Sel. Sep 29th, 2020

elsaonline.com

Voice of the voiceless

Muslim Syiah di Sisi Utara Jawa Tengah

2 min read

Pesantren Al-Hadi di Pemalang

Pesantren Al-Hadi di Pemalang
Pesantren Al-Hadi di Pemalang

Potret muslim Syi’ah di Indonesia memang bukanlah cerita tentang sebuah komunitas yang besar. Mereka tidak jauh berbeda dengan minoritas muslim lainnya seperti Jemaat Ahmadiyah. Selain kecil secara kuantitas, komunitas muslim Syi’ah juga tidak memiliki ladang ekonomi yang dapat menunjang aktivitasnya. Inilah yang menjadi sebab mengapa muslim Syi’ah jarang tampak di permukaan. Jika tampakpun, mesti dibarengi dengan ketakutan-ketakutan. Tak heran kalau dalam komunitas ini dikenal istilah taqiyyah (quietism). Itu dimaksudkan untuk “menyembunyikan” sementara keyakinan sebagai cara untuk memproteksi diri dari tangan dzalim penguasa.

Perkembangan Syiah menemukan momentumnya pasca Revolusi Iran 1979. Seperti umumnya terjadi di Indonesia, ia dibawa oleh para pelajar yang menuntut ilmu di Negeri Iran. Semenjak itu, Syiah menjadi wacana intelektual yang menarik perhatian. Diskusi-diskusi digelar, buku-buku karya ulama-ulama dan intelektual Syiah pun dibabar. Perlahan-lahan, mazhab itu mulai mendapatkan legitimasinya sebagai “anak kandung” Islam.

Pada awal kemunculannya, para penganut Syiah di Jawa Tengah belum bisa sepenuhnya bergerak leluasa. Mereka masih kerap dibayangi prasangka dalam laku hidup di tengah masyarakatnya. Pada skala kecil, ia hanya menciptakan sentimen-sentimen yang tak berdampak nyata. Namun jika tak ditangani, ia akan mengarah pada gesekan-gesekan berbahaya.

Tentu masih segar dalam ingatan kita, saat pada tahun 2000, Pondok Pesantren Al-Hadi di Desa Brokoh Kecamatan Wonotunggal Kabupaten Batang diserbu dan dibubarkan massa. Pesantren yang mendasarkan diri pada akidah Syiah tersebut dituduh sesat. Untuk dapat bertahan pada masa itu, mereka harus melakukan taqiyah atau menyembunyikan jati diri. Misalnya, saat melakukan shalat bersama masyarakat di luar komunitas mereka, para penganut Syiah harus menyedekapkan tangan.

Meski hanya komunitas kecil, tetapi umat muslim Syi’ah tetap tidak bisa dinafikan eksistensinya sebagai bagian dari umat Islam Indonesia. Satu hal yang barangkali luput dari perhatian kebanyakan pemerhati masalah keislaman, adalah torehan prestasi kaum muslim Syi’ah dalam dakwah Islam di Indonesia. Download Paper

Baca Juga  Sinar Damai di Sudut Kebon Dalem

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *