elsaonline.com

Voice of the voiceless

Setelah 19 tahun…

2 min read

Ibadah perdana Jemaat Gereja Injili di Tanah Jawa (GITJ) Dermolo, Jepara. [Foto: Istimewa]

Ibadah Perdana Jemaat GITJ Dermolo, Jepara

[Jepara -elsaonline.com] Sutoyo, Supardi dan Sri Murni meneteskan air mata dalam waktu yang nyaris bersamaan. Mereka, yang bisa dikategorikan sebagai jemaat senior itu, tak kuasa menahan haru sekaligus gembira. Pasalnya, gedung gereja yang sudah mendapatkan izin sejak tahun 2002 tersebut, baru bisa digunakan 19 tahun kemudian.

Tepatnya pada hari Minggu (07/Februari/2021) pagi, jemaat Gereja Injili di Tanah Jawa (GITJ) Dermolo, Kembang, Kabupaten Jepara, untuk kali pertama, menggunakan gedung tersebut. Seperti diketahui, polemik soal penggunaan gedung GITJ Dermolo menjadi percakapan publik setelah muncul penolakan tak lama setelah izin itu keluar.

Pelbagai upaya advokasi dilakukan tanpa henti, baik oleh pihak GITJ maupun kelompok masyarakat sipil yang turut mendampinginya. Langkah tersebut, kerap menemui jalan buntu, karena pemerintah ketika itu lebih memilih untuk mengendapkan masalah. Alhasil, jalan keluar tak pernah didapat. Padahal, GITJ Dermolo sudah memiliki legalitas.

Dalam kurun waktu tersebut, jemaat beribadah dengan jalan berpindah-pindah; sesekali di rumah jemaat, di halaman gereja atau di rumah pendeta. Satu waktu, mereka berjalan 7-9 kilometer menuju gereja terdekat untuk beribadah di Hari Raya Natal.

Hingga kemudian, keluarlah surat dari Bupati Jepara tertanggal 27 Januari 2021. Pada surat bernomor 452.2/0412 tersebut, Bupati memutuskan bahwa Izin Mendirikan Bangunan (IMB) Nomor: 648/150 tanggal 9 Maret 2002 tentang IMB rumah ibadah (gereja) di Desa Dermolo RT.02/VI Kecamatan Kembang Kabupaten Jepara dinyatakan tetap berlaku. Surat itu sekaligus mengakhiri polemik.

Jika Sutoyo, Supardi dan Sri Murni, menitikkan air mata, itu tentu kondisi yang sangat bisa dimaklumi. Mereka, selama ini, menjadi jemaat yang teguh meski prahara mendera.

Di dalam gedung gereja, tak lebih dari 45 jiwa mengikuti kebaktian. Pengurus gereja memang membatasi jemaat yang hendak beribadah, mengingat pandemi. Meski ini ibadah yang punya cerita, panitia tak membuat kesan spesial ataupun meriah. Ibadah dilakukan dengan penuh kesederhanaan. Di luar gereja, situasi terpantau aman. Tidak ada kerumunan masa dari pihak manapun.

Baca Juga  Ganjar “Malu” Atas Percobaan Perusakan Gereja di Purworejo

Di atas mimbar, Pendeta Teofillus Tumijan memimpin ibadah. Ia membawakan khutbah dengan tema, “Bersyukur atas berkat Tuhan.”

Tentang hal ini, Pendeta Teo, begitu ia akrab disapa memberikan intisari tentang temanya tersebut. “Mengapa harus bersyukur? Pertama, karena Allah telah mengasihani kita. Kedua, karena Allah telah memberkati kita dan terakhir, karena Allah telah menyertai dan memperhatikan kita,” ujarnya dari atas mimbar.

Dengan khidmat, jemaat yang sebagian besar berusia lanjut itu menyimak khutbah yang begitu sentimentil di hari yang teramat momentual.

Seminggu sebelum ibadah dilangsungkan, Pendeta Teo bersama pengurus gereja melakukan silaturahmi. “Kami berkeliling dan bersilaturahmi kepada Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (NU) Dermolo, tokoh-tokoh agama, Ibu Petinggi (kepala desa, red), Ketua RT dan RW, termasuk ke Forum Solidaritas Muslim Dermolo (FSMD) yang beberapa waktu sebelumnya berbeda pendapat. Semua hal tersebut kami lakukan agar hubungan kami tetap terjaga dengan baik setelah keluarnya surat dari Pak Bupati,” Pendeta Teo menjelaskan. [Tedi Kholiludin]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *