Shinta Nuriyah: Sahur Bersama Sebagai Ungkapan Persaudaraan Sesama

Ibu Shinta Nuriyah menyampaikan refleksinya dengan diiringi lantunan Saxophone. [foto: cahyono]
Ibu Shinta Nuriyah menyampaikan refleksinya dengan diiringi lantunan Saxophone. [Foto: Cahyono]
[Semarang –elsaonline.com] Tepat pukul 02.00 WIB, Ibu Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid disambut hangat jamaah sahur bersama. Dalam kegiatan bertema “Dengan Berpuasa Kita Menata Jiwa, Menata Bangsa” lantunan shalawat thobiby qolby, thala’al dan lainnya, mengalun syahdu di Kawasan Gereja Paroki Kebon Dalem-Semarang, Senin (29/06).

Istri almaghfurlah KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu menyampaikan, kegiatan sahur bersama ini sudah dilaksanakan selama lima belas tahun berturut-turut sejak presiden ke empat, almarhum masih di Istana. Ia mengaku, kegiatan ini selalu dimeriahkan bersama kaum minoritas dan berbagai kalangan menengah ke bawah hingga mahasiswa.

“Kegiatan ini sudah dilaksanakan selama lima belas tahun sejak Gus Dur masih di Istana. Kegiatan ini dimeriahkan bersama kaum dhuafa, masyarakat termarjinal, anak jalanan, tukang bangunan, tukang becak hingga mahasiswa,” ucapnya.

Perempuan tangguh ini juga berharap wajah Indonesia yang majemuk atau beragam, merupakan kenyataan yang tidak bisa diingkari. Identitas ini dapat mempersatukan diri satu sama lain guna menjaga toleransi dan persaudaraan.

“Wajah Indonesia dihiasi pelangi sangat indah, kesemua warna ini tidak saling mengingkari tapi bersatu menghiasi cakrawala nusantara Indonesia. Dalam hal ini sama dengan masyarakat Indonesia yang majemuk,” harapnya optimis.

Dalam kegiatan kemanusiaan ini, perempuan yang dikenal sebagai pelopor pejuang kemanusiaan ini menjadikannya sebagai ungkapan persaudaraan juga penghormatan terhadap sesama. Di samping ingin bersilaturahmi, dengan dilaksanakannya sahur bersama di bulan yang suci ini, ia menginginkan agar masyarakat saling menghormati dan menghargai dengan sesama.

“Saya ajak bersama-sama menyelenggarakan sahur, sebagai ungkapan persaudaraan, penghormatan dengan sesama agar dalam bulan yang suci ini kita saling menghormati, menghargai dengan sesama. Di samping saya ingin bersilaturahmi, menyapa saudara-saudara saya yang sudah menyambut hangat di bulan puasa bulan ramadhan ini. Agar kami dapat berbagi rasa, berbagi pengalaman dengan warga Kebon Dalem khususnya, dan saudara-saudara sekalian yang hadir,” ungkapnya.

Baca Juga  Sesaji di Tengah Erosi Tradisi

Menyinggung perjuangan Gus Dur semasa hidupnya, ia mencontohkan bahwa Gus Dur berjuang dalam melakukan pembelaan dan pengakuan terhadap agama dan kepercayaan minoritas. Hal itu dilakukan karena berpegang pada amanat undang-undang dasar 1945, dimana warga negaranya dijamin atas kebebasan melaksanakan peribadatan sesuai agama dan kepercayaannya masing-masing.

“Gus Dur mengakui agama dan kepercayaan minoritas karena berpegang pada amanat UUD 1945 yang menjamin atau melindungi warga negaranya. Semuanya dipersilahkan melakukan peribadatan berdasarkan berdasarkan agama dan keyakinan masing-masing,” pungkasnya sembari menutup acara dengan lantunan syiir munajat yang kerap dinisbatkan pada Gus Dur. [elsa-ol/Cahyono-@cahyonoanantato/002]

spot_imgspot_img

Subscribe

Artikel Terkait

Perlindungan Pembela HAM di Era Digital: Catatan untuk Revisi UU HAM

Oleh: Tedi Kholiludin Kementerian Hak Asasi Manusia (Kemenham) telah meluncurkan...

Dekolonisasi HAM: Transformasi Kultural dan Mobilisasi Politik

Salah satu kritik terhadap penegakan hukum Hak Asasi Manusia...

Dinamika Dunia Sastra di Indonesia

Secara umum (terminologi), sastra dapat dimaknai sebagai bentuk karya...

Tidak Ada Ruang Publik Gratis dan Demokratis

Oleh: Alfian Ihsan Dosen Sosiologi Universitas Jenderal Soedirman   Apakah Anda selalu...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini