Edisi VI: Bantahan Ibnu Rusyd Terhadap Fuqahâ`

0
160

Bagi fuqahâ` (pakar hukum Islam), membaca karya filsafat hukumnya haram. Fatwa ini ditanggapi serius oleh Ibnu Rusyd dengan memunculkan fatwa tandingan, yakni membaca filsafat bagi orang yang memiliki kapasitas tertentu hukumnya wajib.

Fuqahâ` melarang umat Islam membaca filsafat lantaran menganggap pembaca filsafat yang menurutnya “sesat” disebabkan oleh bacaannya (buku filsafat).

Bagi Ibnu Rusyd, argumentasi fuqahâ` ini selain tidak berdasar, juga ada kesalahan dalam mengambil konklusi hukum. Kesalahan dimaksud antara lain:

Pertama; Fuqahâ` telah menggeneralisir hukum, yakni siapapun tidak boleh membaca filsafat. Padahal, tidak semua orang yang membaca filsafat menjadi sesat. Justru sebaliknya, melalui filsafat seseorang dapat menemukan Tuhan dan lebih mantap mengimani-Nya.

Kedua; Fuqahâ` menetapkan alasan hukum haram berdasarkan sifat lain (‘aradl), bukan berpijak pada bentuknya (dzât). Artinya, pembaca filsafat yang dalam anggapan fuqahâ` “sesat” penyebabnya bukan karena buku filsafatnya (dzât), melainkan karena ada sebab lain (‘aradl). Sebab lain ini bisa karena pembaca tidak sistematis dalam berpikir (tidak mematuhi aturan logika berpikir), tidak ada guru yang mengajarinya, atau karena mengikuti hawa nafsunya sendiri, atau semuanya terkumpul menjadi satu pada diri seseorang.

Di sini letak kesalahan fuqahâ` dalam merumuskan hukum haram. Seharusnya, menurut Ibnu Rusyd, jika penyebab kesesatan terletak pada ‘aradl, bukan bermuara pada dzât, maka hukum dzât tidak boleh dilarang. Singkatnya, “sesat” itu disebabkan oleh hal lain, bukan disebabkan isi buku filsafatnya.

Dalam membahas ini, Ibnu Rusyd mengutip hadis nabi Muhammad: “Tuhan benar, perut saudaramu tidak benar (Shadaqallah, wa kadzaba bathnu akhîka).” Hadis ini nabi sampaikan ketika ada salah satu sahabatnya mengadu penyakit diare yang dialami saudaranya. Sebelumnya, sahabat itu bertanya kepada nabi tentang obat diare. Nabi menjawab, minum madu. Setelah sahabat itu memberi minum madu kepada saudaranya yang sedang diare, bukan kesembuhan yang didapatkan, tapi malah bertambah parah. Setelah menerima aduan, nabi menjawab, yang salah bukan “obatnya”, tapi “perut saudaramu”.

Melalui kutipan hadis ini, Ibnu Rusyd hendak menegaskan, bahwa orang yang menurut fuqahâ` sesat sebab membaca filsafat, kesesatan itu bukan disebabkan oleh “buku bacaannya” tapi “orangnya”, yakni tidak mematuhi aturan yang berlaku.

Sembari menyindir sifat tercela fuqahâ` pada masanya, Ibnu Rusyd menunjukkan kerapuhan argumentasi fuqahâ` dengan mengatakan: “Banyak orang ahli fikih yang dengan fikihnya ia menjadi kurang menjaga diri dari barang yang tidak jelas halal-haramnya/syubhât (qillati tawarru’ihi) dan tersibukkan dalam urusan duniawi (khaudlihi fi ad-dunyâ), maka; apakah kemudian kita melarang fikih?”

Tentu tidak, orang yang dengan fikihnya menjadi tidak wira’i adalah kasus tertentu, dan itu disebabkan oleh sesuatu lain (‘aradl), bukan karena fikihnya (dzât).

Inilah Ibnu Rusyd, filsufnya para ahli fikih dan ahli fikihnya para filsuf, sangat teliti dalam memberikan hukum. Pembedaan antara “’aradl” dan “dzât” memiliki pengaruh yang sangat berarti bagi hukum yang diputuskannya. [elsa-ol/KA-@khoirulanwar_88/001]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here