Setelah 12 Tahun Vakum, GITJ Dermolo Kembali Difungsikan

0
30

[Semarang – elsaonline.com] Perasaan senang dan gembira, itulah kiranya yang dirasakan oleh para jemaat Gereja Injili di Tanah Jawa (GITJ) Dermolo, Jepara. Pasalnya, gereja yang berlokasi di Desa Dermolo hampir 12 tahun tidak difungsikan. Sebab setiap jemaat ketika aka menggunakan gereja tersebut untuk aktivitas, tetapi mereka selalu mendapatkan kendala. “Ya lega perasaan kami, karena gereja kami ini bisa kami fungsikan kembali”, tutur Pendeta Theofilus Tumijan ketika dihubungi Lembaga Studi Sosial dan Agama Semarang (2/12).

Sejak didirikan pada tahun 2002 pihak GITJ sudah mendapatkan surat Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Setelah selang satu tahun sejak pendirian, tepatnya tahun 2003 sempat beraktivitas sebentar namun kemudian ada larangan dari sejumlah pihak. “Mulai sejak itu, jemaat Kristen sementara tidak menempati gereja itu, nunggu sampai kepastian hukum dikeluarkan”, tambah Theofilus.

Theofilus menjelaskan, dari pihak gereja pada tahun 2013 berusaha melakukan audiensi dengan Dewan perwakilan Rakyat Daerah(DPRD)Jepara. Pada akhirnya, audiensi tersebut mengeluarkan hasil berupa rekomendasi yang dikeluarkan pada 27 Agustus. Inti dari rekomendasi tersebut gereja Pepanthan agar bisa difungsikan kembali sebagaimana mestinya.

Pihak DPRD Jepara, lanjutnya, juga merekomendasikan agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara melindungi hak masyarakatnya dalam menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan keyakinan. Dia merasa bersyukur, dengan keluarnya rekomendari dari DPRD Jepara tentu ini akan menjadikan umat Kristen mudah dalam melakukan ibadah.

“Namun dari pihak kami, memutuskan untuk mulai memfungsikan gereja ini mulai hari minggu (1/12), di samping agar suasana lingkungan sekitar kondusif dulu,  kebetulan pada bulan November juga bertepatan ada Pemilihan Petinggi (Pilpet)”, paparnya.

Sebelumnya, pihaknya dengan umat Kristen yang totalnya berjumlah 41 jiwa termasuk anak-anak ikut bergabung ke gereja di Balong yang harus ditempuh dengan jarak sekitar 5 kilometer. Menurut penuturan ketua GITJ Dermolo, Supardi, keberadaan umat Kristen di desa ini sudah mulai sekita tahun 1974. Namun, beberapa diantaranya ada yang bertransmigrasi.

Pendeta Theofilus berharap, jemaat Gereja Dermolo bisa memfungsikan gereja ini pada hari Minggu saja, tapi juga mereka dimudahkan dalam memanfaatkan gereja untuk selamanya. “Dalam doa saya tadi, harapannya kami bisa selamanya menggunakan gereja ini untuk ibadah, sebagai hak warga negara sebagaimana agama lainnya”,  harapannya. [elsa-ol/Wahib]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here