Qur’an Jefferson dan Sumpah Ellison

Thomas Jefferson
Thomas Jefferson

Oleh: Tedi Kholiludin

1765, Thomas Jefferson membeli sebuah al-Qur’an terjemahan, The Koran. Ia mendapatinya saat kuliah jurusan hukum di Williamsburg, Virginia. Dua volume Qur’an itu diterjemahkan oleh George Sale. Jefferson mendapatkan Qur’an itu, 31 tahun pasca penerjemahan dari bahasa Arab ke Inggris.

Tentu tak hanya sekedar membeli. Ada minat terhadap Islam, meski belum tentu menunjukkan minatnya terhadap hak-hak umat Islam. Rupanya, bacaannya terhadap John Locke mempengaruhi Jefferson.

John Locke, filusuf abad 17 asal Inggris pernah berujar dalam A Letter Concerning Toleration yang ditulisnya tahun 689. “Nay, if we may openly speak the truth, and as becomes one man to another, neither Pagan nor Mahometan (Muslim), nor Jew, ought to be excluded from the civil rights of the commonwealth because of his religion.” Kalimat ini yang rupa-rupanya menyusup ke jantung Jefferson.

Namun, kalau kita simak tahun dideklarasikan kemerdekaan Amerika, 1776, Islam belumlah ada dalam percaturan sosial masyarakat Amerika. Jefferson sendiri tidak tahu, apakah secara faktual orang Islam ada di Amerika pada tahun-tahun tersebut.

Jika tiba-tiba Islam masuk dalam percakapan John Locke, juga orang-orang Kristen, tentu itu konteks Eropa. Abad 16, persaingan antar sekte Kristen mengemuka. Ini yang menjadi alasan kenapa ada migrasi besar-besaran dari Eropa ke Amerika. Alasan untuk mencari kebebasan agama dan politik adalah salah satunya. Di Inggris, abad 16-17 muncul gejolak saat ada tuntutan dari kelompok Puritan yang ingin merombak tatanan Gereja resmi Inggris dari dalam.

Pada dasarnya mereka menghendaki semacam puritanisme yang lebih luas terhadap gereja nasional, menyederhanakan sistem keyakinan serta tata ibadah. Gagasan kelompok puritan ini dianggap membahayakan keutuhan negara, ancaman yang potensial memecah belah rakyat dan pasti merongrong wibawa Raja.

Ketika Raja James I memerintah (dari 1603-1625), banyak dari kelompok Separatis ini yang akhirnya keluar dari Inggris karena merasa tidak mungkin melakukan perubahan dogma seperti yang mereka kehendaki. Mereka berangkat ke Leiden, Belanda agar bisa beribadah menurut cara yang diyakininya. Beberapa bagian kecil dari mereka akhirnya memutuskan pergi dari Belanda dan sampai di tanah baru, Plymouth tahun 1620. Situasi tak kunjung membaik bagi nasib kelompok Puritan di Inggris. Saat Raja Charles I naik tahta tahun 1625, pembatasan khotbah terhadap pendeta Puritan semakin kuat. Mereka akhirnya juga berlayar ke Amerika pada tahun 1630.

Selain kelompok Puritan, datang juga di kelompok lain di Amerika yang berpindah karena alasan agama. William Penn dari aliran Quaker juga datang ke Amerika karena di Inggris mereka tidak mendapatkan ruang untuk mengekspresikan keyakinan keagamaannya. Penn kemudian mendirikan koloni di Pennsylvania.

Melihat sejarah awal Amerika tampak bahwa kebebasan beragama adalah salah satu motivasi yang mendorong mereka untuk berhijrah. Pendefinisian awal mereka soal kolektifitas adalah agama. Makanya koloni-koloni awal mereka adalah kelompok Puritan, Quacker, Mennonite dan lainnya. Meski begitu yang perlu diingat, apapun varian kekristenan di Amerika, Tuhannya itu ada dalam konsep Christendom. Tentu saja ini karena dilatari kelompok-kelompok tersebut yang anti “Established Church” di Inggris. Sehingga kemerdekaan yang mereka cari adalah kebebasan beragama.

Saat terjadi pertarungan hebat antar sekte di Eropa, sekelompok orang Kristen menjadikan Islam sebagai standar untuk menerapkan toleransi terhadap semua orang beriman. Dan ini juga yang dilakukan di Amerika, ketika mereka bermigrasi. Di negara barunya itu, mereka berdebat; bagaimana pengaturan terhadap keragaman agama tersebut? Apakah toleransi atau kebebasan beragama berlaku juga untuk orang Islam? Ataukah toleransi itu sebatas dalam konteks Kristen yang mengandung banyak aliran di dalamnya?

Jefferson, sekali lagi memang tidak melihat Muslim sebagai fakta masyarakat Amerika saat itu. Tapi, ajarannya tentang toleransi sebagaimana yang dia kaji dari Locke, membatnya harus seperti itu. Denise A. Spellberg, penulis buku “Thomas Jefferson’s Qur’an: Islam and the Founders menyebut Jefferson” tengah membela hak-hak Muslim demi “Muslim imajiner,” pengenalan atas mereka yang kewarganegaraan teoritisnya akan membuktikan universalitas sejati dari hak-hak warga Amerika.

***

Keith Ellison, kanan, sedang mengambil sumpah di atas Qur'an milik Jefferson (sumber: thinkprogress.org)
Keith Ellison, kanan, sedang mengambil sumpah di atas Qur’an milik Jefferson (sumber: thinkprogress.org)

Keith Maurice Ellison terpilih menjadi anggota Kongres pada 2006. Maju dari Partai Demokrat, Ellison menjadi anggota dari daerah pemilihan Minessota. Ia muslim pertama yang menjadi anggota Kongres di Amerika Serikat. Ellison yang saat itu berusia 43 tahun mematahkan segala tuduhan Alan Fine, seterunya dari Partai Republik ihwal keterlibatan masa lalunya dengan Louis Farrakhan, pemimpin negara Islam.

Januari 2007, Ellison disumpah pribadi. Laki-laki Afro-Amerika itu memutuskan untuk mengambil sumpah atas nama al-Qur’an milik Jefferson. Tangan kirinya ada di “dua jilid” Qur’an Jefferson. Tangan kanannya diangkat dengan jari-jari dirapatkan. Memakai jas hitam, pria berkacamata itu lantang mengucapkan sumpah sebagai anggota Kongres.

Dengan menjadikan Qur’an Jefferson ada alasan besar yang hendak disasar Ellison. Ia seperti hendak mengingatkan bangsa Amerika, bahwa Jefferson, presiden ketiga Amerika itu sangat peduli dengan keragaman bangsa. Begitu juga pendiri bangsa yang lain. George Washington dan Benjamin Franklin juga memiliki cara pandang yang progresif terhadap pluralisme.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *