[Semarang–elsaonline.com] Senin (11/08/2026), ELSA menerima kunjungan dari Library of Congress untuk kantor Asia Tenggara. Nina Kania Dewi, Acquisitions Specialist of Southeast Asia Regional Office, mengunjungi kantor ELSA dan membawa puluhan buku terbitan lembaga ini untuk disimpan di perpustakaan terbesar di dunia tersebut.
Saat pertama kali berkomunikasi dengan Abdus Salam, penanggungjawab penerbitan, Nina mengaku tidak menyangka bahwa eLSA Press, lini penerbitan ELSA, juga menerbitkan buku dalam bentuk hard copy. Selama ini, ia mengira karya-karya ELSA hanya dipublikasikan secara digital saja.
Library of Congress atau Perpustakaan Kongres yang berada di Washington D.C., Amerika Serikat, merupakan salah satu perpustakaan terbesar dan terpenting di dunia. Didirikan pada tahun 1800 oleh Presiden John Adams, perpustakaan ini kini memiliki ratusan juta koleksi, termasuk buku, manuskrip, rekaman audio, dan berbagai material lainnya dari pelbagai belahan dunia.
Selain membawa buku-buku terbitan eLSA Press untuk menjadi bagian dari koleksi Library of Congress, kunjungan Nina juga diisi dengan diskusi hangat bersama Tedi Kholiludin, pimpinan Yayasan Pemberdayaan Komunitas (YPK) ELSA.
Dalam diskusi tersebut, Nina menyampaikan bahwa selain Library of Congress, setidaknya terdapat tiga lembaga lain yang melakukan kerja-kerja serupa dalam mengoleksi dan mendokumentasikan publikasi mengenai kawasan Asia Tenggara. Ketiganya adalah National Library of Australia (NLA), KITLV–Leiden University di Belanda, dan École française d’Extrême-Orient (EFEO) atau “Sekolah Prancis untuk Timur Jauh” di Perancis.
Percakapan kemudian berkembang pada persoalan penerbitan, khususnya publikasi yang dihasilkan oleh perguruan tinggi. Nina memberikan apresiasi terhadap banyaknya karya berkualitas yang lahir dari lingkungan kampus. Namun, ia juga menyampaikan catatan kritis. Menurutnya, tidak sedikit karya akademik yang dicetak dalam jumlah sangat terbatas sehingga sirkulasinya menjadi sempit. Penerbitan tersebut terkadang juga terkesan lebih diarahkan untuk memenuhi kebutuhan praktis institusi, ketimbang menjadi bagian dari upaya memperluas pengetahuan dan literasi publik.
Tedi Kholiludin mengamini pandangan tersebut. Ia juga merasakan bahwa pada sejumlah penerbit kampus masih terdapat situasi yang kurang kondusif untuk mendorong penerbitan sebagai ruang produksi dan distribusi pengetahuan yang lebih luas.
“Ini tentu menjadi persoalan yang perlu dibenahi. Buku-buku yang bagus jangan sampai hanya berhenti sebagai dokumen yang tersimpan di perpustakaan kampus atau dicetak untuk kebutuhan tertentu. Ia perlu menemukan pembacanya dan beredar lebih luas,” ujar Tedi.
Dalam konteks tersebut, ELSA berusaha mengambil bagian melalui eLSA Press. Lini penerbitan ini tidak semata-mata ditempatkan sebagai aktivitas bisnis, tetapi juga sebagai bagian dari upaya ELSA memperkuat literasi publik. Semangat tersebut membuat penerbitan tidak sepenuhnya berorientasi pada profit, melainkan juga pada bagaimana pengetahuan dan pengalaman yang dihasilkan melalui kerja-kerja ELSA dapat diakses dan dibaca oleh publik yang lebih luas.
Bagi Tedi, kesempatan karya-karya ELSA untuk menjadi bagian dari koleksi Library of Congress merupakan sebuah kebanggaan sekaligus pengingat bahwa kerja-kerja pengetahuan yang dilakukan dari Semarang dapat memiliki jangkauan yang jauh lebih luas.
“Terima kasih kepada Library of Congress, khususnya melalui kunjungan Nina Kania Dewi. Kami tentu merasa senang dan bangga karya-karya ELSA mendapatkan kesempatan untuk ‘mejeng’ di salah satu perpustakaan besar dunia, berdampingan dengan karya-karya dari berbagai belahan dunia lainnya,” kata Tedi.
Ia berharap kesempatan tersebut dapat menjadi pemantik bagi ELSA untuk terus memproduksi, menerbitkan, dan mendistribusikan pengetahuan secara lebih luas. Sebab, bagi ELSA, penerbitan bukan sekadar soal mencetak buku, tetapi juga tentang memastikan gagasan, pengalaman, dan pengetahuan dapat terus menemukan pembacanya. []

