elsaonline.com

Voice of the voiceless

Harapan Besar, SDM mumpuni

2 min read

Kantor Lembaga Studi Sosial dan Agama

Oleh: Iman Fadhilah

Bukan soal keramat atau tidak, tanggal tujuh belas menjadi angka yang paling penting bagi kita (tepatnya mungkin untuk saya). Tidak hanya 17 Agustus, tapi ada dua tujuh belas yang lain yakni , 17 Rhomadhon dan 17 Rakaat.

17 Agustus menjadi tonggak perjuangan bangsa ini, bangsa Indonesia menjadi bangsa yang merdeka. Yang kedua, 17 Romadhon, adalah tanggal di turunkannya al Qur’an, sebagai pegangan hidup beragama dan bermasyarakat. Dan yang ketiga adalah 17 Rakaat, sebagai basis spiritual kita, Interaksi kita dengan Tuhan, melalui sholat. Tiga tujuh belas tadi membentuk segitiga ukhuwah, yakni “Ukhuwah Ilahiyyah” melalui Sholat, “Basyariyah/insaniyah,” dan “Wathoniyyah,” melalui Qur’an dan Kecintaan terhadap bangsa ini dengan perjuangan kemerdekaan.

Maqshud al-a’dhom dari tulisan ini, saya akan menyampaikan, bahwa dibalik yang luar biasa, pasti ada proses yang hebat, di balik tanggal tujuh belas yang mulia dan luar biasa pasti ada tanggal sebelumnya juga yang hebat dan luar biasa, tidak berarti mengagungkan, akan tetapi satu hari sebelum tanggal 17lah eLSA lahir, atau tepat tanggal 16, sebagai sebuah lembaga yang memiliki ide yang sama serta kesejarahan yang relatif sama.

Dua hal ini menurut saya patut di garis bawahi; Ide yang sama dan kesejarahan yang sama. Kenapa penting? Berkaca dari beberapa pengalaman, perbedaaan persepsi, ide, cara pandang anggota/pengurus dalam suatu wadah atau lembaga, seringkali tidak hanya mengerdilkan lembaga akan tetapi juga membuat lembaga “mandeg”, sehingga saya mengapresiasi para punggawa Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) yang sangat terbuka baik secara personal, hubungan satu individu dengan individu yang lain, bahkan sekedar mengatakan jujur status dan aktifitas yang ada, sehingga memahami satu sama yang lain dzahiran wa batinan.

Baca Juga  Lebaran di Jawa: Tradisi, Simbol dan Memori

Yang kedua, aspek kesejarahan penting, agar ada kesinambungan program, gagasan, kegiatan dan hal apapun antar generasi. Tidak sembarang orang bisa masuk eLSA, karena itu juga soal ketahanan. Yang ada adalah apa yang bisa kita perbuat untuk lembaga, bukan apa yang lembaga berikan untuk kita, itu yang ada di eLSA. eLSA bisa bertahan karena dihuni oleh orang-orang yang tangguh, tidak perhitungan, berasas kekeluargaan. Siapa yang punya uang itu yang beli makanan. Siapa yang dapat rezeki itu yang traktir. Siapa yang punya uang, maka ia bisa meminjami yang lain. Kalau tidak punya keterikatan sejarah sulit rasanya untuk mewujudkan ini.

Tidak jarang kita juga mendengar dalam suatu lembaga, yang “bubar, hanya soal beda pendapatan, atau persoalan materi. Punggawa eLSA tidak dibentuk secara instan, tetapi melalui perjuangan dan proses yang berliku. Dari masa dan fase sulit sampai “agak mendingan” toh, nyatanya alhamdulilah, sekarang fasilitas kantor sudah permanen, ada aula mininya, kamar mandi representatif, punya gazebo, dan lain-lain. Ya, sekadar tahaduts bin ni’mah.

Meski begitu, tentu setiap lembaga memiliki tantangan masing-masing, salah satunya adalah menyiapkan generasi dan kepemimpinan berikutnya yang (minimal) setara. Tentu harapannya lebih baik dari generasi sebelumnya sebelumnya. Harapan besar, tentu seiring dan harus diimbangi dengan sumber daya manusia yang mumpuni.

Selamat ulang tahun eLSA, karya dan baktimu pasti memberikan manfaat untuk sesama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *