Tabib dari Isfahan: Ibnu Sina dalam Film “The Physician”

0
135

Oleh: Tedi Kholiludin

Karya sinematografi tentang seorang tokoh selalu merupakan tafsir. Ceritanya tak melulu sealur dengan buku-buku yang dianggap otoritatif tentang tokoh tersebut. Gambaran tentang Ibnu Sina (Avicenna), seorang ilmuwan muslim abad 11, dalam film The Physician (2013) setidaknya merefleksikan tafsir atas kehidupan sang tabib dari Isfahan, serta konteks dimana ia hidup. Dan, banyak sekuel yang memang menunjukkan tidak akuratnya sejarah di The Physician.

Menyimak The Physician
Film yang diangkat dari Novel karya Noah Gordon, “Der Medicus atau The Physician,” bercerita tentang kehidupan masyarakat Persia abad 11. Cerita bermula ketika seorang pemuda Inggris Kristen, Robert Cole (diperankan Tom Payne), yang hendak mencari seorang guru di Isfahan, Persia. Setelah ibunya meninggal dan ia terpisah dengan kedua adiknya, Rob ikut berkelana bersama seorang tabib, biasa disebut Barber (diperankan Stellan Skarsgård). Tak terlampau jelas siapa namanya, tapi Barber atau tukang cukur adalah sebutan bagi mereka yang bisa menyembuhkan penyakit di Inggris pada masa tersebut.

Karena sudah udzur, penglihatan Barber rupanya mengalami penurunan. Oleh seorang tabib Yahudi, Barber diobati hingga bisa melihat kembali dengan jelas. Mencermati kesembuhan Barber, Rob mencari tahu dari siapa tabib Yahudi itu belajar. “ Apa yang kau lakukan, bisa menyembuhkan mata guruku? Dimana kau belajarnya?” tanya Rob kepada tabib Yahudi itu. “Suatu daerah yang dikenal dengan Isfahan,” jawabnya. Rob belum dengar nama itu. Sang tabib kemudian membuka sebuah peta dan menunjukkan dimana itu Isfahan. “Tabib terbaik di dunia, mengajarkanku disana. Ibnu Sina,” kata tabib Yahudi ihwal guru yang telah membuatnya mengerti tentang dunia pengobatan.

Tekad bulat akhirnya terpatri dalam diri Rob. Ia ingin berguru pada Ibnu Sina, tabib dari Isfahan. Satu tahun lebih Rob berada di kapal sebelum kemudian sampai di Persia. Teringat pesan bahwa masyarakat disana hanya menerima kelompok Yahudi, Rob bersunat sekaligus mengganti nama menjadi Jesse bin Benjamin. Setelah sempat diterpa badai pasar ketika dua bulan dalam perjalanan darat menuju Isfahan, Rob akhirnya sampai di “madrasah.” Di tempat inilah Ibnu Sina mengajar murid-muridnya.

Rob sempat mengalami kendala untuk masuk di madrasah tersebut. Ia ditanya oleh Davout Hussein (seorang pegawai madrasah) mengenai surat rekomendasi yang memastikan kelayakan dirinya secara keilmuan. Karena tidak bisa menunjukkan itu, Davout menyuruh petugas keamanan mengeluarkan dan memukuli Jesse alias Rob. Seorang pria berjubah putih kemudian mendekatinya. Ia terlihat menyuruh beberapa muridnya untuk segera mengangkat dan memindahkannya dari kerumunan orang. Saat siuman, Jesse memegang jahitan di kepalanya. Dan selama proses itu pula, ia tak merasakan sakit apapun. Lelaki berjubah putih yang tak lain adalah Ibnu Sina (diperankan Ben Kingsley) menjelaskan, kalau ia membius Jesse. “Dengan salep getah Poppy [opium/papaver somniferum],” kata Ibnu Sina. Di Persia, obat itu sudah digunakan berabad-abad untuk membius manusia. Ibnu Sina melihat minat besar Jesse pada dunia pengobatan. “Aku datang untuk belajar pada Ibnu Sina,” Jesse menjelaskan maksudnya.

Singkat cerita, Jesse diterima sebagai murid madrasah kedokteran. Sungguh kebahagiaan yang luar biasa. Kegembiraanya bertambah genap ketika Mirdin, teman madrasahnya mengatakan bahwa yang menolong dan mengobatinya adalah Ibnu Sina. Ia terperangah dan nyaris tak bisa berkata-kata, menghadapi kenyataan bahwa ia ditolong oleh orang yang selama ini akan dijadikannya sebagai guru.

Ibnu Sina tak hanya mengajarkan soal teknis pengobatan dan kedokteran. Lebih dari itu, ia juga membekali murid-muridnya tentang etika penyembuhan. Kata Ibnu Sina, “untuk mengobati suatu penyakit, perlakukan dengan baik orang yang menderita.” Setiap akan memulai pengobatan terhadap pasien-pasiennya, Ibnu Sina selalu mengatakan, “namaku Ibnu Sina… Dengan izinmu, aku akan merawatmu.”

Konflik politik menjadi bumbu dalam film ini. Kelompok formalis agama kemudian bersekutu dengan tentara Bani Seljuk untuk menggulingkan Shah Ad-Daula. Tentara Seljuk yang nomaden itu hendak membalas kematian anak pemimpin mereka dengan mengirim seorang penderita penyakit pes (black death). Akhirnya, penyakit itu menjadi wabah yang mematikan di Isfahan.

Ibnu Sina kemudian meminta penduduk Isfahan untuk meninggalkan kota itu karena wabah yang mematikan, tak terkecuali Shah. Namun, Shah menolak untuk pergi dari istana. “Sebuah wabah takkan peduli siapa yang kaya atau miskin, bangsa rendah atau bangsa yang tinggi. Kuharap kau meninggalkan Isfahan. Dindingpun takkan bisa menghentikannya,” kata Jesse kepada Shah. Ibnu Sina dan murid-muridnya sibuk mencari tahu penyakit ini dan bagaimana menghentikannya. Jawaban pun ditemukan; basmi seluruh tikus.

Selain bumbu politik, film ini juga diselingi tarikan antara dogma agama dan ilmu pengetahuan. Ini tersaji misalnya dalam kasus otopsi mayat. Qasim, penganut Zoroaster meminta Jesse untuk tidak menguburkan mayatnya ketika ia meninggal nanti. “Ketika aku pergi, bawa tubuhku ke meneara dan biarkan dimakan burung… Penganut Zoroaster meninggalkan tubuh mereka ke burung bangkai. Mereka membersihkan jiwa kita dari materi tetap,” pesan Qosim.

Sepeninggal Qasim, Jesse ingin menuntaskan teka-teki yang belum terjawab selama ini, apa isi tubuh manusia. Berpegang pada wasiat Qasim-lah ia kemudian hendka menjawab pertanyaan yang menggumpal di dirinya tersebut. Ia sadar kalau hal tersebut merupakan hal yang terlarang. Tapi, ia bertekad menabrak tabu tersebut. Jesse pun mulai menemukan dan mengetahui detail demi detail tentang anatomi tubuh manusia dengan mengotopsi jasad Qosim.

Rupanya, apa yang dilakukan oleh Jesse diketahui Davout yang sedari awal memang tidak suka terhadap Jesse termasuk Ibnu Sina. Keduanya dihadapkan pada para pemimpin agama untuk diadili karena dianggap telah melanggar dogma. Setelah nyaris dipancung, pasukan kerajaan membebaskan keduanya, Di istana, Shah menderita sakit di perutnya yang tak biasa. Berbekal pengalamannya mengenali anatomi tubuh manusia, Jesse mengoperasi dan mengangkat usus buntu Shah. Berhasil.

Di luar istana, Mullah yang bersekutu dengan Seljuk terus menggempur istana. Madrasah tempat Ibnu Sina mengajar dihancurkan. Kelompok Yahudi juga diserang. Shah yang baru saja sembuh, tak ingin terus terlentang di tempat tidur meski baru saja dioperasi. Ia memilih untuk terjun di medan perang. Di akhir cerita, Shah tewas di medan laga. Dinasti Seljuk menjadi penguasa di Persia.

Madrasah tempat mengajar Ibnu Sina, luluh lantak. Mayat-mayat bergelimpangan. Ibnu Sina duduk terdiam di atas sebuah kursi tempatnya mendaras pikiran-pikiran Aristoteles dan filusuf lainnya. Gelas kecil yang ia pegang terjatuh. Rupanya ia telah meminum racun yang tak lama kemudian merenggut nyawanya.

Mengkritisi “The Physician”
Terhadap sebuah film yang bermaksud untuk memberikan panggung terhadap narasi historis, ada dua sikap yang bisa diambil. Pertama, apologetik. Kedua, kritis. Jika yang pertama, mencoba untuk bertahan bahwa perlu koreksi total karena tidak sesuai dengan “sejarah resmi,” sementara yang kedua, mengambil moral cerita yang dihadirkan sembari mencari rujukan lain sebagai opini alternatif.

Ibnu Sina atau Abu ‘Ali al-Husain ibn ‘Abd-Allah ibn Hasan ibn ‘Ali ibn Sina, lahir pada 23 Agustus 980 atau Safar, 370 H di sebuah wilayah dekat Bukhara yang disebut Kharmaithan atau Afshana. Kini, wilayah tersebut masuk dalam administrasi Negara Uzbekistan. Hari lahirnya diperingati sebagai Hari Kedokteran di Iran. Ayah Ibnu Sina, seorang pimpinan lokal di Afshana tidak terlampau jelas asalnya; Arab, Turki atau Persia. Ibunya, Setareh, adalah orang Persia.

Pembentukan keilmuan Ibnu Sina dimulai ketika keluarganya pindah ke Bukhara. Ia belajar tak hanya tentang agama, tapi juga filsafat, aritmetika dan geometri. Ali Abdullah Nateli, seorang yang sangat memahami filsafat, suatu hari datang ke Bukhara. Ayah Ibnu Sina mengajaknya ke rumah mereka dan meminta Nateli mengajari Ibnu Sina.

Bersama Natelli, Ibnu Sina belajar logika dasar untuk membaca Eisagoge karyanya Porphyry, Euclid, dan Almagest-nya Ptolemeus. Selain itu, karya Plato dan Aristoteles juga ia lahap. Pikiran-pikiran Peripatetik dan Stoik dalam tulisan Ibnu Sina banyak berasal dari sumber ini. Dari sini, Ibnu Sina mulai merambah ilmu kedokteran. Kehidupan Ibnu Sina di Bukhara berlangsung hingga 999. Ia kemudian meninggalkan Bukhara menuju Gorganj dan tinggal disana hingga 1012. Dari Gorganj ia pindah ke Jorjan (1013), Ray (1015), Hamadan (1024) dan Isfahan (1037). Di Isfahan inilah Ibnu Sina bekerja dan kerap mendapat pujian dari Ad-Daula. Dalam perjalanan ke Hamadan, Ibnu Sina meninggal dan dimakamkan disana pada Juni atau Juli tahun 1037 dalam usia 58 tahun.

Biografi ini sekaligus membedakannya dengan cerita dalam The Physician. Di film itu, Ibnu Sina digambarkan meninggal di madrasahnya dengan cara meminum racun setelah kekuasaan Seljuk menguasai Persia. Cerita tentang posisi Ibnu Sina dalam pemerintahan Ad-Daulah dari Dinasti Ali Buyeh juga agak sedikit berbeda dengan yang tersaji di buku sejarah. Dalam film digambarkan Ibnu Sina dan istana itu agak sedikit berjarak, tapi dalam buku sejarah, Ibnu Sina adalah bagian integral dari istana.

Saya mencoba untuk tidak bersikap apologetik dan mencari “kuasa pengetahuan” dalam film ini. Meski harus diakui, media film banyak digunakan untuk menunjukan superioritas sebuah kelompok atas golongan lainnya.

Terlepas dari akurasi penggambaran cerita yang tak sebangun dengan narasi sejarahnya, beberapa hal ingin saya amini dari The Physician. Pertama, film ini dengan cukup terbuka menunjukkan bahwa peradaban Islam mengalami zaman keemasannya. Tak hanya itu, peradaban Arab sendiri secara umum sangat berkontribusi pada peradaban dunia. Kata Afnan (1958), “The Arabs contributed a high sense of mission; the Persians their culture and sense of history; the Christian Syriacs their linguistic versatility; the Harranians their Hellenistic heritage and the Indians their ancient lore.”

Kedua, kejayaan peradaban Islam tak lepas dari keterbukaan dalam menerima produk kebudayaan lain. Bacaan Ibnu Sina yang kuat terhadap karya pemikir Yunani, menjadi salah satu faktor pendorong lahirnya era emas peradaban Islam. Itu diperkuat dengan harmoni yang muncul diantara pemeluk agama yang berbeda. Pemikiran berkembang pesat. Karena pikiran cemerlang itulah peradaban menjadi maju. Iran, meminjam istilahnya Axworthy (2008), menjadi “empire of the mind.”

Ketiga, perselingkuhan antara agama dan politik kerap menjatuhkan wibawa kelompok agama itu sendiri. Di bagian akhir, ada adegan dimana pemimpin Mullah bersimpuh di hadapan tentara Seljuk sebagai bukti penerimaan mereka terhadap pemimpin baru. Itu sekaligus menggambarkan betapa klaim keagamaan yang digunakan untuk maksud politik malah menggiring munculnya despotisme baru.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here