Peta Jalan Kajian Tionghoa Semarang (bagian 1)

Oleh: Tedi Kholiludin

Pengkaji Tionghoa Semarang, perlu berhutangbudi pada dua nama penting; Liem Thian Joe dan Donald Earl Willmott. Liem Thian Joe adalah seorang wartawan yang bekerja di Harian Warna Warta Semarang, sekitar tahun 1920-an. Setelahnya, ia bekerja di Djawa Tengah Review. Catatan tentang peristiwa penting di Semarang kemudian dibukukannya dalam Riwajat Semarang: Dari Djamannja Sam Poo Sampe Terhapusnja Kongkoan dan terbit pada tahun 1933.

Tulisan yang dimuat dalam Riwajat Semarang, ditulis sejak Maret 1931 hingga Juli 1933 untuk Djawa Tengah Review. Usai menulis cerita-cerita yang terjadi di Semarang, Ho Kim Joe, sahabat Liem Thian Joe kemudian berkata padanya bahwa catatan-catatan yang selesai dibuat, akan segera dibukukan. Riwajat Semarang awalnya diterbitkan oleh Boekhandel Ho Kim Joe-Semarang-Batavia, lalu diterbitkan ulang pada 2004 oleh Penerbit Hasta Wahana Jakarta. Liem meninggal di Semarang pada tahun 1963.

Nama berikut yang penting untuk dirujuk dalam setiap kajian Tionghoa Semarang adalah Donald Earl Willmott. Akhir tahun 1950-an ia datang ke Semarang untuk melakukan penelitian untuk kepentingan disertasinya di Cornell University, Amerika. Ia hendak menelaah tentang perubahan sosial budaya pada masyarakat Tionghoa di kota ini.

Di halaman persembahan, Willmott menyebut Liem Thian Joe sebagai sejarawan, jurnalis dan seorang kawan yang telah memberi fondasi pada studi ketionghoaan pada masa sebelumnya. Disertasi Willmott kemudian diterbitkan pada tahun 1960 dengan judul The Chinese of Semarang: A Changing Minority Community in Indonesia.

Wilmott mendiskusikan lima model perubahan sosial dan budaya di akhir kajiannya (purposive, emergent, necessitated, imposed dan emulative). Perubahan purposif atau yang disengaja, dihasilkan dari adopsi inovasi yang disengaja untuk tujuan mencapai tujuan atau nilai yang didefinisikan secara budaya. Sebuah inovasi akan diterima dalam suatu kelompok jika itu merupakan cara yang lebih efisien untuk mencapai tujuan atau nilai yang ditentukan secara budaya daripada melakukan cara yang ada saja. Ini salah satu temuan Willmott yang membuka diskusi mengenai perubahan sosial budaya.

Pasca Willmott, kajian mendalam tentang Tionghoa Semarang, terutama dari aspek sosial budaya relatif sepi, setidaknya yang terlihat sampai reformasi. Situasi yang tentu saja sangat bisa dimaklumi, mengingat pemerintahan Orde Baru begitu sangat membatasi publikasi yang berbau Tionghoa.

Tetapi, bukan berarti tidak ada sama sekali. Kajian-kajian yang bersinggungan dengan Tionghoa Semarang, masih terus dilakukan. Salah satunya kajian Charles Coppel. Ia mendaras sebuah manuskrip milik Liem Thian Joe yang berjumlah 31 halaman tanpa judul. Didalamnya Liem berbicara tentang riwayat ekonomi sang Raja Gula, Oei Tiong Ham. Coppel menuliskannya dalam “Liem Thian Joe’s Unpublished History of Kian Gwan”.

Amen Budiman juga menulis tentang Tionghoa, yang dalam isinya, beberapa kali menyebut Semarang. Dalam “Masyarakat Islam Tionghoa di Indonesia” yang diterbitkan pada 1979, Amen menggambarkan tentang kesulitan dan minimnya minat kalangan Tionghoa untuk memeluk agama Islam. Salah satunya, kata Amen, langkanya lektur agama Islam bagi masyarakat Tionghoa menyebabkan sulitnya kelompok ini memahami Islam secara lebih intens.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *