elsaonline.com

Voice of the voiceless

Gairah Berfikir; Dari PKM Hingga eLSA

3 min read

Oleh: Cahyono

Gairah pemikiran itu selalu dilalui melalui proses untuk menjadi. Begitu juga saya bersama Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA). Saya belum lama bergabung bersama eLSA guna “mencuri” ide-ide produktif yang ada dalam ruangan tersebut. Tahun 2013, tepatnya 22 Juni 2013 seusai mengemban amanah sebagai pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Syariah pada periode 2012/2013, dengan percaya diri saya ‘numpang’ kos di kantor eLSA yang pada waktu itu masih dihuni oleh dua orang staff eLSA, yakni Nazar Nurdin dan Khoirul Anwar.

Masih dalam kondisi mblangsak dan miskin, tapi saya masih beruntung karena masih bisa menikmati fasilitas tempat tidur gratis. Dan lagi-lagi saya beruntung. Belum lama berjalan bareng bersama eLSA, saya sudah menikmati berbagai macam wacana. Tentu ini menjadi “ruang” yang banyak bermanfaat bagi saya. Banyak belajar dan banyak berbagi rasa. Saat ini, saya mahasiswa semester IX dan bisa dikatakan hampir semester akhir. Saya ingat kali pertama masuk IAIN Walisongo, masa itu penulis terlihat polos, lugu dan culun tapi tetap beruntung. Saya dengan otomatis terdaftar sebagai penghuni tetap di Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Fakultas Syari’ah, tepatnya di kantor LPM Justisia.

Anugerah dan Keberuntungan
Saya kembali dinaungi dewi keberuntungan. Dengan bimbingan senior-senior yang kebetulan pada saat itu hanya 7 orang yang masih setia menetap di bangunan tua tersebut, yakni Munif Ibnu “mas Bams”, Ceprudin, “mas Ncep”, Nazar Nurdin “mas Nazar, M. Syafi’y “Om Musa”, Ubaidul Azkya “mas Bed”, Yayan M Royani “mas Yan” dan Khoirudin Abdullah “pake”.

Suasananya mungkin bisa dikatakan sebagai kantor” wacana. Saat itu saya disuguhi Jurnal Justisia dengan judul ‘Gelombang Neo Wahabisme’ dan diamanati harus selesai ddibaca tiga hari. Saya merasa suci dan berharga karena bisa memanfaatkan kekayaan akan wacana ilmiah yang diberikan oleh senior-senior di kantor PKM. Saya harus hidup seadanya dengan manajemen uang harian 10.000 cukup untuk hidup. Sekedar untuk makan malam. Tapi itu bukan persoalan. Fasilitas yang menjadi kebutuhan utama di kantor Justisia adalah computer. Makan tidak tercatat sebagai kebutuhan. Dengan mie instan satu bungkus sudah bisa dinikmati seluruh penghuni kantor Justisia.

Baca Juga  Sumpah Pemuda Menjaga Kebinekaan

Bimbingan dalam kemandirian dan kekeluargaan ini saya rasakan sejak di PKM hingga saat ini saya gabung bersama eLSA. Mandiri hidup, mencari kebutuhan fasilitas belajar, dan sebagainya. Saya masih ingat waktu kali pertama mau membuat makalah Pengantar Studi Islam dengan dosen pengampu Prof. Dr. Mujiono. Kebetulan pada saat itu, saya mendapat tema komparasi pemikiran Islam Inklusif dan Fundamentalis. Lalu, saya berniat mau pinjam buku sama salah satu senior Ceprudin. Tapi ia menolak. “Kak, saya pinjam buku yang menyangkut tentang topik tersebut,” saya meminjam. Lalu Cecep bilang, “tidak boleh. Kamu baca sendiri Jurnal Justisia siapa tahu ada di situ, kalau tidak beli buku sendiri. Buku ini mahal, dan kamu harus mandiri jangan sampai pinjam sama orang. Bahkan kalau bisa jangan sampai pinjam perpustakaan IAIN juga.”

Ternyata benar, kemandirian dan ketekunan dalam hal apapun itu adalah prinsip utama bagi mahasiswa atau aktivis khususnya. Bersama eLSA saya merasakan gairah berfikir dan semangat berbagi dengan penuh kekeluargaan di dalamnya. Saya merasa, eLSA adalah keluarga. Yang mampu menjadikan saya dan teman-teman semangat memberi. eLSA ada untuk semunya. Kehadiran eLSA bagi saya terasa karena eLSA mampu menghidupi staff-staffnya, memberikan semangat berbagi, memberi wacana keadilan dan pembelaan bagi kaum minoritas.

Saya merasakan, eLSA memiliki banyak ide yang berhak dan dapat saya nikmati dan kembangkan. Semua itu, tidak semata-mata bisa kita miliki tanpa kehadiran eLSA. Saat ini, saya masih dalam proses menjadi. Bersama eLSA, proses ini menjadikan gairah berfikir semakin tumbuh berkembang. Komitmen eLSA dalam mememperjuangkan hak-hak minoritas, itu akan selalu hadir dan tetap survive.

Saya merasakan betul kehadiran eLSA sepanjang saya bergabung bersamanya. eLSA banya berbagi spirit kekeluargaan, pengalaman, wacana dan pengetahuan. Kalau Indonesia mengenal Bhinneka Tunggal Ika, Berbeda-beda tetap satu Indonesia. Begitu juga dengan eLSA. Staff eLSA berbeda-beda budaya dan bahasa tapi tetap satu keluarga.

Baca Juga  Dua Dasawarsa Gerakan Lintas Agama: Catatan dari Kota Semarang

eLSA, menginjak usia yang ke-9 tahun 2014 ini. Doa saya, semoga eLSA tetap komitmen dalam memperjuangkan dan membela isu-isu kemanusiaan. Selalu ada untuk kaum minoritas, kaum tertindas. Harapan ini saya sampaikan dari sanubari saya, dengan ikhlas dan suci. Selamat ulang tahun yang ke-9 tahun buat eLSA. Semoga tetap jaya dan komitmen dalam pengabdiannya pada masyarakat, bangsa dan negara Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *