elsaonline.com

Voice of the voiceless

Menguliti Berislam Secara Moderat

2 min read
Bedah Buku Berislam Secara Moderat

Semarang elsaonline.com Khoirul Anwar menulis buku Berislam Moderat berdasarkan pengalaman sosial yang saban hari diajari Islam secara tradisionalistik. Tindak-tanduk ala kiai desa dengan mengedepankan tawadhu ketimbang riya. Mendahulukan kepentingan sosial daripada ego sektoral.

Ia menyayangkan moderasi beragama yang telah berjalan lama, dicoreng oleh tindakan teroris mengatasnamakan Islam. Perilaku teror dilakukan orang yang gelisah terhadap kondisi sekarang. Beragama demikian membawa emosi untuk mengedepankan ajaran tanpa didukung seperangkat keilmuan yang mumpuni.

“Kegelisahan itu berujung pada tindakan teroris yang mengatasnamakan agama (Islam),” ucapnya saat bedah buku “Berislam Secara Moderat” di Toko Buku Merbabu Semarang, Kamis (8/04/2021).

Merespon maraknya tindakan teror, konsep Islam moderat dibuat untuk menurunkan kengawuran cara beragama. Tanpa mengetahui ajaran secara mendalam tak ubahnya individu menggerakkan pikiran untuk melakukan klaim kebenaran.

“Saat melihat orang yang tidak sepaham harus dibinasakan. Individu-individu dengan pemikiran moderat harus tampil untuk menyuarakan perdamaian guna merebut tafsir yang mengedepankan tepo seliro ketimbang mengkafirkan liyan,” tutur pria asal Brebes.

Moderasi yang Membumi

Konsep moderasi beragama di buku “Berislam Secara Moderat” perlu diubah menjadi konten-konten yang membumi. Akses ide moderat pun bisa didapat oleh anak-anak dan perempuan.

“Ketersediaan ide-ide moderasi menggunakan bahasa akademis akan sulit diakses oleh anak-anak dan ibu-ibu. Membumikan konsep agar jangkauan terhadap pendidikan anak-anak lebih mudah,” ungkap Koordinator Nasional Perhimpunan Homeschooler Indonesia (PHI) Ellen Kristi.

“Kebutuhan konsep moderasi membumi disebabkan banyaknya informasi tentang agama dikembangkan sendiri. Lalu mengajak untuk melakukan tindakan teror berasal dari media sosial. Banjir informasi berasal dari algoritma yang menjejali individu sehingga termotivasi melakukan tindakan intoleransi,” kata perempuan asal Semarang.

Diperlukan pendulum ditengah agar mampu melihat secara obyektif dalam setiap doktrin. Tidak melulu memberikan konsep yang melangit nan imajiner. Diperlukan contoh-contoh yang mudah dijangkau secara tradisional berupa nilai luhur di masyarakat.

Baca Juga  Mogok, Senjata Kaum Buruh Semarang

“Titik keseimbangan diantara ekstrem-ekstrem,” tambahnya.

Memupus orang-orang ekstrim dengan memberi sumber informasi yang beragam. Satu sudut pandang, membuat orang tidak pernah bergaul dengan liyan yang menurunkan jam terbang.

“Orang moderat seperti pakar yang harus banyak latihan. Kalau hanya bergaul dengan orang sejenis. Lingkarannya menjadi sempit dan tidak memiliki alternatif yang lain,” tambah Direktur EIN Institute

Kontra Narasi Sedari Dini

Melalui buku “Berislam Secara Moderat” kontra narasi terhadap ekstrimisme secara metodologis.Setiap argumen yang tertulis berlandaskan karya-karya ulama. Sehingga memudahkan pembaca untuk menelusuri sumber-sumbernya.

Bagi Fahsin M. Faal, kontra narasi bisa dimulai dengan belajar pada guru agama yang memiliki sanad keilmuan. Ajarannya tidak hanya untuk disebarkan kepada muridnya, melainkan dipertanggungjawabkan kepada gurunya.

“Detil-detil dalam belajar agama bisa didapatkan jika sanad itu tersambung. Tak sekadar melihat kemampuan, namun juga adab dalam keseharian,” ucap Sekretaris PW GP Ansor Jawa Tengah.

Senada dengan Ellen Kristi, kontra narasi informasi untuk warga maya diperlukan . Konsepnya membumikan moderasi dari teks-teks ilmiah agar mudah dijangkau oleh setiap pengguna media sosial.

“[Buku} ini akan dibaca oleh milineal dan menjadi rujukan di era sekarang. Tentu, ada logika pembanding dalam setiap harinya di media sosial, dan buku ini bisa menjadi bahan kontra-narasi,” pungkasnya. (Reporter: Lie Sun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *