Bangunan Toleransi di Hari Fitri

0
68

IMG-20130706-00248Oleh: Tedi Kholiludin

Bulan suci Ramadhan yang penuh rahmah (kasih sayang) dan maghfiroh (ampunan) sudah sampai di penghujung. Umat Islam mulai bersiap menyambut hari Idul Fitri. Hari dimana manusia diyakini kembali pada fitrah kemanusiaannya. Sesungguhnya Idul Fitri merupakan momen yang pas bagi umat Islam untuk berpikir kembali tentang satu ajaran yang paling fundamen dalam Islam, yakni toleransi atau tasamuh. Ajaran ini penting untuk dicerna kembali karena sejarah bangsa Indonesia selalu diwarnai dengan pelbagai hubungan konfliktual dan kekerasan.

Idul Fitri, disamping sebagai petanda untuk mengakhiri ibadah puasa, juga saat yang tepat untuk berintrospeksi diri tentang relasi yang telah dibangun oleh umat Islam dan sejauhmana nilai toleransi sudah ditegakkan. Dengan demikian, Idul Fitri adalah cerita tentang ujian keimanan di dunia nyata yang bisa jadi merupakan medan pertarungan antara keadilan dan ketidakadilan.

Disinilah signifikansi pengembangan sikap toleran terhadap sesama. Karena disadari atau tidak, manusia pastilah akan berinteraksi dengan manusia yang lain. Dengan demikian, ada rambu-rambu yang menjadi kesepakatan dan harus dihormati oleh berbagai pihak. Dan hal itu bisa kita introspeksikan dari berbagai hari raya keagamaan, termasuk Idul Fitri.

Toleransi

Idul Fitri dan toleransi memiliki hubungan yang cukup erat sebagai wujud dari pengamalan keagamaan yang otentik. Otentisitas ajaran agama itu dapat kita lihat bahwa setiap amalan yang bersifat vertikal mestilah berdampak pada tegaknya nilai-nilai kemanusiaan. Salah satu fitrah manusia yang seringkali tertutupi oleh tabiat buruknya adalah semangat untuk menghargai perbedaan atau sikap toleran.

Keterkaitan antara dua variabel itu terlihat jelas, karena agama selalu dikelilingi oleh persoalan dialog dan konflik, inklusifitas dan eksklusifitas, perdamaian dan kekerasan serta toleransi dan fanatisme. Agar Idul Fitri dapat menjadi cerminan ibadah yang berimplikasi pada pemenuhan dan pengembangan nilai kemanusiaan universal maka bersikap toleran merupakan harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Toleransi berarti sikap membolehkan atau membiarkan ketidaksepakatan dan tidak menolak pendapat, sikap, ataupun gaya hidup yang berbeda dengan pendapat, sikap dan gaya hidup sendiri. Sikap toleran tidak hanya terhadap hal yang secara spiritual dan moral berbeda, tetapi juga terhadap ideologi dan prilaku politik yang bertentangan. Atas dasar ini, maka toleransi menuntut kita untuk menerima orang lain dan mempersilakan perbuatan mereka meski kita sangat tidak setuju.

Secara umum, wacana toleransi cukup akrab dalam etika perbedaan pendapat (internal) dan dalam perbandingan agama (eksternal). Wujud dari sikap toleran dalam menghadapi perbedaan madzhab atau pendapat dalam satu agama adalah dengan tidak memaksakan pendapatnya dianut oleh orang lain. Sementara dalam konteks perbedaan agama, maka sikap toleran mendapat justifikasi Qur’anik dalam semisal ayat “Bagimu Agamamu, Bagiku Agamaku” atau ayat “Tidak ada paksaan dalam beragama”.

Etika untuk menghargai perbedaan ini penting untuk dijadikan sebagai satu spirit dasar dalam kehidupan beragama. Dalam konteks Idul Fitri, sikap intoleran itu bukan tidak mungkin bisa berujung pada sikap anarkhi.

Intoleransi merupakan buntut dari sikap keberlebihan dalam melihat realitas sosial. Selain itu intoleran juga lahir dari pola pikir eksklusif yang melihat bahwa hanya ada satu kebenaran nilai dan semua nilai yang lain sesat. Karenanya keberlebihan, eksklusifitas dan intoleransi merupakan lingkaran setan kekerasan yang menjadi momok dalam kehidupan beragama.

Dari sini penting kiranya untuk memahami bahwa sesungguhnya fitrah manusia dan inti dari ajaran agama bukanlah pemaksaan. Kata Voltaire dalam Traite Sur La Tolerance (Traktat Toleransi), Agama yang memaksa bukanlah suatu agama. Agama seharusnya menyadarkan, bukanlah memaksa. Karena agama tak pernah memerintahkan pemaksaan. (Voltaire, 2004: 119).

Untuk menjauhkan manusia dari kekerasan dan sikap intoleran, maka internalisasi spirit of moderation dalam berbagai kehidupan menjadi sangat vital. Internalisasi dan sosialisasi “nilai tengah-tengah” seperti (i) tawasuth atau berada di tengah-tengah. (ii) tawazun yang artinya seimbang, baik pada Allah, manusia dan alam dan (iii) tasamuh atau lapang dada tentunya akan menjadi salah satu faktor berkembangnya sifat intoleran.

Sikap moderat dalam beragama merupakan proyek jalan tengah yang berusaha menengahi dua pola keberagamaan yang ekstrem, fundamental dan liberal. Moderatisme merupakan langkah strategis untuk mengolah, mentransfer dan mengaktualisasikan iman kepada Allah dalam kehidupan nyata. Dari sini, maka terbangunlah sikap toleran terhadap pelbagai bentuk perbedaan.

Berikutnya, implementasi dari sikap toleransi dalam beragama bisa berwujud dalam model penyelesaian konflik tanpa kekerasan (non violence conflict resolution). Penyelesaian konflik haruslah bersifat kompromistik bukan konfrontatif. Umat beragama yang telah mencapai titik kedewasaan sejatinya terus menerus berpegang pada dalil ini. Karena jika sikap konfrontatif terus dipelihara, maka kekerasan akan dinilai sebagai realita keseharian.

Rumah Spiritual

Sebagai rumah spiritual, Idul Fitri bisa kita lihat dalam dua wajah, syari’at dan hakikat. Secara syari’at Idul fitri kerapkali dijadikan simbol sebagai kemenangan dan fase baru dalam kehidupan manusia. Idul Fitri bisa ditemukan oleh siapapun yang telah berhasil melaksanakan puasa sebulan penuh, bahkan bagi yang tidak berpuasa sekalipun. Idul Fitri tetaplah Idul Fitri yang tidak pernah lepas dari kemeriahannya.

Jika arti Idul Fitri secara syari’at bisa begitu mudah ditemukan, tidak demikian halnya dengan puasa secara hakikat. Idul Fitri, hakikatnya adalah gerbang menuju kehidupan baru umat Islam. Kehidupan baru tersebut adalah masa di mana manusia, mengakui dan mengamalkan ajaran-ajaran hidup yang berasal dari spirit ilahiyyah. Ajaran tentang kasih dan perdamaian adalah satu dari sekian ajaran yang merupakan pancaran dari spirit ketuhanan tersebut. Level ini hanya mungkin bisa ditemukan oleh orang yang telah mencapai tingkat the highest consciousness, yakni kesadaran hati nurani untuk sampai pada tahap kesadaran bahwa puasa adalah satu bentuk disclosure; pengalaman akan kehadiran Tuhan pada dirinya.

Manusia yang sudah mampu mengenali hakikat dari sebuah peribadatan, akan selalu menampilkan sikap rabbaniyyah dalam kehidupannya. Berbeda dengan mereka yang puasa secara syari’at. Kalau kita masih melihat ada kejanggalan dalam prilaku manusia seperti kebiasaan mementingkan kepentingan pribadi, bertindak korup, semena-mena terhadap orang lain, maka manusia tersebut barulah mencapai tingkatan syari’at, belum hakikat.

Dengan demikian, Idul Fitri akan sangat bermakna jika menjadi pintu awal bagi terbangunnya sikap toleran antar manusia. Mereka yang mampu menemukan tentang arti kemenangan yang hakiki, akan dengan sumringah memancarkan “wajah Tuhan” dalam aktivitas kehidupan manusia. Salah satu wajah Tuhan tersebut adalah sifat kasih sayang kepada manusia. Ini artinya bahwa toleransi tak lain adalah pancaran cahaya Tuhan yang diperuntukan kepada manusia untuk kemudian disebarkan kepada sesamanya. Minal Aidin Wal Faizin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here