Faktor Ekonomi Penyebab Banyaknya Prostitusi

 Khoirul Anwar (kaos merah) dan Ardik FS (kedua dari kiri) saat menjelaskan materi tentang prostitusi. Foto: Abdus Salam
Khoirul Anwar (kaos merah) dan Ardik FS (kedua dari kiri) saat menjelaskan materi tentang prostitusi. Foto: Abdus Salam

[Semarang –elsaonline.com] Terbongkarnya prostitusi online di Indonesia membuat aparat kepolisian semakin gencar merazia tempat-tempat karaoke dan kos-kosan yang diduga sering digunakan untuk hal-hal yang tidak pantas, seperti mesum dan prostitusi terselubung.

Mencuatnya isu ini membuat prostitusi menjadi trending topic di media, cetak maupun elektronik. Gejala ini yang didiskusikan oleh Lembaga Studi Sosial Agama (eLSA) Semarang pada Jumat (22/5).

Koordinator kajian eLSA, Khoirul Anwar memaparkan dari sisi sejarah Pra Islam. Menurutnya, di Arab pada masa Pra Islam prostitusi itu sudah ada. Pada masa itu, para Sayyid (majikan) yang mempunyai banyak budak-budak, menawarkan mereka kepada para tamu yang datang.

“Para Sayid tersebut biasanya memberikan budaknya itu kepada para tamu yang datang, dan para tamu itu dipersilahkan untuk berhubungan dengan perempuan-perempuan (budak) itu. Setelahnya para tamu memberi uang kepada pemilik budak, kalau istilah sekarang mungkin mami, mucikari ataupun papi,” jelas Awang, panggilan akrabnya.

Sementara itu, aktivis sosial, Ardik Ferry Setiawan mengatakan bahwa latar belakang munculnya prostitusi sebenarnya tidak bisa didekati semata dari sisi moral. Disana juga ada factor ekonom. Ardik mencermati misalnya fenomena di lokalisasi terbesar di Semarang yakni Sunan Kuning (SK). Mereka yang sudah keluar dari SK biasanya diberikan profesi lain. Namun, seringnya mereka kemudian kembali lagi menjadi pekerja seks.

“Biasanya ada wanita pekerja seks yang diberikan alih profesi, namun karena tidak optimal mengelolanya akhirnya balik lagi, karena pendapatannya lebih besar”, terang laki-laki berkacamata ini.

Lebih jauh, Ardik membeberkan ada model pekerja seks langsung yang memang pekerjaannya adalah pekerja seks. Ini terjadi ketika para pembeli seks membayar melalui germo, mami, mucikari maupun istilah lainnya.

Baca Juga  Membidik Semarang Dalam Cerita

Ada juga pekerja seks tidak langsung. Model ini wanita dimana pekerjaan utamanya bukanlah pekerja seks, tapi pemandu karaoke (PK), panti pijat dan juga salon plus-plus. “Jadi ketika ada kelompok penjual seks, itu hanya melakukan penjualan seks (prostisusi) dan biasanya ini melalui germo ataupun mucikari”, tandasya kepada para peserta diskusi.

Di akhir diskusi Ardik menekankan bahwa mengurangi fenomena ini membutuhkan strategi yang komprehensif, karena akarnya tidak tunggal. “Yang jelas, kita tidak bisa melihat fenomena ini secara hitam putih, karena masalahnya juga kompleks,” tegasnya. [elsa-ol/Salam-@SalamPutraDewa/003]

spot_imgspot_img

Subscribe

Artikel Terkait

Tidak Ada Ruang Publik Gratis dan Demokratis

Oleh: Alfian Ihsan Dosen Sosiologi Universitas Jenderal Soedirman   Apakah Anda selalu...

Hukum Lingkungan Internasional

Angin tidak punya KTP, sehingga kalau pencemaran udara terjadi...

Onderdistrict Tjilimoes

Buku ini berangkat dari pertanyaan sederhana, bagaimana perubahan yang...

Yaumul Quds: Politik Simbol dan Emosi Kolektif dalam Solidaritas Palestina

Oleh: Tedi Kholiludin Jarum jam belum genap menunjuk pukul 14.00...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini