Muslim Syiah di Sisi Utara Jawa Tengah: Transformasi Kultural Komunitas Ahlul Bait di Pekalongan, Semarang dan Jepara

0
85

Oleh: Tedi Kholiludin, dkk (Peneliti di Lembaga Studi Sosial dan Agama)

Perkembangan Mutakhir

Tanggal 9 Februari 2006, sekitar dua ribu orang berkumpul di Balai Sindoro Kompleks PRPP Tawangmas Semarang. Jamaah tersebut ternyata sedang memperingati Tragedi Karbala yakni hari dimana terbunuhnya Sayidina Husain, cucunda Rasulullah. Jumlah tersebut tentu cukup besar untuk hitungan sebuah madzhab yang berada di luar mainstream. Fenomena tersebut semakin memperkokoh bahwa kaum Syi’ah memang eksis dan bukan tidak mungkin memberikan kontribusi yang tidak sedikit terhadap perkembangan agama Islam di Nusantara.

Tahun 2011, tepatnya tanggal 6 Desember mereka berkumpul di tempat yang berbeda. Kali ini Convention Hall Masjid Agung Jawa Tengah menjadi pilihan. Acara yang dihelat sama dengan lima tahun lalu, peringatan Asyura.  Peserta peringatan Asyura lebih banyak, sekitar 3000 orang yang datang dari berbagai daerah di Jawa Tengah.

Diakui atau tidak, reformasi menjadi semacam pintu gerbang bagi kebangkitan sejumlah mazhab keagamaan di Indonesia yang sebelumnya terpinggirkan. Satu di antaranya kaum Syiah. Setelah sekian lama bergerak di bawah tanah, mereka mulai berani menunjukkan eksistensi dirinya. Dalam bahasa lain, para pendukung Ali bin Abi Thalib itu telah meninggalkan masa taqiyyah.

Laporan Harian Suara Merdeka (11/02/06) menyebutkan bahwa meski masih diperdebatkan, kalangan Syiah menengarai, mazhab tersebut telah ada di tanah Jawa semenjak lama. Ia disyiarkan oleh Walisongo, terkecuali Kanjeng Sunan Kalijaga. Namun dalam perkembangannya, ajaran Syiah di sini hampir-hampir tak berbekas. Kalaulah ada yang tersisa, ia menyublim menjadi sekadar tradisi yang tak terlacak kejelasan akarnya. Seperti, tradisi Suranan yang di beberapa tempat acap disebut dengan istilah Kasan Kusen.

Potret muslim Syi’ah di Indonesia memang bukanlah cerita tentang sebuah komunitas yang besar. Mereka tidak jauh berbeda dengan minoritas muslim lainnya seperti Jemaat Ahmadiyah. Selain kecil secara kuantitas, komunitas muslim Syi’ah juga tidak memiliki ladang ekonomi yang dapat menunjang aktivitasnya. Inilah yang menjadi sebab mengapa muslim Syi’ah jarang tampak di permukaan. Jika tampakpun, mesti dibarengi dengan ketakutan-ketakutan. Tak heran kalau dalam komunitas ini dikenal istilah taqiyyah (quietism). Itu dimaksudkan untuk “menyembunyikan” sementara keyakinan sebagai cara untuk memproteksi diri dari tangan dzalim penguasa. Download Makalah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here