Sumanto Al Qurtuby: Kelompok Anti Pluralisme Marak Mencari Panggung

[Semarang -elsaonline.com] Sabtu (29/7/) kemarin, keluarga besar Yayasan Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA), LPM Justisia dan LPM Invest berkesempatan berkunjung dan silaturrahmi di kediaman Prof. Sumanto Al Qurtuby yang berada di Pedurungan Semarang. Pengajar di King Fahd University Saudi Arabia itu sedang menikmati liburannya di Indonesia.

Ada banyak hal yang disampaikan Kang Manto, sapaan akrabnya. Beberapa diantaranya adalah bahwa ada hal yang perlu diperhatikan saat ini, yakni kelompok-kelompok anti pluralisme dan intoleran mulai marak mencari panggung di Indonesia.

Beberapa kelompok keagamaan mencoba untuk menggencarkan paham anti lokal. Mereka menjadikan Arab sebagai kiblat ideologi yang harus diterapkan di Indonesia. Kelompok ini seringkali mengatasnamakan bela Islam, dan bela ulama kepada khalayak. Namun sesungguhnya ada kepentingan-kepentingan politis dibalik gerakan kelompok ini.

Kelompok tersebut menggunakan media untuk melakukan propaganda dalam menyebarkan paham-paham Islamis-ekstrimist. Media memiliki peran yang besar dalam mengcounter informasi dan mempengaruhi pemikiran publik. Informasi yang digencarkan seringkali dimanipulasi dengan tujuan menarik pembaca agar tergerak dalam paham keagamaan yang ekstrim. Misalnya, isu-isu yang sensitif seperti konflik Palestina-Israel dan masih banyak yang lain.

Informasi yang dimanipulasi tersebut dijadikan bahan jualan oleh kaum-kaum islamis-ekstrimis untuk mempengaruhi pemahaman umat Islam lainnya. Pada konflik Palestina-Israel seringklai dibelokkan oleh media muslim ekstrimis sebagai konflik agama antara muslim dan yahudi. Padahal pada kenyataanya, itu adalah konflik teritorial. Muslim dan Kristen di Palestina berkoalisi melawan tentara Israel.

Sehingga, sudah seharusnya kelompok moderat harus jeli dalam menerima informasi-informasi tersebut yang digencarkan oleh kelompok kelompok politik-ideologis yang bersifat provokatif. Harus ada media sebagai pembanding untuk menyebarkan informasi yang benar. [Ulya/elsa-ol]

Baca Juga  Pondok Damai sebagai Horison Kemungkinan
spot_imgspot_img

Subscribe

Artikel Terkait

Tidak Ada Ruang Publik Gratis dan Demokratis

Oleh: Alfian Ihsan Dosen Sosiologi Universitas Jenderal Soedirman   Apakah Anda selalu...

Hukum Lingkungan Internasional

Angin tidak punya KTP, sehingga kalau pencemaran udara terjadi...

Onderdistrict Tjilimoes

Buku ini berangkat dari pertanyaan sederhana, bagaimana perubahan yang...

Yaumul Quds: Politik Simbol dan Emosi Kolektif dalam Solidaritas Palestina

Oleh: Tedi Kholiludin Jarum jam belum genap menunjuk pukul 14.00...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini