“Saya Lebih Percaya Diri Jadi Penghayat”

[Semarang –elsaonline.com] Nana, 22 tahun, salah satu pemuda yang turut serta dalam pelatihan paralegal bagi penghayat kepercayaan mengaku akan mengungkapkan identitasnya ke publik. Hingga saat ini, ia masih ragu untuk menyampaikan ke masyarakat luas, karena masih khawatir akan dihambat dalam mencari kerja.

Kepada elsaonline, dia bercerita agak panjang soal rencananya tersebut. Setelah mendapat materi soal hukum, dia berharap akan lebih percaya diri menjadi seorang penghayat kepercayaan.

“Dari kecil saya tidak tahu soal penghayat. Keluarga saya semuanya penghayat. Tapi mereka tidak memaksa saya untuk ikut. Mungkin, saat dewasa ini saya mulai menentukan sikap soal penghayat,” kata Nana, di sela-sela pelatihan, Jum’at, 3 Oktober 2014.

Menurut Nana, dunia kepenghayatan sangat luas. Meski berasal dari keluarga penghayat, dia justru tak tahu masalah-masalah yang dihadapi para penghayat. Dia tak pernah berbicara soal penghayat kepada orang lain, namun terbatas pada keluarga besar saja.

Melalui forum paralegal, dia mengaku sudah mulai memahami dunia penghayat melalui permasalahan yang kerap terjadi. Dengan bekal itulah, dia akan menyampaikan apa yang didapatnya untuk membantu menyelesaikan permasalahan-permasalahan penghayat.

“Mungkin tidak banyak membantu. Tapi, pengalaman ini sangat berharga untuk tahu soal masalah-masalah penghayat. Sejak kecil saya belum tahu, baru tahu belakangan ini,” cetus Dia.

Pelatihan paralegal yang diselenggarakan Lembaga Studi Sosial Agama Semarang ini akan berakhir esok siang. Hingga kini, mereka masih memetakan permasalahan yang dihadapinya, sekaligus menganalisa secara hukum apa yang bisa dilakukan untuk menyelesaikan masalah tersebut. [elsa-ol/ Nurdin-@nazaristik]

Baca Juga  Menitipkan Harapan Pesantren Bebas Kekerasan Seksual Kepada Menteri Agama Baru
spot_imgspot_img

Subscribe

Artikel Terkait

Tidak Ada Ruang Publik Gratis dan Demokratis

Oleh: Alfian Ihsan Dosen Sosiologi Universitas Jenderal Soedirman   Apakah Anda selalu...

Hukum Lingkungan Internasional

Angin tidak punya KTP, sehingga kalau pencemaran udara terjadi...

Onderdistrict Tjilimoes

Buku ini berangkat dari pertanyaan sederhana, bagaimana perubahan yang...

Yaumul Quds: Politik Simbol dan Emosi Kolektif dalam Solidaritas Palestina

Oleh: Tedi Kholiludin Jarum jam belum genap menunjuk pukul 14.00...

EN (?): Konsep Ikatan Tak Terlihat dalam Budaya Jepang

Oleh : Iwan Madari (Pemerhati Kebudayaan Jepang) elsaonline.com Dalam hidup,...

3 KOMENTAR

  1. Agomo, keyakinan ,kapercayan manggon ono ing “kedung sing tanpo winates”..
    Agomo, kapercayan lan keyakinan ,ora barang “dol-dolan” sing biso di “enyang utowo di tawa’-tawa’no.
    Agomo,keyakinan lan kapercayan karo gusti sing murbe’ing dumadi/ panguwoso tunggal, ora kanggo “kembang lambe”(perdebatan).!! “Ibarat rebut balung tanpo isi” kabeh podo benere..(karena saling menunjukan kebenaran masing masing) IKU URUSANE GUSTI.
    Agomo mu iyo kanggo pribadimu,
    agomoku iyo kanggo
    privadiku.

    Sing penting podo rukun!!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini