Wahabisme Masuk Melalui Jamaah Haji

Kiai Hafidz Taftazani Pengurus Pusat Asbihu PBNU menyampaikan bahaya Wahabi dalam diskusi yang digelar di Gedung PWNU Jalan Dr Cipto 180 Semarang.
Kiai Hafidz Taftazani Pengurus Pusat Asbihu PBNU menyampaikan bahaya Wahabi dalam diskusi yang digelar di Gedung PWNU Jalan Dr Cipto 180 Semarang.

[Semarang –elsaonline.com]  Paham wahabi menyebar ke Indonesia, dari Saudi Arabia, salah satunya melalui jamaah haji. Paham yang berpusat di beberapa kota di Saudi seperti Mekah, Madinah, Jeddah itu merambah ke jamaah-jamaah haji yang belum memahmi aliran-aliran dalam Islam.

Hal ini terungkap dalam diskusi dan pengukuhan Asosiasi Bina Haji dan Umrah (ASBIHU) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jateng, Minggu (23/3) kemarin.

Diskusi yang digelar di Gedung PWNU Jalan Dr Cipto 180 Semarang ini menghadirkan narasumber Kiai Nuril Huda dan Kiai Hafidz Taftazani selaku Pengurus Pusat Asbihu PBNU. Kedua pendiri Asbihu ini menyampaikan, gerakan wahabisme di Indonesia sudah menyebar hampir ke semua kalangan.

“Wahabisme ini jelas sangat bertentangan paham ahlussunnah wal jamaah. Mereka mengharam-haramkan orang untuk berziarah dan juga membongkar makam keluarga nabi di dekat masjid madinah. Padahal selama ini kita sangat menghormati makam-makam leluhur Islam,” tutur deklarator Asbihu, Kiai Hafidz Taftazani.

Sebagai informasi, kaum Wahabisme di Saudi telah meratakan kuburan makam para sahabat Nabi Muhammad SAW di Ma’la, di Makah. Bahkan, tempat kelahiran kanjeng Nabi dijadikan kandang unta.

Sekarang ini, situs-situs sejarah Islam telah dilenyapkan oleh kaum Wahabi. Satu-satunya situs yang masih tersisa adalah makam Nabi Muhammad di Madinah. Itu yang kemudian menjadi agenda faktor berdirinya NU, karena menyikapi gerakan wahabi yang telah memporakporandakan situs-situs Islam.

 

Menularkan

Hafidz menjelaskan, paham Wahabi merasuk kepada para jamaah haji melalui tatap muka langsung dan juga melalui tulisan-tulisan. Diterangkannya, orang-orang Wahabi di Saudi menularkan pahamnya dilakukan diberbagai tempat termasuk masjid dan makam.

“Di Saudi ini, betapa gencarnya orang Wahabi memproklamirkan pahamnya. Di semua tempat mereka proklamirkan, termasuk di masjid, di tempat-tempat iabadah, dan makam. Mereka tak bosan-bosan menggemborkan paham Wahabi. Ini dilakukan selain juga memberi buku-buku yang beraliran wahabi,” ujarnya.

Baca Juga  Penganut Sapto Darmo: “Mati Saja Sulit, Apalagi Hidup”

Bagi jamaah yang tidak memahami paham aliran Wahabi, maka mereka telan informasi itu secara mentah-mentah. Berlatar itu, mereka menganggap perlu untuk mendirikan Asbihu untuk membimbing para jamaah haji supaya tidak terasuki paham-paham yang membahayakan bagi persatuan dan kesatuan umat Muslim di Indoneisa ini.

Dalam perkembangannya, jelas Hafidz, saat ini Wahabisme sudah mulai menyebar dengan sangat cepat di Indonesia. Dia memperkirakan dari jumlah 70 persen Muslim di Indonesia 10 persennya adalah beraliran wahabi yang pusat di Saudi dimana telah menghancurkan makam keluarga Nabi.

“Sekarang ini masjid-masjid di kota, seperti di Jakarta, hampir semua dikuasai oleh orang-orang yang bercelana cingkrang. Mungkin juga sudah lebih dari 10 persen, inilah berbahaya bagi persatuan dan kesatuan bangsa. Jangan sampai umat terpecah-pecah karena paham inforan seperti Wahabi,” tandasnya. [elsa-ol/Cep-@Ceprudin]

spot_imgspot_img

Subscribe

Artikel Terkait

Sosiologi Agama Metamodern

Oleh: Tedi Kholiludin Bagaimana arah studi (sosiologi) agama dalam kerangka...

Masa Depan Teori Setelah Kritik: Tentang Ontologi Sosial Proses

Oleh: Tedi Kholiludin Saya sedang membaca buku yang terbit tahun...

Hadir Tanpa Menetap: Tentang Absence

Belakangan ini saya sedang tertarik menelaah gagasan filsuf asal...

Dari Administrasi hingga Transformasi Organisasi

Memasuki dasawarsa kedua sejak kelahirannya, Yayasan Pemberdayaan Komunitas (YPK)...

GPIB DAN RELASI GEREJA-NEGARA DI INDONESIA

Kajian mengenai relasi gereja dan negara merupakan tema yang...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini