Yahudi Beda Dengan Zionisme

Chlaodhius Budianto (kaos coklat) sedang menyampaikan materi diskusi tentang Yudaisme. [Foto: Bams]
Chlaodhius Budianto (kaos coklat) sedang menyampaikan materi diskusi tentang Yudaisme. [Foto: Bams]
[Semarang –elsaonline.com] Peneliti Alkitab Perjanjian Lama yang juga alumnus Universitaas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, Pdt. Chlaodhius Budianto, menyampaikan, pada era sekarang, Judaisme masih mendapatkan stereotype berupa asosiasi dengan zionisme. Padahal, kata dia, itu tidak tepat. Menurutnya, zionisme itu murni gerakan sekuler. “Karena penganut zionis itu ya kelompok Marxis, Sosialis dan Ateis. Mereka mengalami pengalaman buruk di eropa. Mereka dibantai pemimpin yang Kristen,” ungkap Chlaodhius dalam diskusi ‘Pengantar Memahami Agama Yahudi’ di Hall Kantor eLSA Semarang, belum lama ini.

Diskusi tersebut merupakan agenda rutin Mingguan yang diselenggarakan Divisi Kajian Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Semarang. Hadir sebagai pembanding adalah intelektual muda NU Jawa Tengah, Khoirul Anwar, yang memaparkan “Yahudi di Dunia Arab.”

Pria kelahiran Demak, ini, menjelaskan, pengalaman pahit ditambah semangat nasionalisme di era pencerahan yang kemudian membuat orang Yahudi merindukan tanah airnya. Disampaikan, karena hidup di perantauan tidak enak, maka mereka menggunakan simbol-simbol Yahudi untuk memobilisasi orang Yahudi untuk mendukung gerakan mereka. “Padahal, Yahudi bagi kebanyakan orang itu adalah etnis. Namun, bagi penganutnya sendiri Yahudi bukan etnis, tapi agama. Sehingga penganut Judaisme itu bukan etnis Israel saja,” ujarnya.

Selain itu, lanjut dia, Judaisme merupakan agama kuno yang masih bertahan hidup hingga sekarang. Diceritakan, Yahudi lahir di tahun 1900-an sebelum masehi yang menyebar sebanyak 30 persen di Amerika. Sementara di Indonesia, kata Chlaodhius, ada di Surabaya dan Manado, Sulawesi Utara. Selain sebagai agama kuno, Judaisme punya pengaruh terhadap Kristen dan Islam. “Sekalipun punya pengaruh besar, tapi nasib Yahudi ini tidak seberuntung Islam dan Kristen. Sejak dulu, perkembangannya tidak besar,” terangnya.

Meskipun demikian, dia mengaku heran, mengapa orang Kristen itu mendukung Israel dalam konflik di Timur Tengah. Menurutnya, Kristen lahir dari Judaisme, Yesus orang Yahudi dan agamanya Yahudi. Kitab sucinya juga kitab suci Yahudi. Seandainya orang Yahudi menerima Yesus, mungkin tidak ada Kekristenan. “Karena itu, yang disebut Perjanjian Lama itu sebenarnya adalah kitabnya orang Yahudi. Kristen mewarisi Judaisme itu. Kitab suci dan Yesus yang orang Yahudi,” katanya.

Ayah berputra satu ini, menambahkan, melalui Taurat, umat Yahudi tahu siapa Tuhan-nya. Disamping itu, imbuh dia, orang Yahudi juga mendapatkan tentang penciptaan hakikat alam semesta. Makanya, Yudaisme juga mendapatkan berbagai petunjuk tentang bagaimana seharusnya mereka menjalani kehidupannya, sebagai individu maupun sebagai komunitas (etos). “Sehingga, Yesus tidak mendirikan agama baru dalam pengajarannya. Yesus ingin memperbarui agama Yahudi. Walau pembeharuan ini tidak disenangi,” bebernya.

Adapun Khoirul Anwar, menyatakan, keberadaan bangsa Yahudi di Arab diprediksi setelah 70 sebelum masehi. Menurutnya, orang Yahudi masuk ke Arab karena takut kenakalan orang Yahudi lainnya atau memang pergi untuk keperluan perdagangan. “Karena prinsipnya, orang Yahudi tanpa bisa hidup di tanah yang dijanjikan. Karena pergi dari tanah air itu kutukan,” jelas dia.

Lebih jauh, Anwar mengatakan, Yahudi di Makkah juga bukan Yahudi suku, tapi orang Quraisy yang memeluk Yahudi. Kalau di Madinah itu etnis Yahudinya sendiri yang beragama Yahudi. Dikisahkan, saat Nabi ke Madinah tidak ada misi agama. Makanya, Nabi tidak ada persoalan dengan agama Yahudi, sehingga orang Yahudi menerima. “Bahkan kesetiaan orang Yahudi terhadap perjanjian Madinah itu luar biasa,” pungkasnya. [elsa-ol/Munif-@MunifBams/001]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *