Guru Sekolah “Lintas Generasi”

0
61
Keterangan Foto: Roem Topatimasang di ruang rapat INSIST

Oleh: Cahyono Anantatoer (Peneliti eLSA)

Senin, 30 Desember 2019, armada Patas Semarang-Yogyakarta, menghantarkan kehangatan kota lumpia hingga tiba di persimpangan lampu merah Jati Yogyakarta, tepat pukul satu dini hari. Pergi ke Yogyakarta, kemanapun tujuannya, saya kerap meminta turun di sini, Simpanglima Jati. Sepatu lusuh, celana pendek, sarung masih membalut leher turut membersamai saya yang lama menahan hasrat untuk merasakan angin segar Yogyakarta. Iringan lagu rock klasik masih intim di telinga, sesekali menerka bisingnya suara motor yang hampir lenyap ditelan malam menjelang pagi.

Mata lelah, seakan tak sabar meminta segera terlelap. Saya membuka daftar kontak di handphone jadul, kebetulan muncul kawan lama saya yang baru saja “divonis” sebagai magister interdisipliner (MA) di CRCS UGM Yogyakarta. Tanpa basa-basi, saya menyampaikan niat untuk istirahat di tempatnya dengan nada setengah memaksa. Kebetulan ia tinggal di basecamp salah satu organisasi terbesar di UGM, didikan Nurcholis Madjid.

Di celah jendela kayu diusia senjanya, sinar matahari menyeruak menembus kulit hingga tulang-tulang. Sedangkan dari luar, nyanyian merdu burung gereja saling bersautan membuka hari menjelang pergantian tahun. Selasa (31/12), sepagi itu jalanan kampung tampak lengang. Hari di mana mahasiswa telah sepakat cuti bersama mengikuti arahan kalender nasional, bahwa tahun 2020 segera dibuka.

Perlahan, saya menghitung langkah menuju warung kopi dekat basecamp, mengikuti hari cuti nasional. Warung-warung terpaksa memilih tutup pula. Saya butuh waktu 15 menit untuk menemukan warung kopi. Saya menemukan ada satu warung yang masih buka, terhitung lengkap. Ada kopi, sayuran, ikan asin dan bumbu dapur lainnya. Sembari menunggu kawan yang masih “tersandra” di stasiun, kami memang merencanakan bertemu di basecamp tempat saya beristirahat sebelum melanjutkan kunjungan ke INSIST (Indonesian Society for Social Transformation), di Kaliurang Yogyakarta.

Arahan pihak INSIST memberikan kemudahkan bagi kami dalam perjalanan ke sana, karena memang jauh-jauh hari sebelumnya kami telah menghubungi Roem Topatimasang, salah satu pemilik ide lahirnya INSIST. Roem Topatimasang cukup antusias, meski secara kesehatan masih dalam tahap pemulihan dari sakit jantungnya. Bermodal ojek online, kami mantap menuju INSIST kira-kira membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam.

INSIST dan (Si) Pemilik Ide Sekolah Akar Rumput

Sekitar seratus meter lagi kami sampai tujuan, udara segar, pohon rindang, menyambut kedatangan kami dengan riang. Angin sepoi-sepoi, tanaman sulanjana, singkong, dan bambu turut menghantarkan kami menuju “gudang” riset berbasis akar rumput. Di halaman muka kantor INSIST, ada dua perempuan yang raut wajahnya masih nampak muda bergegas menyambut, dan menanyakan maksud kehadiran kami. Kami pun dipersilahkan menunggu. Lalu salah satu dari mereka menemui Roem Topatimasang, memberi tahunya jika kedatangan tamu. Tidak perlu waktu lama, kami diarahkan menuju ruang belakang. Roem Topatimasang terlihat sudah menunggu. Ia langsung menyambut dan mempersilahkan duduk. Ia membuka pembicaraan hangat kami dengan memperkenalkan apa itu INSIST.

“Kami di INSIST lebih fokus ke kajian, riset, dan pengembangan metodologi. Karena INSIST ini kan sifatnya supporting untuk teman-teman di daerah. Maka kami hanya memberikan pelatihan. Teknisnya, teman-teman di daerah yang mengembangkan. INSIST dibangun mula-mula dengan sahabat saya, Mansour Fakih. Ia termasuk orang yang kuat berjejaring ke luar. INSIST lahir untuk akar rumput, karena saya sendiri memang berasal dari akar rumput,” jelas Roem, sapaan akrab guru rakyat yang mendedikasikan hidupnya untuk kelompok pinggiran. Lebih lanjut, Roem menjelaskan bagaimana pentingnya substansi daripada lembaga pendidikan itu sendiri. Menurut Roem, lembaga pendidikan idealnya memberikan ruang yang ramah dan relevan atas minat akademik. Aturan disesuaikan dengan minat masing-masing sesuai kompetensinya.

“Bahwa untuk memenuhi pasar lapangan kerja mungkin memang perlu aturan tertentu yang agak ketat, seperti batas waktu misalnya, tetapi di lembagga pendidikan itu kan tidak seluruhnya untuk memenuhi pasar lapangan kerja, jangan mengesampingkan minat studi lainnya. Ada yang khusus konsen pengembangan akademik, pengembangan metodologi yang tidak selalu relevan dengan aturan batasan waktu. Jangan dibuat aturan yang sama,” jelas Roem, sembari nyeruput teh dengan poci khas terbuat dari tanah.

Bagi Roem, lembaga pendidikan harus memikirkan masa depan kualitas pendidikan yang dapat menjawab kebutuhan masyarakat. Kerap kali lembaga pendidikan hanya menekankan pada teori dan aturan formal. Akhirnya secara praktis tidak lagi relevan dengan konteks kebutuhan masyarakat. Lembaga pendidikan masa tahun-tahun 1970-an memberikan solusi problem pendidikan dengan program interuniversity. Misalnya dulu mahasiswa bahasa tidak hanya dituntut mengerti bahasa saja, tetapi juga dituntut memahami sejarah, lokasi dan kebudayaan setempat. Berdasarkan pengalamannya menjadi mahasiswa di IKIP Bandung waktu itu, dapat memilih jurusan dan kampus dimana saja.

Roem juga menceritakan bagaimana pengalaman studi di luar, bahwa tradisi di Eropa sangat berbeda dengan Indonesia. Kala itu, ia dapat membuat jurusan sendiri sesuai minat dan hasil pengalaman pengamatan ilmunya. “Saat saya menempuh studi di luar negeri, tradisi di Eropa khususnya, mahasiswa bisa membuat jurusan sendiri. Ketika saya kuliah di Italia, ambil di jurusan Kajian Laut Tengah di abad 14 hanya dua orang, dan itu menentukan sendiri. Alasan saya memilih jurusan tersebut, bermula waktu itu di Angcona, pinggir laut tengah Italia. Setiap libur saya jalan di sepanjang pesisir, tetapi tidak pernah menemukan hutan. Akhirnya memunculkan pertanyaan, ini hutan kemana. Padahal dalam sejarah terkenal dengan hutan tebalnya. Dari sini, saya berminat di kajian ini, bahwa ternyata setelah dilakukan penelitian hutannya habis untuk keperluan perang dan perdagangan,” terang Roem.

Di samping itu, kata Roem, urgensi pendidikan itu berkembang mengikuti konteks kehidupan masyarakat. Misalnya soal kesehatan, mungkin dulu kita hanya mengenal fakultas kedokteran, sekarang ada fakultas kesehatan masyarakat. Hal ini dipicu dengan adanya perkembangan penyakit dan epidemi, yang tidak hanya disebabkan oleh kesehatan, dan higienis saja, tetapi ada faktor sosial misalnya.

Dalam konteks Papua, pengelolaan budidaya ternak atau pertanian masih belum efektif. Secara sumberdaya manusia, berbeda dengan beberapa wilayah lain, di Jawa misalnya. Pengetahuan dan budaya pertanian, di Papua masih perlu perhatian khusus. Pemberdayaan potensi lahan yang luas, belum tepat sasaran. Mahasiswa asal Papua yang diharapkan mampu menjembatani persoalan ini, justru secara kapasitas hampir didominasi oleh mahasiswa sosial politik. Padahal yang di butuhkan di Papua bukan sosok-sosok politisi, itu terlalu banyak.

Berbeda dengan di Papua, di Jawa itu banyak yang tidak punya tanah misalnya, tetapi mereka tetap hidup (tidak ada istilah mati kelaparan) dan berdaya. Karena mereka bisa menggarap bagian lain dari lahan itu, misalnya buat pakan ternak. Kebudayaan semacam ini tidak dimiliki orang Papua. Maka bagaimana persoalan dasar di Papua ini mulai dikembangkan. Seperti kebiasaan mengandangkan ternak agar tidak masuk lahan orang. Menyediakan perangkat pertanian dengan baik, tidak menghambat proses penggarapan lahan. Instrument mendasar inilah yang harus dibangun di akar rumput, tak terkecuali di Papua.

Relasi Gender dan Ekosistem Pertanian

Kesenjangan relasi gender rentan terjadi di akar rumput. Hal demikian tak jauh dari kekacauan kebijakan pemerintah setempat. Di bidang pertanian, sebelum INSIST masuk menganalisa titik persoalan kualitas lahan pertanian yang stagnan. Kami menemukan adanya pemisahan kelompok tani perempuan dan laki-laki. Perempuan tergabung di Kelompok Wanita Tani (KWT), dan POKTAN atau kelompok tani yang dikhususkan untuk laki-laki. Bagaimana pertanian akan berkembang, kalau para penggarap masih dipisahkan. Padahal salah satu kunci yang perlu dibangun, bagaimana kelompk tani itu bekerjasama.

“Di sini, peran INSIST membenahi dasarnya. Bahwa relasi gender itu terbentuk oleh proses sosial dan sejarah, ini yang harus kami intervensi. Kini, mereka sudah sangat selektif ketika memilih atau menerima pupuk yang berkualitas,” ungkap Roem. “Pembagian kerja terbentuk. Perempuan bertanggungjawab menentukan jenis pupuk yang berkualitas, pihak laki-laki menyiapkan lahan untuk ditanami. Jadi, ketika ditanya soal harga pupuk atau sayuran, yang tahu perempuan, begitu sebaliknya, pengelolaan lahan yang bagus dan bagaimana caranya memagari tanaman, yang tahu laki-laki. Disinilah pembagian peran antara perempuan dan laki-laki tercipta,” imbuhnya.

Membangun relasi gender, secara praksis hampir tidak selalu relevan dengan pendekatan teori gender. Apa yang dilakukan INSIST, tanpa menyebut kata gender, keadilan gender dapat dibangun di akar rumput. Metode pengelolaan ekosistem pertanian, proporsionalitas kerja tidak lagi didominsi oleh laki-laki. Pemisahan kelompok tani laki-laki dan perempuan, kini mereka ada di ruang yang sama dan mampu bekerjasama. Semua dapat berbicara soal ekosistem pertanian dengan kapasitasnya masing-masing, tidak ada yang saling mendominasi.

INSIST dan Keberpihakannya Terhadap Akar Rumput

INSIST didirikan pada 1998 dengan tujuan mengembangkan wacana kritis, pemikiran alernatif, dan gagasan-gagasan baru tentang tranformasi sosial (insistpress.com). INSIST fokus pada ekosistem pertanian dan pendidikan. Karya berbasis riset dengan beragam tema seputar pendidikan dan pertanian telah lahir di INSIST. Di bidang pendidikan, metode yang dikembangkan INSIST kini telah memperluas ide ke wilayah-wilayah di Indinesia. Metode yang unik dan ramah, inilah yang menumbuhkan minat belajar tinggi bagi generasi muda. Meski dengan istilah beragam, secara substansi tidak jauh berbeda. Prinsip-prinsip sekolah alam dengan motode belajar dinamis, bagaimana wacana kritis, pemikiran alternatif, keberpihakan terhadap akar rumput dan transformasi sosial itu tercipta.

Bagi INSIST bahwa ekosistem belajar lebih penting ketimbang pernak-pernik yang tidak esensial dalam menyelenggarakan proses belajar. Aturan kaku, waktu yang dibatasi, dan metode belajar yang kerap kali tidak berakar pada kenyataan. Sebagai informasi, sekolah-sekolah alam yang bisa kita jumpai dibeberapa wilayah, misalnya Sanggar Anak Alam (SALAM) Yogyakarta, Homeschooling Kak Seto Solo, Sokolah Butet Manurung Jambi, Sekolah Alam Jungle School Semarang. Berbicara soal ekosistem belajar yang dikembangkan sekolah-sekolah alam seperti dipaparkan di awal, kiranya ini sangat relevan melihat kondisi pendidikan negeri kita yang kian kacau.

Seperti diketahui, di media baru-baru ini, kita banyak disuguhkan fenomena “kekerasan” di lingkungan institusi pendidikan bernama sekolah kerap terjadi, dan kekerasan itu diakibatkan dari ekosistem pendidikan yang terbangun. Peristiwa yang menimpa siswi SMPN 147 Ciracas Jakarta Timur, berinisial (SN) korban bullying di sekolah, tewas usai bunuh diri, 14 Januari lalu, (Jawa Pos, 22/1/2020). Seorang siswi SMKN 1 Anambas, Air Asuk, Kecamatan Siantan Tengah, Kabupaten Kepulauan Anambas, berinisial (AR) harus putus sekolah setelah dicap lonte oleh guru agama, (batamnews.co.id, 17/1/2020). Di Sragen, siswa berinisial (Z), memutuskan untuk melanjutkan belajar di Homeschooling Kak Seto Solo, setelah mendapatkan teror dari Rohis, hanya karena tidak memakai jilbab. Tidak berhenti di situ, keluarga (Z) juga mendapatkan teror serupa.

Fenomena seperti dijelakan di atas, bagian dari potret buruknya sistem belajar yang ada di instiusi pendidikan saat ini. Institusi pendidikan terbangun yang secara substansi dapat membuka wacana kritis, progresif dan ramah sosial, justeru beragam fenomena tindakan kekerasan terjadi di institusi pendidikan ini. Tak jarang di institusi ini justru pelakunya adalah guru dan pejabat penting.

Negara harus belajar dari iklim di sekolah-sekolah alam. Di mana ekosistem belajar sebagai alternatif yang difasilitasi sekolah-sekolah alam memberikan ruang belajar yang aman, dinamis, progresif dan ramah lingkungan. Di sini juga mengingatkan saya kepada Arun Agrawal, tentang substansi pengetahuan adat yang lebih mendalam dan mengakar dalam lingkungannya ketimbang pengetahuan barat. Arun Agrawal dalam bukunya tentang Indigenous and Scientific Knowledge: Some Critical Comment. Bahwa pengetahuan adat secara substantif lebih mendalam dan mengakar dalam melihat sebuah realitas masyarakat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here