengan Wahid Foundation, Sabtu, 27 Maret 2021.

Hemat Gus Menteri, AGPAII kreatif dalam melakukan inisiasi dan membantu penyelesaian masalah bangsa utamanya dalam moderasi beragama. Menag yang menjadi keynote speech mewakili Wakil Presiden RI, Ma’ruf Amin, juga menekankan moderasi beragama merupakan program yang sangat penting dan perlu mendapatkan perhatian dari semua pihak.

“Moderasi bergama menjadi sarana untuk mewujudkan kemaslahatan kehidupan, beragama dan berbangsa yang harmonis dan toleran. AGPAII menunjukan dukungan riil terhdap visi Kementerian Agama dalam moderasi beragama. Moderasi beragama adalah perekat antara semangat beragama dan komitmen berbangsa,” ungkap Gus Yaqut

Paran Guru

Direktur Wahid Foundation, Zannuba Ariffah Chafsoh, pada kesempatan yang menyampaikan jika paran guru agama memiliki posisi yang sangat strategis. Para guru agama menjadi agen perubahan di masyarakat.

“Guru agama memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan di masyarakat. Tugas utama bapak-ibu sekalian sebagai guru agama Islam adalah mendidik anak-anak kita, masyarakat kita untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat,” jelas putri kedua Gus Dur yang akrab disapa Yenni Wahid itu.

Yenni menambahkan, saat ini kehidupan manusia mengalami disrupsi disebabkan karena teknologi. Padahal ada hal yang tak bisa tergantikan yakni membentuk karakter anak didik di sekolah.

Baca Juga  Mantapkan Program Kerja Sekolah Damai, Wahid Foundation Ajak Rembug Komunitas dan Lembaga Pendidikan

“Ke depan akan terjadi lebih banyak lagi disrupsi-disrupsi, dimana kerja-kerja manusia banyak yang digantikan oleh robot. Tapi satu hal penting yang tidak dapat digantikan perannya oleh robot yaitu membentuk karaker dari anak didik,” jelas Yenni.

Yenny juga memberikan suntikan semangat kepada seluruh anggota AGPAII. Meski berat, pesan Yenni, tugas dari seorang guru agama Islam, adalah membentuk karakter masyarakat Indonesia dengan baik.

“Saya sangat bangga sekali, bahwa guru-guru agama di Indonesia mendeklarasikan sebagai pahlawan yang bisa dijadikan inspirasi oleh masyarakat. Ini untuk mengedepankan moderasi beragama,” tutur perempuan kelahiran Jombang ini.

Moderasi Sekolah

Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) AGPAII Mahnan Marbawi, menyampaikan guru berfungsi melakukan community development dalam mengimplementasikan nilai-nilai moderasi di sekolah.

“Program ini menjadi hal penting bagi guru agama Islam, agar mampu melakukan community development di lingkungan sekolah. Sehingga dapat bersama-sama menggerakan, menanamkan dan mengimplementasikan nilai-nilai moderasi di sekolah,” tutur Mahnan.

Mahnan berharap ke depan AGPAII dapat menjadi gelombang besar perubahan terhadap proses pendidikan keagamaan di Indonesia. Tentu ajaran Islam yang wasathiyyah. AGPAII Summit baginya adalah titik awal kebangkitan supaya dapat menjadi giant wife terhadap perubahan dengan cara melakukan reengineering Pendidikan Agama yang lebih moderat.

“Guru agama islam memiliki peran strategis dalam menguatkan paham keindonesiaan dan menguatkan ajaran islam yang rahmatan lil alamin serta moderat,” paparnya.

Kesadaran Beragama

Tokoh moderasi beragama, Lukman Hakim Saifuddin yang hadir secara langsung menyampaikan pesan kepada seluruh peserta supaya terus membangun kesadaran beragama secara moderat.

“Tetaplah membawa pesan-pesan esensial, substansial dari agama islam yang intinya adalah melindungi kemanusiaan. Selain itu turut membangun toleransi dengan cara menghargai keragaman, menghindari kekerasan, mengakomodasi budaya lokal,” tutur mantan Menteri Agama itu.

Baca Juga  Delapan Klub Ramaikan Piala Sahabat Ahmadiyah

Menjadikan seseorang moderat, lanjut Lukman, mensyaratkan wawasan yang cukup mengenai pemikiran, pemahaman yang berlebih-lebihan. Bukan hanya itu, ketika seorang menjadi moderat maka dirinya juga harus bisa mengajak yang lain untuk menjadi moderat dan tidak boleh mendiskreditkan.

“Watak agama adalah memberikan uluran tangan kepada siapapun yang belum moderat. Bukan mendiskreditkan.

Pada acara itu juga dilakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara AGPAII dengan Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), dan Riscon Group. Dan acara tersebut ditutup dengan penganugerahan penghargaan kepada beberapa tokoh moderasi, Dewan Pengurus Wilayah (DPW) AGPAII, dan anggota AGPAII. Sidiq Pram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *