Adrian Vickers: Masyarakat Maritim Lebih Terbuka

Adrian Vickers (kiri) dan Jurnalis elsaonline
Adrian Vickers (kiri) dan Jurnalis elsaonline

[Semarang –elsaonline.com] Director of The Australian Centre for Asian Art and Archaeology di University of Sydney, Australia, Profesor Adrian Vickers, menuturkan, Pramoedya Ananta Toer telah berhasil menghidupkan cerita fiksi sejarah dalam karya-karyanya. Ia mengungkapkan, dalam penulisan latar belakang cerita sejarah itu, terutama dalam kehidupan antara pribumi, bangsawan dan pemerintah pada masa lalu, sungguh begitu sarat makna. “Maklum, ini suatu gambaran kritik terhadap rasa pertentangan dan ketidakadilan yang sekaligus memunculkan sisi humanitas,” ungkap Adrian, saat ditemui di Kafe Sobokartti, Jalan Dr Cipto No 31-33, Semarang, Jumat (9/5) malam.

Adrian memaparkan, karya-karya Pramoedya dapat disebut telah memberikan satu sejarah berupa benang merah antar peristiwa nasib pergerakan. Menurutnya, ia dikemas dengan gaya penulisan tegas, kritis dan berani sehingga dapat menemukan gambaran imajinatif asli orang-orang Indonesia pada kehidupan zaman penjajahan. “Makanya, informasi yang disajikan Pram dalam beragam sisi begitu menarik. Dan bila dilihat mendalam, gambaran tersebut cukup membuka daya pikir,” ujar penulis buku ‘Bali Tempo Doeloe’ (2012) ini.

Selain itu, lanjut dia, dinamika masyarakat maritim tentu saja membawa kultur masyarakat terbuka, egaliter dan kosmopolitan. Menurut dia, dalam catatan sejarah negeri Indonesia itu memang berawal dari kerajaan yang berdekatan dekat laut dan memiliki Bandar. Begitu menariknya kehidupan pantai, Adrian menyebut sebagai sebuah entitas yang menyediakan wawasan tentang peradaban khas Asia Tenggara. “Hal ini terwujud dalam teknologi, cara pikir, pola perilaku hingga system kepercayaan dan kehidupan masyarakatnya,” terang pria yang juga menulis buku ‘History of Modern Indonesia’ (2012) itu.

Kendati demikian, Adrian menilai, roman cerita Panji, Pangeran Jawa dari Kahuripan adalah kisah asli Jawa Timur. Sehingga, sambung dia, ia bukan cerita adaptasi India seperti Ramayana dan Mahabarata. Ia mengungkapkan, cerita yang berkisah mengenai Kerajaan Kediri ini berkembang pada masa Majapahit. Di Jawa Timur, kata dia, bahkan terdapat lebih dari 20 situs purbakala yang berkaitan dengan cerita tersebut. “Ini termasuk patung Panji yang ditemukan di sebuah candi di lereng Gunung Penanggungan,” tandasnya. [elsa-ol/Munif-@MunifBams]

Baca Juga  “Sedulur Sikep Juga Warga Indonesia”

spot_imgspot_img

Subscribe

Artikel Terkait

Bukan Penumpukan, Tapi Kecukupan: Refleksi Natal 2025

Oleh: Tedi Kholiludin Pada setiap kebahagiaan yang kita nikmati, selain...

Di Balik Ketenangan Jalsah Salanah di Krucil Banjarnegara

Oleh: Tedi Kholiludin Letak Dusun Krucil, Desa Winong, Kecamatan Bawang...

“Everyday Religious Freedom:” Cara Baru Melihat Kebebasan Beragama

Oleh: Tedi Kholiludin Salah satu gagasan kebebasan beragama yang...

Penanggulangan HIV dan Krisis Senyap di Garda Depan

Oleh: Abdus Salam Staf Monitoring Penanggulangan HIV/AIDS di Yayasan ELSA...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini