Defending Religious Freedom; Perlawanan atas Kelompok Intoleran

0
34
Ardianus Bintang dan Tedi Kholiludin dalam sesi Diskusi Dwi Mingguan Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Semarang Bringin, Rabu (17/7).

Semarang elsaonline.com Langgengnya kekuasaan tak lain disebabkan dengan hadirnya politik identitas yang cukup dominan. Bahkan setiap masa, politik identitas di Indonesia menjadi salah satu senjata ampuh selama proses berdemokrasi. Dan ini bagian dari upaya memuluskan jalan menuju langgengnya kekuasaan.

Menurut Charian George, dalam penelitiannya tentang “Pelintiran Kekerasan; Rekayasa Ketersinggungan Agama dan Ancamannya bagi Demokrasi”, bahwa episode-episode hasutan dan keterhasutan berbasis agama misalnya, bukanlah produk alami atau langsung dari keberagaman masyarakat, melainkan suatu pertunjukan yang sengaja oleh wirausahawan politik dalam upaya meraih kekuasaan. Para oportunis ini secara selektif memanfaatkan sentimen agama masyarakat dan mendorong pengekspresian kehendak massa, dalam rangka memobilisasi mereka ke arah tujuan-tujuan anti-demokratis, (Charian George, 2017: 2).

“Politik identitas terjadi di banyak Negara, meski dengan isu yang beragam. Di Indonesia, politik identitas yang cukup dominan adalah berkaitan dengan isu agama dan etnisitas”, disampaikan Ardianus Bintang dalam sesi Diskusi Dwi Mingguan Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Semarang, di kediaman Tedi Kholiludin, Perumahan Panorama Banjaran, Bringin, Rabu (17/7).

Bukan tidak mungkin, politik identitas ini akan selalu hadir mewarnai demokrasi di Indonesia ini, terutama mendekati hari-hari pemilihan presiden. Bahkan terakhir, sepanjang tujuh bulan menjelang Pilpres 2019 ini, politik identitas (isu agama dan etnisitas) cukup kuat, masyarakat dibikin lelah oleh politisi yang tak malu-malu menggoreng isu politik identitas itu.
“Saya tekankan, politik identitas ini tidak bisa kita hindari. Banyak efek negatif yang lahir dari politik identitas. Politik identitas bukan tak mungkin menjadi salah satu kekuatan yang mampu melanggengkan Ideologi partai politik”, terang Bintang sapaan akrab Ayah dua anak yang juga staf pengajar di Universitas Katolik Soegijapranata (UNIKA) Semarang ini.

Maka, bintang melanjutkan, bahwa komunitas Persaudaraan Lintas Agama (Pelita) Semarang, dapat dikatakan salah satu komunitas yang menjadi garda depan untuk meminimalisir potensi efek samping negatif politik identitas. Sehingga penting kiranya bagi kita menjaga kesadaran bersama untuk bertahan dari upaya kelompok intoleran yang memanfaatkan politik identitas ini.

Sementara, pada kesempatan yang sama, Tedi Kholiludin yang juga menjadi tuan rumah Diskusi menambahkan, bahwa dalam berdemokrasi, setiap masa ada objek sasaran dari ideologi politik kambing hitam. Isu PKI, Cina atau Tionghoa, hingga kelompok minoritas agama sebagai salah satu sasaran isu yang kerap muncul. Bahkan, kata Tedi, menjelaskan, dengan hadirnya politik identitas, itu telah menistakan pengetahuan. Gerakan kebangkitan politik identitas di Indonesia itu menghilangkan nilai-nilai pengetahuan. Di mana, kepakaran di Indonesia dinistakan oleh politik identitas. (rep: Cahyono)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here