“Ledakan Bom di Gereja Bethel Injil Seputih (GBIS) Solo: Dimana Negara? ”

0
70

Press Release Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA)


Bom kembali meledak di Gereja Bethel Injil Seputih (GBIS) Kepunton Solo, 25 September 2011. Peristiwa ini seolah menjadi terusan dari ”fragmen konflik” di Indonesia setelah Kerusuhan Temanggung, Teror Bom Utan Kayu, Bom di Mapolresta Cirebon serta Konflik Ambon. Negara kembali tergopoh-gopoh menghadapi para teroris. Organisasi terorisme bisa dibubarkan, tetapi nyatanya ideologi ini tak pernah mati. Ia terus menerus hidup dan menghantui setiap denyut nadi kehidupan bangsa ini. Atas kejadian itu, Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) menyatakan:

  1. Menyampaikan simpati dan duka yang mendalam untuk korban tragedi bom bunuh diri baik luka berat maupun luka ringan.
  2. Meminta pemerintah untuk bertindak cepat mengidentifikasi pelaku serta menelusuri jaringan yang selalu menebarkan ideologi teror ini.
  3. Jika melihat lokus terjadinya pengeboman, jelas bahwa ini adalah teror yang dimaksudkan untuk meruntuhkan fondasi kehidupan keberagamaan bangsa Indonesia yang diwarnai oleh pelbagai keragaman. Simbol-simbol agama dihancurkan. Gereja, Masjid dan tempat ibadah lainnya adalah ikon keberagamaan yang sangat penting. Teror terhadap jemaat yang ada di dalamnya adalah gempa bagi kebebasan memeluk agama dan menjalankan ibadah sesudai dengan keyakinannya.
  4. Kejadian ini menunjukkan bahwa negara terkulai lemas tak berdaya menghadapi elemen-elemen anti keberagaman. Dimana negara?
  5. Negara harus melaksanakan tanggungjawabnya untuk menghargai, menghormati dan melindungi semua warga negara agar dapat dengan nyaman menjalankan haknya untuk beribadah.
  6. Tantangan yang dihadapi oleh negara, masyarakat sipil dan elemen lainnya tidak hanya perang wacana, tetapi juga kekerasan langsung. Tentu tugas negara yang paling utama untuk memastikan hadirnya ruang publik yang nirkekerasan.
  7. Kejadian di GBIS membuktikan bahwa selalu dalam lipatan sejarah kehidupan manusia, selalu ada kelompok-kelompok ”penoda sejarah”, ”pembangkang kebenaran” dan ”perusak keragaman”. Kelompok seperti inilah yang selalu ada sejak Indonesia memulai episode baru sebagai negara merdeka. Tak ada pilihan lain, tegakkan hukum dan konstitusi dengan menjadikan Pancasila dan UUD 45 sebagai payung bersama.

Semarang, 26 September 2011

Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Semarang

Tedi Kholiludin

Direktur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here