Pancasila Bukan Ideologi

Donny Danardono
Donny Danardono
[Semarang –elsaonline.com] Pancasila itu bukan ideologi. Ideologi adalah kebenaran mutlak, sehingga jika pancasila sebagai ideologi maka akan menolak berbagai ideologi lainnya. Dalam waktu yang sama pancasila juga akan bisa disingkirkan oleh berbagai ideologi non pancasila.

Hal ini disampaikan oleh Donny Danardono dalam sarasehan “Melihat Raut Wajah Pancasila” di Aula Gereja Santo Fransiskus Xaverius Kebon Dalem (02/06/14).

Dalam sarasehan yang dihadiri oleh puluhan peserta dari aktifis lintas iman itu Donny memaparkan bahwa Pancasila harus didudukkan sebagai naskah historis yang muncul dari perdebatan antara kelompok Islam dan Nasionalis tentang dasar Negara Indonesia menjelang merdeka, yakni kisah tentang individu-individu yang majemuk yang menginginkan hidup bersama menjadi sebuah bangsa dalam Negara yang sama.

“Pancasila akan selalu mengingatkan kita tentang pentingnya persatuan dalam keberagaman, pentingnya menghormati perbedaan agar kita bisa terus bersatu,” papar Ketua Program Magister Lingkungan dan Perkotaan Universitas Katolik Soegijapranata Semarang tersebut.

Hal serupa disampaikan oleh Romo Aloys Budi Purnomo. Menurutnya, jika pancasila diposisikan sebagai ideologi maka seakan-akan pancasila memaksa semua warga bangsa untuk berideologi demikian. “Ketika pancasila sebagai ideologi maka yang terlihat pancasila itu sebagai cermin konflik, siapa yang tidak pancasialis maka digebug,” tandasnya.
Mendudukkan pancasila sebagai naskah historis akan lebih bermanfaat dalam merawat keberagaman. Artinya, jika antar warga bangsa hendak konflik maka naskah historis tersebut harus diingat dan dihayati, pancasila adalah satu kesepakatan dalam perbedaan.

Lebih jauh Romo yang bertugas di keuskupan Gereja Kebon Dalem ini menyampaikan bahwa keberagaman itu harus dirawat supaya tetap harmoni. Untuk merawat keharmonisan itu pancasila harus selalu dihadirkan dalam ingatan bersama. “Ketika saya bertugas di Karanganyar setiap rapat RT dibuka dengan membaca pancasila bersama,” pungkas Romo sembari mengenangnya. [elsa-ol/KA-@khoirulanwar_88]

Baca Juga  Membidik Semarang Dalam Cerita
spot_imgspot_img

Subscribe

Artikel Terkait

Perlindungan Pembela HAM di Era Digital: Catatan untuk Revisi UU HAM

Oleh: Tedi Kholiludin Kementerian Hak Asasi Manusia (Kemenham) telah meluncurkan...

Dekolonisasi HAM: Transformasi Kultural dan Mobilisasi Politik

Salah satu kritik terhadap penegakan hukum Hak Asasi Manusia...

Dinamika Dunia Sastra di Indonesia

Secara umum (terminologi), sastra dapat dimaknai sebagai bentuk karya...

Tidak Ada Ruang Publik Gratis dan Demokratis

Oleh: Alfian Ihsan Dosen Sosiologi Universitas Jenderal Soedirman   Apakah Anda selalu...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini