Tentang Konversi

0
192
Sumber Foto: https://raseef22.com/en/life/2017/04/13/thinking-converting-another-religion-egypt-think/

Oleh: Tedi Kholiludin

Ada sekitar 20-25 abang becak memarkir kendaraannya di depan sebuah gereja Katolik. Di siang terik, mereka kadang tertidur lunglai di serambi gereja. Pengurus gereja dan beberapa romo yang melihat mereka, tampak membiarkannya saja. Walaupun tentu saja, secara aturan, tempat itu bukan disediakan sebagai ruang istirahat. Abang becak itu berasal dari latar belakang keyakinan yang berbeda.

Melihat abang becak yang sering kepayahan, pihak gereja kemudian menyediakan ruang khusus buat mereka beristirahat sehingga tidak “terdampar” di serambi. Ruangnya tidak istimewa memang, tetapi cukup menghindarkan mereka yang sudah sepuh itu dari panas dan hujan. Karena tiap hari berinteraksi, muncullah ide untuk melembagakan perkumpulan ini.

Pihak gereja tak pernah turut nimbrung urusan mereka. Tapi justru dari abang becak yang merasa perlu menginformasikan tentang rencana mereka untuk membuat paguyuban. Dalam beberapa pertemuan, salah seorang pengurus gereja akhirnya ikut hadir dan terkadang menyediakan minuman alakadarnya. Aktivitas ini terus berjalan dari tahun ke tahun.

Karena merasa nyaman dan ada perasaan terlindungi, beberapa abang becak akhirnya kemudian meminta dibaptis sebagai warga Katolik. Tidak semuanya minta dibaptis. Ada yang tetap dengan keyakinan awalnya, meski mungkin bukan seorang yang religius.

Seorang wanita pekerja seks yang menyadari bahwa dirinya berlumuran dosa, tiap saat berusaha untuk keluar dari jerat itu. Ada momen yang membuatnya sadar bahwa apa yang dilakukannya itu sejatinya bertentangan dengan nilai dirinya, juga persepsi lingkungannya. Hanya saja, ia tak bisa mengelak dari kenyataan bahwa ia sangat memerlukan materi untuk mencukupi keperluannya.

Saat semua orang di lingkarannya pergi menjauh, seorang pendeta datang menemuinya. Sang Pendeta mencoba mendengarnya. Meski datang dengan titel sebagai pendeta, tapi ia tak menghakiminya dengan agama. Pendeta ini tentu tahu bahwa agama apapun tak bisa mengamini prilaku pekerja seks.

Pendeta ini kemudian mengenalkan tentang Hukum Kasih atau Hukum yang Terutama. Saat Orang Farisi bertanya “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” (Matius 22:36), Yesus kemudian menjawab “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Matius 22: 37-39)

Mula-mula ia sekadar mengabarkan Injil. Tapi rupanya, daulat Alkitab memberikan efek psikologis yang besar bagi pekerja seks itu. Setelah melewati sebuah proses yang panjang, ia meminta pendeta untuk dibaptis.

Islamophobia merupakan salah satu gejala di Eropa. Praktik-praktik kekerasan, bahkan hingga tindakan teror, banyak melibatkan kelompok Islam didalamnya. Inilah keadaan yang kemudian membuat Islam menjadi stigma. Sejarah Eropa sebagai bangsa yang relatif homogen pada awalnya, berada pada situasi transisional ketika banyak imigran muslim masuk ke pelbagai wilayah disana.

Sebuah komunitas muslim di Eropa menunjukkan performa sebaliknya. Mereka membaur dan menjadi bagian dari masyarakat Eropa yang lebih besar. Tentu ada banyak upaya yang dilakukan. Salah satunya dengan menggiatkan kampanye bahwa Islam itu agama damai. Jika ada orang Islam yang mencederai sesamanya, tentu keberislamannya patut dipertanyakan.

Mereka bergiat di pelbagai aktivitas sosial dan kemanusiaan. Melihat situasi demikian, beberapa orang yang berinteraksi kemudian bertanya dan ingin mengetahui lebih lanjut tentang Islam. Perlahan, ada banyak orang yang mulai tercerahkan. Mereka mendapatkan asupan lain yang mengabarkan mengenai hakikat Islam. Diantara mereka kemudian masuk Islam.

***

Tiga kisah diatas adalah kisah nyata tentang sebuah proses konversi, perpindahan agama. Cerita itu saya anyam dari beberapa kejadian yang diceritakan langsung maupun yang saya dapati dari sebuah riset. Konversi, menyarikan dari peristiwa tersebut merupakan gejala sadar. Situasi mental dimana sang subjek melakukannya dengan tanpa paksaan penuh kesadaran. Meski begitu, dorongan primernya, mula-mula adalah pihak eksternal. Ada contoh yang mempertontonkan prilaku dihadapannya. Awalnya, subjek tak langsung mengamini. Ada negosiasi disana. Tetapi, pelan-pelan, ada proses filterisasi hingga berujung penerimaan.

Tiga ilustrasi diatas saya sebut sebagai “external voluntary conversions”. Dan di luar itu, saya menemukan model konversi eksternal yang non-sukarela, bahkan agak sedikit dengan paksaan. Sebut saja ini sebagai model “coercive conversions” yang dilakukan melalui kekuatan politik. Di era Orde Baru misalnya, ketika pemerintah membatasi selebrasi tradisi dan keagamaan yang berasal dari Tiongkok, penganut Konfusius bermigrasi (beberapa diantaranya secara terpaksa) ke lima agama lainnya. Model konversi lain mungkin berada di wilayah antara; sukarela-paksaan-formalitas.

Model konversi yang juga ingin saya sebutkan disini adalah “internal conversions”. Ini saya temukan misalnya pada mereka yang melakukan konversi atas dasar pengalaman batin yang sangat-sangat personal. Saya sempat bertanya kepada beberapa orang pengurus sebuah organisasi Pengahyat Kepercayaan di Jawa Tengah. Meski tidak masif, mereka yang kemudian memutuskan untuk menjadi penghayat kepercayaan, rata-rata didorong oleh kehendak personal yang diawali dengan gejala-gejala batin seperti sembuh dari sakit yang sangat parah dan menahun. Situasi tersebut mendorong seseorang untuk melakukan konversi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here