“Dulu, eLSA Harus Babat Alas”

[Semarang – elsaonline.com] Sebagai sebuah lembaga, proses pendirian eLSA dilalui dengan jalan yang terjal. Itu diungkapkan salah satu pengurus eLSA di awal berdiri, Irvan Musthofa. Kepada elsaonline, Irvan menuturkan hal tersebut, Senin (14/1). “Kami benar-benar harus babat alas” kata Irvan.

Irvan Musthofa
Irvan Musthofa

Untuk menjadi yang terbaik, tentu harus diawali oleh kerja keras. “Begitu pun dengan eLSA,” lanjut Irvan. Proses berdirinya eLSA dimentori oleh beberapa gelintir aktivis mahasiswa, yang kebetulan aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Lembaga Penerbitan Mahasiswa (LPM) Justisia. Irvan, salah satu aktivis PMII saat itu juga terlibat dalam struktur eLSA pertama dan mendorong eLSA lebih maju lagi.

Proses pengembangan eLSA di masa-masa awal hanya berkutat pada diskusi-diskusi ringan. Meski begitu, hal tersebut dapat membantu mengembangkan wacana. “Saat itu saya memiliki impian bahwa eLSA bisa menjadi lembaga kajian juga penerbitan,” tutur Irvan. Namun, tentunya itu tak mudah dicapai. “Dulu saya sempat bilang sama temen-temen, bagaimanapun caranya eLSA ini harus menjadi besar sebagai lembaga kajian dan juga penerbit ternama” ungkap Irvan.

Sejak didirikan pada tahun 2005, eLSA terus berkembang meski pelan. Struktur pengurus dan administrasi lembaga mulai ditata. Lalu kerjasama dengan lembaga lain mulai dikembangkan. Hingga tahun 2011 sampai sekarang, eLSA bisa menyebarkan terbitan seperti pemberitaan kasus-kasus pelanggaran hak atas kebebasan beragama.  Sejak tahun 2008 sampai sekarang, eLSA terlihat lebih berkembang dan mapan. “Namun, saya tidak ikut andil semenjak saat itu,” kenang Irvan. “Saya hanya berharap untuk eLSA semoga lebih maju dan berkualitas lagi dan menjaga konsistensi dalam menegakkan keadilan dan pembelaan terhadap hak-hak masyarakat,” pungkas Irvan. [elsa-ol/Cahyono]

Baca Juga  Pencatatan Pernikahan Umat Bahai Masih Terkendala
spot_imgspot_img

Subscribe

Artikel Terkait

EN (?): Konsep Ikatan Tak Terlihat dalam Budaya Jepang

Oleh : Iwan Madari (Pemerhati Kebudayaan Jepang) elsaonline.com Dalam hidup,...

Malam di Darut Taqrib: Duka, Solidaritas dan Harapan Dialog

Kami duduk bersama di bagian depan luar sebuah...

Keluarga Besar ELSA Gelar Ziarah ke Dua Tokoh Besar Semarang

Yayasan Pemberdayaan Komunitas ELSA menggelar kegiatan ziarah ke...

Pondok Damai sebagai Horison Kemungkinan

Oleh: Tedi Kholiludin Apakah persepsi seseorang terhadap orang lain akan...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini