“The Force Be With You” dan Kebiasaan Berkunjung

0
55

Oleh: Alhilyatuz Zakiyyah F

“Tetapi, bagaimana hal ini menjadi mungkin: mencintai yang Maha Tinggi sambil juga mencintai teknologi tinggi dan menikmati efek-efek spektral, virtual, dan surrealnya?…” (John D. Caputo: 2013)

Dengan kalimat yang mendalam itu saya ingin menceritakan sebuah kunjungan atau anggap saja upaya pertemuan yang memang disengaja dengan salah seorang Romo. Hari itu Kamis (19/06) saya bersama Ulia, Hasna, Riza dan Hasti (semuanya muslim) menuju Pastoran Johannes Maria Tinjomoyo Dhuwur Kaligarang (Johar T Wurlirang), menemui seorang Romo yang gemar memainkan seksofon dalam berbagai acara lintas iman. Beliau adalah Romo Aloys Budi Pr.

Jika biasanya kami datang karena mengikuti acara di pastoran, kali ini kami memberanikan diri datang ke rumah Romo Budi dalam rangka sekadar berkunjung (silaturrahmi). Kami memang ingin mendengar bagaimana pengalaman Romo membangun semangat perdamaian dan toleransi bersama aktivis lainnya di Semarang.

Mantan Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung (HAK) tahun 2008 ini sangat terbuka dan ramah. Hal ini terasa ketika saya meminta Riza pertama kalinya mengenalkan diri dan menghubungi Romo via whatsapp. Beberapa menit Romo kemudian keluar dari kediamannya membukakan pintu yang tadinya telah terkunci. Sebelumnya kami mengira Romo sedang bepergian.

Romo menyalami kami berucap “minal aidin wal faidzin” dengan senyum menyala. Kebetulan memang masih dalam suasana Idul Fitri. Kemudian Romo menyuguhkan anggur merah dan kue kering. Romo menceritakan bagaimana pertemuan pertamanya dengan salah satu pegiat HAM, Mas Tedi Kholiludin di Gereja Katedral. Dari pertemuan itu berlanjutlah kerja sama antar keduanya sebagai pintu pembuka kajian dan gerakan interreligius.

Sebagai seorang yang aktif menyuarakan semangat perdamaian sekaligus menjadi Pastur Kepala Campus Ministry (Reksa Pastural Kampus), Romo Budi tentu mengalami jatuh bangun ketika membangun gerakan. Begini katanya:

“Kami di HAK dalam proses kaderisasi selama tiga hari tidak menggembirakan hasilnya secara spontan. Tapi saya yakin kader-kader itu kemudian muncul ada di mana-mana. Karena saya terhibur ketika berjumpa dengan kawan-kawan muda di kota-kota lain, mereka bilang Romo saya dulu ikut kaderisasi di HAK lho sekarang saya aktif di sana. Ternyata keberhasilan yang saya pandang baru sekejab mata tidak ditunjukkan dalam arti itu. Saya menabur tapi tidak langsung menuai hasilnya, bahkan yang menuai itu orang lain di tempat lain. Nah itu yang membuat saya terhibur,” terangnya.

Romo Budi juga memiliki pembawaan optimis. Bagian akhir pernyataan Romo saya kira adalah hal yang hendak saya sebut sikap legowo. Mungkin inilah yang bisa saya petik bahwa semakin dalam ilmu seseorang maka semakin bijak pula dalam memaknai kehidupan. Barangkali segala perkara adalah kenikmatan.

Siapa sangka Romo pernah mengikuti pendalaman materi Islamic Studies dengan mantan rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. M. Amin Abdullah pada tahun 1996 sampai 1998. Romo memiliki kesimpulan bahwa siapa saja yang ingin belajar Islam rahmatan lil alamin seharusnya belajar di Indonesia. Berbekal pengalaman intelektual itu Romo mengimbanginya dengan eksperiensial learning. Di sinilah pengalaman itu kemudian hidup dari proses dialog bahkan benturan-benturan perbedaan. Tapi ini yang kemudian memperkaya diri.

Dari kunjungan itu banyak sekali narasi kehidupan yang Romo bagikan. Tentang perjalanan hidup, proses menjadi Romo, kebiasaan menulis sampai makan malam yang jarang dilakukan. Saya berpikir, apakah kawan-kawan di luar sana memiliki keberanian bahkan kebiasaan melakukan hal ini? Sedangkan saat ini kita ditempa teknologi yang sedemikian mudah dan cepat melakukan perjumpaan melalui virtual.

Sebuah buku terjemahan karya John D. Caputo berjudul Agama Cinta Agama Masa Depan tentang The Force Be With You cukup membuat saya berpikir bagaimana hidup di zaman teknologi yang canggih bersamaan dengan mekarnya keberagamaan seseorang. Apakah di dalamnya masih terdapat kebencian, dendam, niat menjatuhkan satu sama lain?

Pada halaman belakang ada kalimat indah yang berbunyi; “Kasih bukanlah sebuah makna untuk memberi definisi, tetapi sesuatu untuk dilakukan, sesuatu untuk dibuat.” Kasih seharusnya melekat pada jiwa seseorang. Dan salah satu cara menaburnya ialah menyengaja melakukan perjumpaan-perjumpaan kecil dengan orang yang dianggap memiliki perbedaan (baca; keberagaman agama dan keyakinan). Saya rasa hal ini akan memengaruhi cara pandang seseorang bahwa perbedaan adalah hal yang harus disyukuri dan dijaga.

Bertemu langsung dengan bertemu melalui media sosial sangat berbeda. Jangan sampai budaya mengunjungi para orang tua semakin luntur dengan adanya alat komunikasi yang mudah dijangkau. Sentuhan fisik seperti berjabat tangan atau bertatap muka memberikan efek yang lebih lama untuk dikenang dalam ingatan. Ini harus tetap menjadi yang pertama, jika jarak memang tidak memungkinkan barulah saatnya melakukan hubungan melalui dunia virtual.

Terakhir, saat berpamitan pulang kami diberkati dengan membawa pulang anggur merah dari Romo Budi. Ini tidak akan mungkin didapatkan ketika berinteraksi melalui media sosial bukan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here